Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
Badan Antariksa Amerika (NASA) telah merancang sebuah tas yang memungkinkan para astronautnya mengirim informasi mengenai peta permukaan bulan yang sangat detail dan belum pernah terjadi sebelumnya. Tas ini disebut Kinematic Navigation and Cartography Knapsack (disingkat KNaCK).
Dilansir dari Sciencealert, Jum’at (22/4), tas itu dilengkapi dengan pemindai LIDAR portabel yang terus-menerus memindai tanah saat pemakainya berjalan dan dapat mengumpulkan informasi rinci tentang topologi permukaan di sekitarnya.
“Pada dasarnya, sensor adalah alat survei untuk navigasi dan pemetaan sains, mampu membuat peta 3D beresolusi sangat tinggi pada tingkat presisi sentimeter dan memberi mereka konteks ilmiah yang kaya,” kata ilmuwan planet Michael Zanetti dari Marshall Space Flight NASA.
Michael juga menjelaskan bahwa sensor ini akan membantu dalam memastikan keselamatan astronot dan kendaraan rover di lingkungan bulan yang ditolak GPS, selain itu sistem ini juga bisa mengidentifikasi jarak sebenarnya ke landmark yang jauh dan menunjukkan kepada penjelajah secara real time seberapa jauh mereka telah datang dan seberapa jauh yang tersisa untuk dicapai.
Sistem ini menggunakan teknologi yang disebut Frequency-Modulated Continuous Wave (FMCW) LIDAR. Seperti namanya, alat ini mengirimkan sinar laser terus menerus dengan frekuensi termodulasi.
Ketika cahaya ini dipantulkan dari permukaan maka frekuensinya berubah. Ketika frekuensi cahaya yang diubah ini kembali ke detektor LIDAR, akan dibandingkan dengan cahaya yang dipancarkan. Perbedaan antara keduanya sebanding dengan jarak ke permukaan, dan proses ini menghasilkan peta topografi yang terperinci.
Tas KnaCK ini dapat membuatnya efisien dan efektif seperti yang dinginkan para astronaut di bulan.
KNaCK juga mampu mengumpulkan jutaan titik pengukuran per detik, dan bahkan bekerja dalam kegelapan, untuk menghasilkan sistem navigasi waktu nyata yang dapat membantu astronaut yang mencoba menavigasi lingkungan asing yang tidak bersahabat.
“Sebagai manusia, kita cenderung mengorientasikan diri kita berdasarkan landmark atau bangunan tertentu dan rerimbunan pohon, namun hal-hal itu tidak ada di Bulan. Maka KNaCK akan terus memungkinkan penjelajah melintasi permukaan untuk menentukan pergerakan, arah, dan orientasi mereka ke puncak yang jauh atau ke basis operasi mereka, bahkan dapat menandai situs tertentu di mana mereka menemukan beberapa mineral unik atau formasi batuan, sehingga yang lain dapat dengan mudah kembali untuk studi lebih lanjut,” jelasnya.
NASA bermitra dengan Torch Technologies Inc. untuk mengembangkan ransel dan Aeva Inc. untuk memasok sensor LIDAR. NASA memiliki sedikit pekerjaan untuk mengembangkan prototipe lebih lanjut..
Pada November 2021, perangkat itu digunakan untuk memetakan kawah gunung berapi, dan juga telah digunakan untuk melakukan rekonstruksi 3D bukit pasir penghalang laut di NASA's Kennedy Space Center di Florida.
Ilmuwan NASA akan terus menggunakan KNaCK untuk menilai dampak erosi badai di bukit pasir, yang saat ini melindungi landasan peluncuran roket utama NASA. KNaCK juga akan menjalani uji lapangan utama di Institut Virtual Penelitian Eksplorasi Tata Surya NASA di New Mexico.
Saat ini KNaCk berukuran ransel dan beratnya sekitar 18 kilogram (40 pon). Teknologi ini juga membutuhkan beberapa pemeriksaan untuk melindunginya dari radiasi matahari yang keras dan gravitasi yang lebih rendah di Bulan.
“Mengambil keuntungan dari kemajuan terbaru dalam teknologi LIDAR dari Aeva, unit pengeras ruangan generasi berikutnya dengan dukungan dari Torch Technologies akan seukuran kaleng soda dan dapat memungkinkan operasi permukaan bulan tidak seperti sebelumnya,” kata Zanetti.(M-4)
Melalui Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), para ilmuwan menemukan bahwa planet raksasa gas ternyata memiliki kapasitas pertumbuhan yang jauh melampaui teori-teori sebelumnya.
Analisis terbaru data Voyager 2 mengungkap mengapa sabuk radiasi Uranus sangat kuat. Ternyata, ada peristiwa cuaca antariksa langka saat misi berlangsung.
Ilmuwan temukan cara melacak jalur jatuh sampah antariksa menggunakan sensor seismik monitor gempa. Metode ini diklaim lebih akurat dibanding radar tradisional.
Peneliti berhasil mengidentifikasi struktur mirip terowongan vulkanik di bawah permukaan Venus melalui data radar NASA. Apakah planet ini masih aktif secara geologi?
Elon Musk mengumumkan SpaceX beralih fokus ke Bulan sebelum Mars. Targetkan kota mandiri dalam 10 tahun demi selamatkan peradaban manusia.
SEBUAH kerja sama ilmiah antara Korea Selatan dan Amerika Serikat berhasil mencatat terobosan penting di bidang astronomi melalui teleskop luar angkasa SPHEREx.
Sebuah penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal ilmiah dan dilansir oleh laman PsyPost mengungkap bahwa misi luar angkasa tidak hanya berdampak pada otot dan tulang manusia
Masalah kesehatan itu terungkap ketika NASA menunda rencana spacewalk yang tadinya akan dilakukan oleh Cardman dan Fincke karena adanya kekhawatiran medis.
Astronaut Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) mengabadikan fenomena langka lunar halo di atas Samudra Hindia. Cincin cahaya di sekitar Bulan ini terlihat lebih jelas dari orbit Bumi.
Melalui proyek baru yang diberi nama HOBI-WAN, ESA tengah menguji kemungkinan memanfaatkan senyawa yang terdapat dalam urine sebagai bahan dasar pembuatan protein untuk pangan antariksa.
Peneliti NASA dan ESA memetakan bagaimana ruang angkasa memengaruhi sistem imun manusia.
Astronaut NASA Suni Williams dan Nick Hague berhasil menyelesaikan misi luar angkasa yang kompleks dan bersejarah pada 16 Januari 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved