Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Masalahnya, benarkah masalah kelebihan lemak itu dapat diatasi hanya dengan memperbaiki kualitas tidur seseorang?
Baca juga: Hindari Makanan dan Minuman ini Saat Menginjak Usia Kepala Lima
Berangkat dari pernyataan itu, Tasali dan timnya lantas mencoba melakukan uji klinis pada 80 individu dengan rentang usia 21 hingga 40 tahun. Uji klinis dilakukan mulai 1 November 2014 hingga 30 Oktober 2020, yang kemudian hasilnya dipublikasikan secara daring melalui jurnal JAMA Internal Medicine, pekan lalu.
"Indeks massa tubuh (responden -red) sekitar 25,0 hingga 29,9, dan memiliki kebiasaan tidur kurang dari 6,5 jam per malam. Setelah sesi konseling, mereka kemudian meningkatkan durasi tidurnya rata-rata 1,2 jam per malam," kata Tasali, seperti dilansir dari Sci News, Rabu, (16/2).
Dari peningkatan durasi tidur itu, Tasali mengatakan, rata-rata peserta tiap harinya dapat mengurangi asupan sekitar 270 kkal (kilo kalori). Jika kebiasaan itu dipertahankan setidaknya dalam tiga tahun, kata dia, penurunan berat badan yang didapat oleh masing-masing individu bisa mencapai kurang lebih 12 kg.
Baca juga: Ini Penyebab Berat Badan Naik Cepat Usai Lebaran
“Meskipun penelitian ini secara sistematis tidak meninjau faktor lain yang mungkin turut memengaruhi kebiasaan tidur, akan tetapi pembatasan penggunaan perangkat elektronik sebelum tidur juga menjadi sebagai salah satu intervensi utamanya,” imbuh Tasali.
Tasali berharap hasil penelitian ini dapat memantik studi baru di masa depan. Ia juga menyarankan agar para peneliti nantinya dapat meninjau hubungan antara penurunan berat badan dan rata-rata durasi tidur yang lebih lama.
“Sekarang kami telah menunjukkan bahwa dalam kehidupan nyata, Anda dapat memperbaiki kualitas tidur dan makan lebih sedikit kalori tanpa banyak mengubah gaya hidup lainnya. Ini benar-benar dapat membantu orang yang mulai mencoba menurunkan berat badan," pungkasnya. (M-4)
Seorang pria paruh baya mengalami pembesaran perut yang tidak wajar selama bertahun-tahun. Awalnya, ia mengira kondisi tersebut hanyalah akibat kenaikan berat badan atau obesitas biasa
Program ini dirancang sebagai layanan berbasis medis yang aman. Melalui skrining ketat, penentuan dosis personal, hingga pendampingan ahli gizi.
Data kesehatan terbaru menunjukkan 1 dari 4 orang dewasa di Indonesia hidup dengan kondisi obesitas atau kelebihan lemak perut.
Studi terbaru mengungkap tingkat obesitas di AS melonjak drastis hingga 70% setelah standar pengukuran baru yang menggabungkan BMI dengan lingkar pinggang diterapkan.
Tingginya angka obesitas menjadi salah satu alasan utama masyarakat menjadikan diet sebagai resolusi tahunan.
Hormon menjadi faktor adanya penumpukan lemak, memang risikonya terjadi pada usia di atas 40, terutama pada perempuan.
Kepemilikan ponsel pintar pada remaja awal dikaitkan dengan faktor risiko penyakit jantung, diabetes, dan kanker.
Waktu tidur yang cukup membantu menyiapkan tubuh anak di tengah cuaca yang tidak menentu.
Penderita sakit pinggang direkomendasikan tidurnya dengan posisi telentang kasurnya jenis medium sampai medium firm, jangan terlalu keras.
Tidur bukan hanya istirahat. Studi baru ungkap peran hormon pertumbuhan yang bangun otot, tulang, metabolisme, hingga kejernihan otak esok hari.
Tidur bukan sekadar istirahat, melainkan proses biologis penting yang dikendalikan oleh otak dan hormon, seperti melatonin.
Riset terbaru University of Michigan menemukan neuron di hipotalamus berperan menjaga kadar gula darah, terutama pada empat jam pertama tidur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved