Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
Negara-negara di dunia berkomitmen untuk melakukan aksi nyata demi menekan peningkatan suhu global. Ditargetkan peningkatan suhu global tak mencapai 1,5 derajat celcius di 2030 mendatang.
Meski tak sedikit yang optimis, angka tersebut dinilai terlalu ambisius. Target tersebut dinilai sulit dicapai mengingat saat ini mobilitas serta aktivitas manusia juga semakin tinggi dan cepat.
"Meski mengecewakan tapi saya rasa target 1,5 derajat itu tak akan tercapai. Mungkin kalau 2 derajat masih akan bisa dikejar," ujar Ahli Ekologi dan Biologi Kelautan, Universitas California, AS, Profesor Ben Halpern, ketika diwawancara Media Indonesia via zoom yang difasilitasi Kedubes AS, di Jakarta, Kamis, (21/4).
Halpern mengatakan, untuk mencapai angka dua derajat saja ketercapaiannya masih akan sangat sulit. Dibutuhkan usaha keras semua negara di dunia dan juga masyarakat global secara masif.
Jika melihat kondisi kerusaka lingkungan di berbagai wilayah saat ini, Halpern mengatakan sangat sulit untuk bisa mencapai target konservasi secara signifikan hingga 2030 mendatang. Sementara konservasi di berbagai lini perannya sangat penting untuk menekan peningkatan suhu bumi dan laju perubahan iklim.
"Jadi sekali lagi 1,5 derajat cenderung mustahil. Meski begitu bukan berarti semua upaya yang dilakukan selama ini jadi sia-sia," ujarnya.
Ia mengatakan, meski belum berdampak besar setiap upaya menekan dampak perubahan iklim dan penyelamatan lingkungan tetap perlu dilakukan. Dengan begitu dampak buruknya bisa ditekan dalam jangka panjang.
"Jadi meski mungkin target-target di 2030 sulit tercapai, upaya-upaya konkret yang dilakukan akan menjadi penyelamat dari potensi kerusakan lingkungan yang lebih parah dalam jangka panjang," tuturnya.(M-4)
Di tengah krisis iklim yang kian nyata, arah kebijakan negara disebut belum beranjak dari pendekatan lama yang justru memperparah kerusakan lingkungan.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi cincin pohon pinus di Spanyol mengungkap anomali cuaca paling ekstrem sejak 1500-an. Ketidakstabilan curah hujan kini mencapai titik kritis.
Gelombang panas ekstrem melanda tenggara Australia. Enam kebakaran besar berkobar di Victoria, suhu tembus 48,9 derajat Celcius.
Ilmuwan temukan fenomena Marine Darkwaves, yakni kegelapan mendadak di dasar laut yang merusak ekosistem kelp dan terumbu karang.
Peneliti ungkap bagaimana kombinasi panas, garam, dan plastik merusak kesehatan tanah kota. Temukan mengapa satu faktor stres bisa mengubah segalanya.
Pemerintah mencabut izin 28 perusahaan kehutanan dan non-kehutanan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terkait pelanggaran hukum dan kerusakan lingkungan.
Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, menegaskan bahwa manusia memiliki kewajiban moral tanpa batas untuk menjaga kelestarian alam
Muslimat NU dan Kementerian Lingkungan Hidup RI menandatangani MoU untuk memperkuat gerakan pelestarian lingkungan berbasis masyarakat melalui program Mustika Darling.
Kementerian LH memberikan tenggat waktu selama enam bulan bagi seluruh pengelola rest area di jalur tol untuk segera menyediakan unit pengolahan sampah mandiri yang mumpuni.
Seorang guru, Beryl Hamdi Rayhan, mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) untuk mendorong pendidikan lingkungan hidup menjadi mata pelajaran wajib dalam kurikulum nasional.
Penghijauan wilayah pesisir menjadi langkah penting untuk menahan laju abrasi, memperkuat ekosistem pesisir, dan melindungi masyarakat dari dampak perubahan iklim.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved