Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan di Salk Institute menggunakan teknologi CRISPR untuk mengungkap mikroprotein tersembunyi yang mengatur pertumbuhan sel lemak dan penyimpanan lipid. Salah satu mikroprotein yang berhasil mereka konfirmasi adalah Adipocyte-smORF-1183.
Penemuan ini membuka peluang bagi pengembangan terapi obesitas yang lebih efektif. Penemuan ini melampaui keterbatasan obat-obatan saat ini seperti GLP-1.
Dalam 30 tahun terakhir, angka obesitas dunia lebih dari dua kali lipat, kini memengaruhi lebih dari satu miliar orang. Obesitas tidak hanya berdiri sendiri, tapi juga meningkatkan risiko penyakit metabolik lain seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, gagal ginjal, dan kanker.
Penanganan obesitas yang ada saat ini meliputi perubahan gaya hidup, operasi bariatrik, dan obat-obatan seperti GLP-1 (contohnya Ozempic atau Wegovy). Namun, banyak pasien mengalami kesulitan dalam mengakses atau mempertahankan pengobatan tersebut dalam jangka panjang.
Salk Institute memusatkan penelitian pada mikroprotein, molekul kecil yang selama ini kurang dipelajari tapi berperan penting dalam kesehatan dan penyakit. Dalam studi terbaru, ribuan gen sel lemak disaring menggunakan CRISPR untuk menemukan mikroprotein yang mengatur proliferasi sel lemak atau akumulasi lipid.
Hasil penelitian yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences ini mengidentifikasi sejumlah mikroprotein baru yang berpotensi menjadi target obat-obatan untuk obesitas dan gangguan metabolik lain. Studi ini juga membuktikan efektivitas teknologi penyaringan CRISPR untuk penemuan mikroprotein di masa depan.
CRISPR memungkinkan peneliti "memotong" gen tertentu pada sel dan melihat apakah sel tersebut tetap bertahan atau tidak, sehingga dapat diketahui fungsi gen-gen spesifik. Tim Salk tertarik menemukan gen yang memproduksi mikroprotein yang berperan dalam perkembangan dan pertumbuhan sel lemak.
"Kami ingin tahu apakah ada sesuatu yang selama ini terlewat dalam penelitian proses metabolisme tubuh," ujar Victor Pai, peneliti pascadoktoral di laboratorium Saghatelian. "CRISPR membantu kami menemukan gen-gen penting yang berdampak langsung pada akumulasi lipid dan perkembangan sel lemak."
Dari ribuan kandidat, tim mempersempit menjadi 38 mikroprotein potensial yang terlibat dalam pembentukan lipid droplet, penanda meningkatnya penyimpanan lemak pada sel. Setelah pengujian lanjutan, satu mikroprotein berhasil dikonfirmasi, yaitu Adipocyte-smORF-1183. Mikroprotein ini diduga berperan penting dalam pembentukan lipid droplet di adiposit (sel lemak).
Verifikasi Adipocyte-smORF-1183 menjadi langkah besar menuju penemuan mikroprotein lain, yang mengatur penyimpanan lemak dan metabolisme. Langkah itu sekaligus membuktikan CRISPR adalah alat efektif dalam penelitian ini.
Meskipun obat GLP-1 dan terapi yang menargetkan PPAR gamma sebelumnya sudah ada, keduanya memiliki keterbatasan dan efek samping yang tidak diinginkan. Penemuan mikroprotein baru membuka peluang terapi yang lebih tepat sasaran dan minim efek samping.
Selanjutnya, tim peneliti berencana mengulangi studi ini pada sel lemak manusia. Tim berharap hasilnya dapat mendorong lebih banyak peneliti menggunakan teknologi CRISPR untuk mengeksplorasi mikroprotein lain yang selama ini tersembunyi dalam "DNA sampah."
Dengan pengujian lebih lanjut dan pemetaan mikroprotein baru, kita dapat menantikan pengembangan terapi obesitas dan gangguan metabolik yang lebih efektif dan aman di masa depan. (Science Daily/Z-2)
Seorang pria paruh baya mengalami pembesaran perut yang tidak wajar selama bertahun-tahun. Awalnya, ia mengira kondisi tersebut hanyalah akibat kenaikan berat badan atau obesitas biasa
Program ini dirancang sebagai layanan berbasis medis yang aman. Melalui skrining ketat, penentuan dosis personal, hingga pendampingan ahli gizi.
Data kesehatan terbaru menunjukkan 1 dari 4 orang dewasa di Indonesia hidup dengan kondisi obesitas atau kelebihan lemak perut.
Studi terbaru mengungkap tingkat obesitas di AS melonjak drastis hingga 70% setelah standar pengukuran baru yang menggabungkan BMI dengan lingkar pinggang diterapkan.
Tingginya angka obesitas menjadi salah satu alasan utama masyarakat menjadikan diet sebagai resolusi tahunan.
Hormon menjadi faktor adanya penumpukan lemak, memang risikonya terjadi pada usia di atas 40, terutama pada perempuan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved