Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Fenomena "Otak Tertidur", Mengapa Pengidap ADHD Sulit Menjaga Fokus?

Thalatie K Yani
18/3/2026 08:32
Fenomena
Ilustrasi(freepik)

SEBUAH penelitian terbaru mengungkapkan pola otak mengejutkan yang dapat menjelaskan mengapa individu dengan Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) sering kali kesulitan untuk tetap fokus. Riset menunjukkan otak mereka dapat tergelincir ke dalam episode singkat aktivitas "mirip tidur" ( sleep-like activity ), bahkan saat mereka sedang terjaga dan melakukan tugas yang menuntut konsentrasi.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal JNeurosci ini mengeksplorasi bagaimana ledakan singkat aktivitas otak yang menyerupai fase tidur memengaruhi kemampuan seseorang untuk tetap waspada. Elaine Pinggal dari Monash University beserta timnya menyelidiki apakah fenomena ini menjadi kunci di balik tantangan atensi, khususnya pada orang dewasa dengan ADHD.

Eksperimen Aktivitas Otak

Untuk membuktikannya, para peneliti mengukur aktivitas otak pada 32 orang dewasa dengan ADHD yang telah berhenti mengonsumsi obat, lalu membandingkannya dengan 31 orang dewasa neurotipikal (tanpa ADHD). Seluruh partisipan diminta menyelesaikan tugas yang membutuhkan perhatian berkelanjutan.

Hasilnya menunjukkan individu dengan ADHD mengalami episode aktivitas "mirip tidur" yang jauh lebih sering. Momen-momen ini berkorelasi langsung dengan seringnya terjadi penurunan atensi, peningkatan kesalahan saat mengerjakan tugas, waktu reaksi yang lebih lambat, hingga rasa kantuk yang lebih besar.

Mekanisme Kelelahan Otak

Pinggal menjelaskan pergeseran singkat dalam aktivitas otak ini sebenarnya adalah hal yang wajar, terutama saat menghadapi tugas yang menguras mental. Ia memberikan perumpamaan seperti seseorang yang berlari jarak jauh.

"Aktivitas otak mirip tidur adalah fenomena normal yang terjadi selama tugas-tugas yang menuntut. Bayangkan seperti pergi lari jarak jauh dan merasa lelah setelah beberapa saat, yang membuat Anda berhenti sejenak untuk beristirahat. Setiap orang mengalami momen singkat aktivitas mirip tidur ini," ujar Pinggal.

Namun, ia menekankan perbedaan mendasar pada kondisi ADHD.

"Pada orang dengan ADHD, aktivitas ini terjadi lebih sering, dan penelitian kami menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas mirip tidur ini mungkin merupakan mekanisme otak utama yang membantu menjelaskan mengapa individu-individu tersebut lebih sulit mempertahankan perhatian dan kinerja yang konsisten selama mengerjakan tugas."

Harapan Terapi di Masa Depan

Temuan ini membuka pintu bagi metode pengobatan baru. Penelitian sebelumnya pada individu neurotipikal menunjukkan stimulasi suara (auditori) selama tidur dapat meningkatkan aktivitas gelombang lambat, yang pada gilirannya mengurangi aktivitas "mirip tidur" di siang hari saat terjaga.

Langkah selanjutnya bagi tim peneliti adalah menguji apakah metode stimulasi auditori yang sama dapat mengurangi aktivitas otak serupa pada siang hari bagi pengidap ADHD. Jika efektif, hal ini dapat menjadi terobosan baru untuk meningkatkan atensi dan performa kerja tanpa bergantung sepenuhnya pada metode pengobatan konvensional. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik