Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYAKIT yang menular melalui vektor (vector-borne diseases) berpotensi menjadi pandemi berikutnya. Penyakit ini menyumbang lebih dari 17% dari seluruh penyakit menular dan menyebabkan lebih dari 700.000 kematian setiap tahun di dunia.
Meningkatnya urbanisasi tak terencana, mobilitas manusia yang tinggi, serta perubahan iklim menjadi faktor pendorong utama penyebaran vektor penyakit, terutama di kawasan tropis dan subtropis. Selain itu, resistensi vektor terhadap insektisida dan patogen terhadap obat turut menyulitkan pengendalian penyakit tersebut.
Hal itu menjadi pembahasan dalam webinar nasional bertajuk Update Penyakit Tular Vektor: Berpotensi Menjadi Pandemi Berikutnya yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman (PRBME), belum lama ini.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Indi Dharmayanti menegaskan perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, perdagangan global, serta lemahnya infrastruktur kesehatan menjadi pemicu meningkatnya risiko penularan.
“Faktor-faktor tersebut menciptakan peningkatan insiden dan potensi penyebaran pandemi penyakit tular vektor. Oleh karena itu, riset berkelanjutan sangat penting untuk memahami perkembangan terkini penyakit ini serta potensi ancamannya di masa depan,” kata Indi, dikutip dari keterangan resmi.
Senada dengan itu, Kepala Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN Elisabeth Farah Novita Coutrier menekankan pentingnya upaya pencegahan dan pengendalian yang berkelanjutan. Menurutnya, perubahan iklim telah menggeser pola penyebaran vektor ke wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak terdampak.
"Mobilitas penduduk, perubahan lingkungan akibat urbanisasi, serta pemanasan global memperluas distribusi nyamuk pembawa penyakit. Kondisi ini menuntut akses informasi terkini serta strategi pengendalian yang adaptif dan partisipatif,” ujar Farah.
Farah juga menekankan pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) serta edukasi berkelanjutan. “Keberhasilan pengendalian penyakit tular vektor sangat bergantung pada sinergi lintas sektor dan kesadaran masyarakat,” imbuhnya.
Sementara itu, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN Triwibowo Ambar Garjito menyampaikan bahwa arbovirus seperti dengue, chikungunya, zika, dan yellow fever menjadi perhatian global. WHO bahkan telah menerbitkan Global Arbovirus Initiative yang menyebutkan potensi besar penyakit ini menjadi pandemi global berikutnya
"Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus menjadi vektor utama. Keberadaan dan penyebarannya yang meluas menjadikan arbovirus sebagai ancaman serius,” ungkap Triwibowo.
Ia menambahkan, penguatan riset terhadap spesies nyamuk lokal di Indonesia sangat penting. “Indonesia memiliki lebih dari 900 spesies Aedes. Kita perlu surveilans dan riset intensif untuk menentukan strategi intervensi yang tepat,” tuturnya.
Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman Ismail Ekoprayitno Rozi turut memaparkan kajian tentang pengendalian vektor nyamuk di daerah endemik malaria. Menurutnya, malaria masih menjadi penyakit menular dengan jumlah kematian tertinggi di dunia. Di Indonesia kasus malaria tertinggi, terutama ada di Papua dan Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Meskipun ada kemajuan dalam penemuan dan pengobatan kasus, masih banyak infeksi malaria yang tidak terdeteksi atau tidak bergejala.
"Sebanyak 93% kasus malaria di Indonesia pada 2024 tercatat berasal dari Tanah Papua,” ungkapnya.
Ismail menekankan pentingnya survei entomologi untuk memahami perilaku dan habitat nyamuk lokal. “Surveilans berbasis data dan pendekatan berbasis bukti menjadi dasar bagi kebijakan pengendalian yang efektif dan kontekstual,” pungkasnya.(M-2)
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Meski perubahan iklim mengancam es laut, beruang kutub di Svalbard justru ditemukan lebih sehat dan gemuk. Apa rahasianya?
Di tengah krisis iklim yang kian nyata, arah kebijakan negara disebut belum beranjak dari pendekatan lama yang justru memperparah kerusakan lingkungan.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved