Kamis 13 Januari 2022, 12:00 WIB

Peningkatan Penyakit Autoimun Disebabkan oleh Western Diet

Nike Amelia Sari | Weekend
Peningkatan Penyakit Autoimun Disebabkan oleh Western Diet

health.clevelandclinic.org
Ilustrasi

 

Peningkatan prevalensi penyakit autoimun di seluruh dunia disebabkan oleh western diet atau diet gaya barat, papar para ilmuwan. Western diet ini terdiri dari olahan daging merah, susu tinggi lemak dan biji-bijian seperti yang kerap digunakan di makanan olahan. James Lee dan Carola Vinuesa dari London’s Francis Crick Institute bekerja untuk menentukan penyebab pasti penyakit autoimun.

"Jumlah kasus autoimun mulai meningkat sekitar 40 tahun yang lalu di barat. Namun, kami sekarang melihat beberapa muncul di negara-negara yang tidak pernah memiliki penyakit seperti itu sebelumnya," kata Lee.

Lee dan Vinuesa yang telah membentuk kelompok penelitian menjelaskan jika lebih banyak sistem kekebalan orang tidak dapat lagi menentukan perbedaan antara sel sehat dan mikroorganisme yang menyerang. Penyakit autoimun ini terjadi akibat sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel yang sehat di dalam tubuh.

Dilansir dari foxnews.com, Selasa (11/1), menurut Cleveland Clinic, beberapa penyakit autoimun termasuk lupus, rheumatoid arthritis, penyakit Crohn dan kolitis ulserativa. Universitas Johns Hopkins menunjukkan penyakit autoimun mempengaruhi 23,5 juta orang Amerika, hampir 80 persen di antaranya adalah wanita. Lee mengatakan peningkatan terbesar penyakit radang usus (IBD) baru-baru ini terjadi di Asia Timur dan Timur Tengah, yang sebelumnya hampir tidak ada penyakit tersebut.

Cleveland Clinic melaporkan bahwa diet makanan cepat saji dapat meningkatkan tekanan darah, menaikkan kolesterol, menyebabkan penambahan berat badan, menguras energi dan mempengaruhi suasana hati seseorang. Diet makanan cepat saji dilakukan dengan memilih makanan cepat saji yang dinilai sehat dan diimbangi dengan perilaku hidup sehat lainnya. Di AS, Centers for Disease Control (CDC) melaporkan bahwa dari 2013-2016, 36,6 persen orang dewasa mengonsumsi makanan cepat saji pada hari tertentu.

"Diet makanan cepat saji kekurangan bahan penting tertentu, seperti serat, dan bukti menunjukkan perubahan ini mempengaruhi mikrobioma seseorang, kumpulan mikroorganisme yang kita miliki di usus kita dan yang memainkan peran kunci dalam mengendalikan berbagai fungsi tubuh. Perubahan pada mikrobioma kita ini kemudian memicu penyakit autoimun, yang lebih dari 100 jenisnya kini telah ditemukan," kata Vinuesa.

Lee dan Vineusa menambahkan bahwa mereka yang tidak memiliki kerentanan genetik tertentu belum tentu terkena penyakit autoimun bahkan jika makanan mereka hanya terdiri dari makanan cepat saji.

Untuk menentukan perbedaan genetik dan memahami mekanisme yang mendukung penyakit autoimun, dan membuat beberapa orang rentan tetapi yang lain tidak, para ilmuwan telah mengembangkan teknik khusus yang memungkinkan mereka mengidentifikasi pola genetik umum.

"Sampai baru-baru ini, kami tidak memiliki alat untuk melakukan itu, tetapi sekarang kami memiliki cara luar biasa untuk mengurutkan DNA dalam skala besar dan itu telah mengubah segalanya. Ketika saya mulai melakukan penelitian, kami tahu sekitar setengah lusin varian DNA yang terlibat dalam memicu penyakit radang usus. Sekarang kami tahu lebih dari 250," pungkas Lee. (OL-12)

Baca Juga

AFP/MIGUEL MEDINA

Prada Luncurkan Koleksi Terbaru di Milan Men's Fashion Week

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 17 Januari 2022, 10:41 WIB
Rumah mode asal Italia pada Minggu (16/1) waktu setempat meluncurkan koleksi musim gugur-musim dingin (Fall/Winter) 2022-2023 di gelaran...
dok: Disney+ Hotstar.

Virgin The Series Angkat Dinamika Remaja Era Digital

👤Fathurozak 🕔Senin 17 Januari 2022, 10:25 WIB
Adhisty Zara, Lutesha, Shalom Razade, dan Laura Theux jadi geng Virgin baru di serial Virgin, adaptasi dari film...
dok: Rumah Dunia

Duta Baca Indonesia Lakukan Safari Literasi ke Sejumlah Desa di Tanah Air

👤adiyanto 🕔Senin 17 Januari 2022, 10:20 WIB
Safari Literasi merupakan upaya menumbuhkan budaya menulis dan membaca, serta meningkatkan Indeks Literasi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya