Jumat 09 September 2022, 17:06 WIB

Peneliti Ungkap Bukti Operasi Amputasi Tertua di Dunia Ada di Kalimantan

Devi Harahap | Weekend
Peneliti Ungkap Bukti Operasi Amputasi Tertua di Dunia Ada di Kalimantan

GRIFFITH UNIVERSITY/AFP
Para peneliti arkeolog Indonesia menemukan jejak operasi amputasi kaki melalui kerangka dari paramedis kuno di situs Liang Tebo, Kaltim.

 

Para peneliti arkeolog Indonesia menemukan jejak operasi amputasi kaki melalui kerangka dari paramedis kuno yang berusia 31.000 tahun di situs purbakala Liang Tebo, goa batu kapur di kawasan Sangkulirang Mangkalihat, Kalimantan Timur. seperti dilansir dari AFP pada Rabu (8/9).

Seperti dilansir dari AFP pada Rabu (8/9), temuan kerangka itu menunjukkan kemajuan budaya masyarakat pemburu-peramu yang mendiami kawasan tersebut sejak puluhan ribu tahun lalu. Selain memiliki pengetahuan tentang anatomi, mereka bisa melakukan operasi medis kompleks tingkat tinggi yang diperlukan dalam proses amputasi anggota badan manusia, jauh sebelum spesies kita mulai bertani dan tinggal di pemukiman secara permanen. Selain itu, mereka juga diduga telah memanfaatkan obat-obatan alami untuk menyembuhkan luka.

Temuan bukti operasi amputasi yang tertua di dunia ini diterbitkan tim arkeolog Indonesia dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), yang sekarang menjadi Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), bekerja sama dengan tim arkeolog Australia dari Griffith University, di jurnal Nature edisi 7 September 2022.

Sebelumnya, bukti tertua adanya operasi amputasi pada manusia ditemukan pada kerangka berumur 7.000 tahun dari seorang petani Zaman Batu dari Prancis yang pulih setelah lengannya dipotong. Para ahli percaya bahwa operasi semacam itu hanya muncul pada masyarakat agraris dengan sistem kehidupan yang menetap.

"Penemuan ini menulis ulang pemahaman kita tentang pengembangan pengetahuan medis," kata Tim Maloney, seorang peneliti di Universitas Griffith Australia, yang memimpin penelitian tersebut.

Temuan baru ini awalnya terungkap pada 2020 selama penggalian arkeologi di Liang Tebo, yang terkenal dengan lukisan tangan dinding yang sudah berusia 40.000 tahun.

Dikelilingi oleh kelelawar, kalajengking, dan burung walet, para ilmuwan dengan susah payah menggali dan menghilangkan sedimen untuk mengungkap asal muasal kerangka yang tertanam dengan sangat baik itu. Dalam penggalian ini, ditemukan kerangka manusia yang kehilangan bagian kaki kiri dan tungkai bawahnya.

Para peneliti mengonfirmasi adanya pertumbuhan tulang kaki yang berhubungan dengan penyembuhan. Hasil analisisnya menyimpulkan bahwa anggota badan itu telah diamputasi melalui pembedahan beberapa tahun sebelumnya ketika individu tersebut masih anak-anak.

"Hasil amputasinya ini sangat rapi, Anda benar-benar dapat melihat permukaan dan bentuk sayatan melalui tulang," kata Maloney dalam konferensi pers.

Maloney menegaskan, amputasi ini bukan disebabkan oleh praktik mutilasi ataupun serangan binatang, melainkan merupakan proses operasi untuk pengobatan. Sebuah gigi dan sedimen di sekitarnya menunjukkan kerangka itu milik seseorang yang meninggal pada usia sekitar 20 tahun.

Ditemukan bahwa tulang pipih yang sepenuhnya direnovasi telah menutupi batas inferior fibula menunjukkan bahwa individu tersebut meninggal minimal 6-9 tahun setelah trauma awal dan memastikan bahwa ini bukan infeksi yang fatal pascaoperasi besar.

Kecilnya ukuran tibia dan fibula kiri dibandingkan dengan yang kanan menunjukkan amputasi dilakukan pada masa kanak-kanak karena tulang kaki kiri tidak terus tumbuh.

Selama operasi, jaringan di sekitarnya, termasuk vena, pembuluh darah, dan saraf, diekspos dan diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan individu ini tidak hanya bertahan tetapi terus hidup dengan mobilitas yang berubah.

Menurut Maloney, temuan ini merupakan kejutan besar karena pemburu-peramu kuno ini selamat dari operasi yang sangat serius yang dapat mengancam keselamatannya, bahkan bekas lukanya pun telah tertutup dengan baik.

"Itu menunjukkan bahwa pengetahuan rinci tentang anatomi tungkai dan sistem otot dan pembuluh darah," tulis tim peneliti dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada Rabu (8/9) di jurnal Nature.

"Perawatan dan perawatan intensif pasca perasi akan sangat penting, lukanya akan dibersihkan, dibalut, dan didesinfeksi secara teratur."

Kelompok masyarakat ini telah tinggal selama bertahun-tahun di daerah pegunungan dengan mobilitas yang berubah dan bukti amputasi ini menunjukkan tingginya derajat kepedulian masyarakat.

Titik Utama Evolusi Manusia

Sebelumnya, penelitian arkeologi di wilayah Eurasia dan Amerika telah menemukan tulang manusia yang menunjukkan tanda-tanda adanya operasi amputasi pada zaman prasejarah, termasuk lubang yang dibor di bagian tengkorak (trepanasi).

Sebelumnya bukti tertua adanya operasi amputasi pada manusia ditemukan pada kerangka berumur 7.000 tahun dari seorang petani Zaman Batu dari Prancis yang pulih setelah lengannya dipotong

Para ahli sebelumnya berasumsi bahwa manusia tidak memiliki keahlian dan teknologi untuk melakukan prosedur yang sulit seperti operasi amputasi, setidaknya hingga puluhan ribu tahun kemudian, atau setelah munculnya komunitas pertanian dan perdesaan yang mengubah tatanan kehidupan dalam 10.000 tahun terakhir. Namun, temuan ini telah memberikan perspektif baru.

”Pergeseran dari pola berburu dan mengumpulkan makanan ke bertani di akhir zaman es diperkirakan memunculkan masalah kesehatan yang sebelumnya tidak diketahui yang kemudian mendorong kemajuan teknologi medis, mungkin termasuk berbagai bentuk ’operasi’ zaman batu ini,” kata Maloney.

Temuan di Kalimantan ini menunjukkan bahwa pemburu-pengumpul juga bisa menavigasi tantangan operasi, dan melakukannya setidaknya 24.000 tahun lebih awal dari yang diperkirakan.

Dari semua yang terungkap dari kerangka itu, masih banyak pertanyaan yang tersisa: bagaimana dan mengapa amputasi dilakukan? Apa yang digunakan untuk mencegah nyeri atau infeksi? Apakah operasi ini jarang terjadi atau lebih umum dilakukan?

Tim berspekulasi bahwa seorang ahli bedah mungkin telah menggunakan pisau litik, dipangkas dari batu, dan para masyarakat itu dapat mengakses tanaman hutan hujan dengan khasiat obat untuk proses penyembuhan.

"Studi ini memberi kita pandangan tentang implementasi perawatan dan pengobatan di masa lalu," tulis Charlotte Ann Roberts, seorang arkeolog di Universitas Durham, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

"Ini menantang persepsi yang menyatakan bahwa penyediaan perawatan medis bukan lah pertimbangan di zaman prasejarah, nyatanya itu sudah berlangsung," tulisnya dalam ulasan di Nature.

Penggalian lebih lanjut diharapkan bisa dilaksanakan tahun depan di situs yang sama yakni Liang Tebo, dengan harapan para peneliti dapat mempelajari lebih banyak tentang orang-orang yang tinggal di sana.

"Ini benar-benar hotspot evolusi manusia dan arkeologi," kata Renaud Joannes-Boyau, seorang profesor di Southern Cross University yang membantu penanggalan kerangka tersebut.

"Tentu saja semakin hangat untuk dibicarakan dan kondisinya benar-benar selaras untuk mencari lebih banyak penemuan yang menakjubkan di masa depan." (M-4)

 

Baca Juga

Dok: Nazilla Nur/PR IPM SMAMIV

Muharram Independence Pembangkit Semangat Siswa

👤Aqila As Sahwa - SMA Muhammadiyah 4 Surabaya 🕔Kamis 29 September 2022, 17:00 WIB
Pengadaan kegiatan Muharram Independence ini dapat mengobati kerinduan siswa-siswi terhadap lomba tujuhbelasan yang digelar secara offline...
Dok. Gheisa

Geisha Rilis Single Sabar

👤Fathurrozak 🕔Kamis 29 September 2022, 16:55 WIB
Lagu Sabar mengisahkan tentang perempuan yang menyukai laki-laki namun hanya sebatas melalui tatapan...
Dok. Pribadi

Partisipasi SMK Muhammadiyah Salaman Peringati HUT RI

👤Alba Yoga Purnama - SMK Muhammadiyah Salaman, Magelang 🕔Kamis 29 September 2022, 13:00 WIB
Kegiatan untuk memeperingati ulang tahun Hari Kemerdekaan RI ini ternyata memberikan banyak dampak positif bagi para...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya