Kamis 13 Januari 2022, 06:00 WIB

Minyak Zaitun dalam Masakan Terbukti Kurangi Risiko Berbagai Penyakit

Nike Amelia Sari | Weekend
Minyak Zaitun dalam Masakan Terbukti Kurangi Risiko Berbagai Penyakit

eatthis.com
Ilustrasi

 

Menggunakan minyak zaitun sebagai pengganti margarin, mentega atau lemak jenuh lainnya dapat melindungi orang dari kematian akibat kanker, penyakit kardiovaskular dan pernapasan, demensia, dan kondisi lainnya, menurut sebuah studi baru.

"Ini adalah kombinasi dari keduanya mengurangi jumlah lemak jenuh pada saat yang sama Anda meningkatkan lemak tak jenuh tunggal yang ditemukan dalam minyak zaitun. Intinya adalah menggunakan minyak zaitun setiap kali Anda bisa sebagai pengganti lemak jenuh saat Anda memasak atau dalam saus salad Anda," kata Dr Howard LeWine, kepala editor medis dari Harvard Health Publishing, bagian dari Harvard Medical School, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Studi ini menganalisis pola makan orang-orang yang terdaftar dalam dua studi besar yaitu Studi Kesehatan Perawat dan Studi Tindak Lanjut Profesional Kesehatan. Para peneliti kemudian membandingkan temuan diet dengan catatan penyakit dan kematian orang-orang tersebut dari waktu ke waktu.

Menurut penulis studi Marta Guasch-Ferre, seorang ilmuwan peneliti senior di Harvard T.H. Chan School of Public Health mengatakan jika pria dan wanita yang mengganti lebih dari 2 sendok teh (10 gram) margarin, mentega, mayones, atau lemak susu dengan jumlah minyak zaitun yang sama memiliki risiko kematian 34% lebih rendah secara keseluruhan daripada orang yang makan sedikit atau tanpa minyak zaitun.

"Ini adalah studi jangka panjang pertama, termasuk lebih dari 90 ribu peserta yang diikuti hingga 30 tahun, dilakukan pada populasi Amerika tentang minyak zaitun dan kematian. Studi sebelumnya dilakukan pada populasi Mediterania dan Eropa di mana konsumsi minyak zaitun cenderung meningkat lebih tinggi," kata Guasch-Ferre, seperti dikutip dari cnn.com, Senin (10/1).

"Hasil kami memberikan dukungan lebih lanjut untuk rekomendasi untuk mengganti lemak jenuh dan lemak hewani dengan minyak nabati tak jenuh, seperti minyak zaitun, untuk pencegahan kematian dini," tambahnya.

Hal ini juga didukung oleh Susanna Larsson, profesor epidemiologi di Institut Karolinska di Swedia yang menuturkan jika orang yang melaporkan mengonsumsi minyak zaitun tingkat tertinggi memiliki risiko 19% lebih rendah meninggal akibat kondisi jantung, 17 persen lebih rendah risiko kematian akibat kanker, 29 persen lebih rendah risiko kematian akibat penyakit neurodegeneratif.

Selain itu, dengan 18 persen lebih rendah risiko penyakit jantung yang meninggal karena kematian akibat penyakit pernapasan dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah atau jarang mengonsumsi minyak zaitun sebagai pengganti lemak jenuh. "Mempertimbangkan kurangnya strategi pencegahan penyakit Alzheimer dan tingginya morbiditas dan mortalitas terkait penyakit ini, temuan ini, jika dikonfirmasi, sangat penting bagi kesehatan masyarakat," papar Larsson.

Minyak zaitun menurut penelitian dapat mengurangi risiko diabetes, kolesterol tinggi, demensia, kehilangan memori, depresi, dan kanker payudara. Minyak zaitun juga dikaitkan dengan diet mediterania. Fokus diet ini pada masakan nabati yang sederhana, seperti sayuran dan buah-buahan segar, biji-bijian, kacang-kacangan, biji-bijian dan kacang-kacangan, dan penekanan berat pada minyak zaitun extra virgin.

Tapi makanan bukan satu-satunya fokus pendekatan diet Mediterania yang baru-baru ini dinobatkan sebagai diet terbaik selama lima tahun berturut-turut di tahun 2022. Ini sebenarnya juga gaya hidup yang menekankan gerakan seperti berjalan kaki, bersepeda, berkebun serta makan dengan penuh perhatian.

Penekanan pada perilaku sehat juga ditemukan di antara pria dan wanita yang makan minyak zaitun paling banyak dalam penelitian ini, kata Guasch-Ferre. Mereka lebih cenderung aktif secara fisik atau makan lebih banyak buah dan sayuran daripada mereka yang makan lebih sedikit minyak zaitun. Mereka juga cenderung tidak merokok.

Namun, penelitian ini memang menyesuaikan sejumlah faktor pembaur potensial, termasuk faktor makanan, faktor gaya hidup, riwayat penyakit serta faktor status sosial ekonomi dan hubungannya signifikan, bahkan setelah disesuaikan dengan BMI (indeks massa tubuh). "Minyak zaitun mungkin bisa meningkatkan rasa kenyang, yang berpotensi mengurangi konsumsi makanan ringan yang tidak sehat," pungkas Guasch-Ferre. (OL-12)

Baca Juga

VALERIE MACON / AFP

Catatan Lagu Hey Jude Dijual Sebagai NFT

👤Fathurrozak 🕔Rabu 26 Januari 2022, 11:51 WIB
Memorabilia The Beatles lainnya termasuk pakaian dan gitar dijual sebagai NFT oleh putra John Lennon, Julian...
Film Cigaro De Miel

My French Film Festival 2022 Kembali Digelar, Filmnya Bisa Disaksikan di KlikFilm

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 26 Januari 2022, 09:00 WIB
Masih dalam kondisi pandemi Covid 19, My French Film Festival resmi kembali digelar. Festival yang menghadirkan film-film Perancis ini...
 Tauseef MUSTAFA / AFP

Macan Tutul di India Terinfeksi Covid-19 Varian Delta

👤Galih Agus Saputra 🕔Rabu 26 Januari 2022, 05:00 WIB
Seekor macan tutul liar di India dikabarkan telah terinfeksi varian Delta dari virus...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya