Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
Sebuah penelitian komprehensif baru-baru ini mengungkapkan suhu panas ekstrem telah meningkatkan jumlah orang yang menderita kesehatan mental. Analisis catatan medis dari jutaan warga AS menunjukkan peningkatan rata-rata 8% dalam tingkat kunjungan rumah sakit darurat pada hari-hari ketika suhu berada di atas 5% dari yang tercatat di seluruh studi selama satu dekade.
Efeknya terlihat pada hampir semua kondisi kesehatan mental, termasuk stres, gangguan mood dan kecemasan, skizofrenia, melukai diri sendiri, dan gangguan penggunaan zat adiktif. Frekuensi suhu ekstrem ini didorong oleh krisis iklim. Para peneliti mengatakan studi mereka dapat membantu layanan kesehatan mental, memprediksi dan mempersiapkan saat-saat yang lebih dibutuhkan.
“Orang-orang akrab dengan risiko panas ekstrem dalam hal dehidrasi, sengatan panas, dan sebagainya,” kata Prof Gregory Wellenius, di fakultas kesehatan masyarakat Universitas Boston di AS dan penulis senior penelitian tersebut seperti dikutip The Guardian, Kamis (24/2)
“Yang benar-benar baru adalah bahwa penelitian ini menetapkan pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya bahwa hari-hari yang sangat panas juga dapat berdampak pada kesehatan mental orang secara substansial. Dan ini ada di setiap kelompok usia, baik pria maupun wanita, dan di setiap wilayah negara. Semua orang dalam bahaya.”
Database medis yang digunakan untuk analisis ini tidak termasuk orang tanpa asuransi kesehatan. Artinya, kemungkinan dampaknya bisa lebih besar lagi lantaran banyak dari mereka yang tidak pergi atau mendatangi rumah sakit.
“Kami memperkirakan [kenaikan risiko 8%] adalah perkiraan yang terlalu rendah dari beban penyakit yang sebenarnya terkait dengan panas yang ekstrem, karena individu yang paling rentan cenderung tidak ada dalam database ini dan, sejujurnya, lebih kecil kemungkinannya untuk dirawat di tempat yang sama,” kata Wellenius.
“Kunjungan darurat ke rumah sakit adalah presentasi gangguan kesehatan mental yang paling parah. Bahkan peningkatan kecil dalam jumlah kunjungan gawat darurat merupakan beban besar bagi individu dan juga sistem kesehatan,”kata Prof Amruta Nori-Sarma, juga dari Universitas Boston dan penulis pertama studi tersebut.
Studi menunjukkan peningkatan terbesar dalam tingkat kunjungan darurat di utara AS, naik menjadi 12% di wilayah barat laut. Itu mungkin tampak berlawanan dengan intuisi, kata Nori-Sarma, karena suhu di AS selatan lebih panas: “Tapi kita melihat yang sebaliknya.”
Alasannya mungkin karena mereka yang tinggal di tempat yang lebih panas sudah beradaptasi dengan lebih baik, dengan lebih banyak akses ke AC, misalnya. “Temuan ini penting dari perspektif kerentanan di masa depan, karena kita dapat memperkirakan bahwa populasi yang tidak memiliki kapasitas adaptif itu mungkin lebih tertekan selama masa panas yang ekstrem,” katanya.
Menurut sebuah laporan pada Mei 2021, krisis iklim menimbulkan biaya tersembunyi yang sangat besar pada kesehatan mental orang-orang di seluruh dunia, seperti gelombang panas yang meningkatkan tingkat bunuh diri, banjir yang membuat korban trauma, dan hilangnya ketahanan pangan, rumah, dan mata pencaharian yang menyebabkan stres dan depresi (lihat grafis).
Penelitian terbaru, yang diterbitkan dalam jurnal Jama Psychiatry, memeriksa data anonim pada 3,5 juta kunjungan rumah sakit darurat untuk gangguan kesehatan mental yang dilakukan oleh 2,2 juta orang dari 2010-2019. Studi ini berfokus pada bulan-bulan terpanas, Mei hingga September, dan mencakup 2.775 distrik, yang merupakan 98% dari warga AS. Para peneliti mengungkapkan, tujuh tahun terpanas yang tercatat di AS telah terjadi sejak 2014.
“Semakin jelas bahwa perubahan iklim mengancam tubuh dan pikiran kita,” kata Dr Emma Lawrance dari Imperial College London, Inggris, dan bukan bagian dari penelitian. “Meskipun efeknya relatif kecil, itu memiliki implikasi besar bagi kesehatan masyarakat dan sistem perawatan kesehatan karena perubahan iklim meningkatkan jumlah hari panas yang ekstrem; anak-anak yang lahir hari ini akan mengalami gelombang panas tujuh kali lebih banyak daripada kakek-nenek mereka.” (M-4)
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti Cornell University merilis peta global yang mengungkap 70% emisi lahan pertanian berasal dari sawah padi dan pengeringan lahan gambut.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
BMKG menyebut cuaca hari ini, Rabu, 25 Maret 2026 dan beberapa hari ke depan di sejumlah wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami peningkatan intensitas.
"Perubahan cuaca yang cepat juga perlu menjadi perhatian dalam merencanakan perjalanan darat, laut, dan udara, termasuk aktivitas luar ruang seperti ibadah dan wisata."
IDAI peringatkan risiko KLB Campak saat mudik 2026. Simak tips dr. Piprim Basarah agar anak tetap sehat dan daftar obat wajib di kotak P3K.
Hadapi cuaca panas ekstrem di Jakarta, Pemprov DKI imbau warga lakukan langkah pencegahan. Simak panduan kesehatan dan instruksi Gubernur Pramono Anung di sini.
Cuaca ekstrem di Jawa Tengah sudah mulai mereda pada Rabu (18/3), namun di banyak daerah masih berpeluang diguyur hujan ringan-sedang terutama di jalur mudik.
Libur Lebaran, DPRD DIY Ingatkan Kewaspadaan terhadap Potensi Cuaca Ekstrem
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved