Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional mengumumkan kabar kabar mengenai jumlah karbon dioksida di atmosfer bumi sekarang ini 50% lebih tinggi dan berada pada tingkat yang tidak terlihat sejak jutaan tahun lalu.
“Karbon dioksida berada pada tingkat yang belum pernah dialami spesies kita sebelumnya,” kata ilmuwan senior di Laboratorium Pemantauan Global Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional NOAA, Pieter Tans seperti dikutip dari USAToday.com pada Senin (6/6).
Pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas melepaskan gas "rumah kaca" seperti karbon dioksida dan metana ke atmosfer bumi dan lautan. Emisi telah menyebabkan suhu planet naik ke tingkat yang tidak dapat dijelaskan oleh faktor alam.
“Hanya dalam 20 tahun terakhir, suhu dunia telah meningkat sekitar dua pertiga derajat Fahrenheit,” katanya.
Sementara itu, ilmuwan NOAA lainnya mengatakan kenaikan suhu ini telah melepaskan berbagai dampak cuaca, termasuk fenomena panas ekstrem, kekeringan dan aktivitas kebakaran hutan, serta curah hujan yang lebih tinggi, banjir, dan aktivitas badai tropis.
“Tanpa pengurangan polusi karbon kita akan melihat tingkat perubahan iklim yang lebih merusak, lebih banyak gelombang panas, lebih banyak banjir, lebih banyak kekeringan, lebih banyak badai besar, dan permukaan laut lebih tinggi.” kataiIlmuwan iklim Universitas Illinois, Donald Wuebles.
Tingkat karbon dioksida terus meningkat, ketika kita berusaha menurunkannya. Tingkat karbon dioksida tahun ini hampir 1,9 bagian per juta lebih dari setahun yang lalu, ini menjadi lonjakan yang cukup besar dari Mei 2020 hingga Mei 2021.
Sebelum Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida secara konsisten sekitar 280 ppm selama hampir 6.000 tahun peradaban manusia. Sejak itu, manusia telah menghasilkan sekitar 1,5 triliun ton polusi karbon dioksida,yang sebagian besar akan terus menghangatkan atmosfer selama ribuan tahun.
Meskipun kondisi pandemi bisa mengurangi emisi karbon global pada tahun 2020, hal itu kembali meningkat pada tahun 2021. "Penggunaan bahan bakar fosil mungkin tidak lagi mengalami akselerasi, tetapi kami masih berusaha untuk menekan bencana global,” kata ahli geokimia, Ralph Keeling dari Scripps Institution of Oceanography. (M-4)
Penelitian terbaru Universitas Alaska Fairbanks mengungkap hilangnya es pesisir (landfast ice) di Laut Beaufort dan Chukchi yang kini mencair lebih cepat.
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti Cornell University merilis peta global yang mengungkap 70% emisi lahan pertanian berasal dari sawah padi dan pengeringan lahan gambut.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Studi terbaru mengungkap mikroplastik di sungai dan pesisir membawa biofilm berbahaya yang memicu resistensi antibiotik.
Setiap prosedur hemodialisis untuk mengatasi gagal ginjal membutuhkan infrastruktur, energi listrik, dan air dalam jumlah besar.
KECINTAAN Justisia Dewi pada jam tangan, dan kepeduliannya terhadap lingkungan menjadi salah satu sumber inspirasi usahanya. Ia menghadirkan Ma.ja Watch pada tahun 2021
PTPN IV PalmCo memperkuat mitigasi Karhutla 2026 melalui kolaborasi dengan TNI-Polri dan pemantauan digital berbasis AI ARFINA.
Robot bawah laut otonom Mako diuji di Great Barrier Reef untuk menanam benih lamun secara presisi. Teknologi ini diklaim mampu mempercepat restorasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved