Selasa 29 Maret 2022, 09:57 WIB

Ada Tiga Ekspresi Kemarahan, Yang Mana Anda?

Fathurrozak | Weekend
Ada Tiga Ekspresi Kemarahan, Yang Mana Anda?

AFP
Chris Rock (kiri) dan Will Smith (kanan) pascainsiden penempelengan di panggung live Oscar 2022.

 

Lawakan Chris Rock yang menggunakan nama Jada Pinkett-Smith sebagai objek lawakannya, terkait penampilan rambut dan G.I. Jane, membuat Will Smith, suami Pinkett naik pitam. Ia pun meluapkan amarahnya secara langsung dengan menampar Rock di atas panggung saat acara berlangsung live.

Sebenarnya, selain Chris Rock dan lawakannya, ada beberapa peristiwa di Oscar kemarin yang cukup bisa memicu amarah. Contohnya guyonan sang host Amy Schumer yang menyebut Kirsten Dunst, nomine pemeran perempuan pendukung terbaik sebagai seat filler, saat Schumer menyerobot kursi Dunst di samping suaminya, Jesse Plemons, yang juga masuk nominasi pemeran laki-laki pendukung.

Namun, bagaimana sebenarnya kita bisa mengendalikan amarah kita saat ada yang memicunya? Menurut psikiater Elisa Tandiono, emosi marah menjadi fungsi untuk bertahan hidup. Marah adalah salah satu emosi mendasar manusia yang wajar.

“​Dilihat dari sejarah perkembangan manusia, marah merupakan bagian dari evolusi. Marah bisa dibilang termasuk dari reaksi bertarung atau lari (fight or flight reaction). Untuk bertahan hidup, saat itu manusia memerlukan rasa marah. Apabila bertemu dengan musuh baik binatang buas ataupun diserang oleh kelompok manusia lain, rasa marah akan membuat manusia lebih siaga dan tanggap menyelamatkan hidupnya. Oleh karena itu sampai sekarang kita bisa merasakan perubahan biologis dan fisiologis dalam tubuh kita saat kita marah seperti suhu badan meningkat, muka terasa panas, kontraksi otot, peningkatan gula darah dan hormon adrenalin maupun noradrenalin yang membuat kita merasa berenergi dan siap bertarung,” kata Elisa kepada Media Indonesia, Selasa (29/3).

Namun, jika rasa marah berlanjut atau terus menerus muncul, menurut Elisa hal itu akan mengganggu sistem imun, pencernaan dan gangguan saraf pusat. Hal ini bisa menyebabkan risiko hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke, ulkus lambung, penyakit usus besar hingga meningkatkan risiko kanker.

Elisa menjelaskan ada tiga tipe ekspresi kemarahan. Pertama adalah agresi terbuka. Hal ini dilakukan saat orang mengeluarkan rasa marah dalam bentuk ledakan kemarahan, murka dan menyerang orang lain secara verbal maupun fisik.  

“Agresi kadang kala tidak hanya melukai orang lain tapi juga dalam bentuk melukai diri sendiri, misalnya meninju cermin, menabrakkan mobil dan sebagainya. Agresi terbuka yang paling sering menjadi pusat perhatian akibat kerusakan langsung yang terlihat seperti dijauhi oleh lingkungan maupun berurusan dengan hukum,” contoh Elisa.

Kedua adalah tipe pasif agresif. Orang yang marah secara pasif agresif sering kali tidak secara terbuka mengakui dirinya marah. Meskipun tidak terbatas pada gender, menurut dokter spesialis kedokteran jiwa di RS PIK Jakarta itu, perempuan lebih sering mengekspresikan amarah dalam bentuk ini.

“Selain ada kemungkinan tidak menyukai konfrontasi, perempuan dituntut untuk sabar dan tidak marah-marah. Maka rasa marah akan keluar dalam bentuk seperti ini. Contohnya adalah diam tidak mau berbicara  (silent treatment) kepada suami karena sedang marah, sengaja menunda atau mengerjakan tugas secara asal-asalan karena marah pada atasan. Meskipun tidak kentara kerusakan yang disebabkan tipe ini dibandingkan dengan agresi terbuka, tetap saja marah dalam bentuk pasif agresif bukan merupakan bentuk yang sehat dan dapat merusak hubungan.”

Ketiga adalah tipe marah asertif. Menurut Elisa, cara ini adalah yang paling sehat untuk menyalurkan rasa marah. Dengan memiliki rasa percaya diri, kontrol diri dan sanggup mendengarkan.

“Berbicara mengenai hal yang mencetuskan rasa marah dan yang paling penting adalah memiliki hati yang terbuka untuk mendapat bantuan dalam menghadapi situasi tersebut. Marah asertif bahkan membuat suatu hubungan tumbuh dengan sehat. Saat menyampaikan perasaan, usahakan untuk tetap fleksibel dan berpikiran terbuka untuk memandang dari pihak lain dan mencoba memahami perasaan pihak tersebut.”

“Pikirkan hal yang ingin dikatakan terlebih dahulu dan percaya diri saat mengatakannya. Usahakan berbicara pelan dengan nada rendah tanpa teriakan sehingga orang lain tidak merasa terancam dan menjadi defensif. Dengan melakukan marah secara asertif kita menunjukkan kedewasaan kita dan kita peduli akan hubungan kita dengan orang tersebut,” sambungnya.

Elisa melanjutkan, yang perlu diingat adalah bukan mengumbar kemarahan tapi mengekspresikan kemarahan dalam bentuk konstruktif untuk menyelesaikan masalah, untuk mengoreksi yang salah dan untuk membuat hal tersebut tidak terjadi lagi dan mendapat solusi terbaik dari masalah. Banyak orang mengira kemarahan adalah untuk menghukum, untuk memaksa pihak lain mengaku salah.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap bisa mendapat hasil yang sama dengan mengontrol rasa marah kita secara sadar. Maka ingatlah untuk marah dengan elegan!”

Memang sebagian orang menyadari dirinya memiliki masalah dalam mengontrol dan mengekspresikan kemarahan. Menurut Elisa, hal ini juga dipengaruhi oleh beberapa kondisi tertentu. Ada beberapa kondisi gangguan mental seperti gangguan depresi, gangguan bipolar, gangguan perilaku menentang pada anak dan remaja, dan gangguan stres pasca-trauma.

“Kalau anda merasakan kesulitan mengontrol rasa marah meskipun sudah mencoba semaksimal mungkin, ada baiknya anda berkonsultasi pada tenaga kesehatan jiwa agar mendapat bantuan profesional secepatnya.” (M-2)

Baca Juga

123RF

Alasan di Balik Pentingnya Membersihkan Spons Rias Anda

👤Nike Amelia Sari 🕔Senin 27 Juni 2022, 22:46 WIB
Seberapa sering Anda mencuci spons rias...
Dok. EoS

Ini Para Pemenang Pendanaan Film Pendek Europe on Screen 2022

👤Fathurrozak 🕔Senin 27 Juni 2022, 15:20 WIB
Tiga karya Indonesia memenangkan proyek pitching Europe on Screen...
Tolga Akmen / AFP

Diragukan Keasliannya, Seluruh Lukisan Karya Basquiat di Museum Seni Orlando Disita Polisi

👤Devi Harahap 🕔Senin 27 Juni 2022, 08:03 WIB
Menurut seorang desainer yang bekerja untuk Federal Express, instruksi tersebut menggunakan jenis huruf yang tidak digunakan sampai tahun...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya