Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Banyak orang suka mendengarkan musik sebelum tidur lantaran musik dianggap sebagai media pengantar tidur dan menenangkan. Akan tetapi, anggapan tersebut ternyata keliru. Berdasarkan penelitian baru, mendengarkan musik sebelum tidur justru dapat mengganggu tidur.
Studi terbaru dari peneliti tidur, Michael Scullin, Ph.D., profesor psikologi dan ilmu saraf di Baylor University meneliti bagaimana hubungan antara mendengarkan musik dan tidur.
Studi yang telah diterbitkan di Psychological Science tersebut menjelaskan bahwa saat sebuah lagu atau nada didengarkan berulang-ulang, pengulangan lagu dalam pikiran tersebut tidak hanya terjadi saat bangun, tapi juga bisa terjadi saat tidur sehingga dapat menyebabkan tidur tak lelap.
"Otak kita terus memproses musik bahkan saat tidak ada yang diputar, termasuk saat kita tidur" kata Scullin, seperti dilansir dari dailymail.co.uk, Kamis (10/6).
"Semakin banyak Anda mendengarkan musik, semakin besar kemungkinan Anda terkena earworm (pengulangan lagu dalam pikiran). Ketika itu terjadi, kemungkinan tidur Anda akan terganggu," lanjutnya.
Orang yang mengalami earworms secara teratur di malam hari, satu kali atau lebih per minggu, enam kali lebih mungkin memiliki kualitas tidur yang buruk dibandingkan dengan orang yang jarang mengalami earworms.
Penelitian ini juga menemukan bahwa beberapa musik instrumental lebih cenderung menyebabkan earworms dan mengganggu kualitas tidur daripada musik liris.
Penelitian ini melibatkan survei dan eksperimen laboratorium. Survei tersebut melibatkan 209 peserta yang menyelesaikan serangkaian survei tentang kualitas tidur, kebiasaan mendengarkan musik dan frekuensi earworm, termasuk seberapa sering mereka mengalami earworm saat mencoba tertidur, terbangun di tengah malam dan setelah bangun di pagi hari.
Dalam studi eksperimental, 50 peserta dibawa ke Scullin's Sleep Neuroscience and Cognition Laboratory di Baylor, di mana tim peneliti berusaha menginduksi earworm untuk menentukan bagaimana hal itu memengaruhi kualitas tidur.
Digunakan juga polisomnografi yang merupakan pemeriksaan tes komprehensif dan pengukuran standar untuk tidur, digunakan untuk merekam gelombang otak, detak jantung, pernapasan, dan lainnya para peserta saat mereka tidur.
"Sebelum tidur, kami memainkan tiga lagu populer dan catchy, 'Shake It Off' Taylor Swift, 'Call Me Maybe' dari Carly Rae Jepsen, dan 'Don't Stop Believin' dari Journey. Kami secara acak menugaskan peserta untuk mendengarkan versi asli dari lagu-lagu itu atau versi instrumental yang dihilangkan liriknya," ujarnya.
"Peserta merespons apakah dan kapan mereka mengalami earworm. Kemudian kami menganalisis apakah itu memengaruhi fisiologi tidur malam mereka. Orang-orang yang terkena earworm memiliki kesulitan ebih besar untuk tertidur, lebih banyak terbangun di malam hari, dan menghabiskan lebih banyak waktu di fase tidur ringan," lanjutnya.
Selain itu, pembacaan elektroensefalografi (EEG) atau catatan aktivitas listrik di otak, dari studi eksperimental dianalisis secara kuantitatif untuk memeriksa penanda fisiologis konsolidasi memori yang bergantung pada tidur.
Konsolidasi memori adalah proses di mana ingatan sementara secara spontan direaktifasi selama tidur dan diubah menjadi bentuk yang lebih jangka panjang.
"Kami mengira bahwa orang akan memiliki earworm pada waktu tidur ketika mereka mencoba untuk tertidur, tetapi kami tentu tidak tahu bahwa orang akan melaporkan secara teratur bangun dari tidur dengan earworm," paparnya.
Peserta yang memiliki earworm tidur menunjukkan osilasi (variasi periodik terhadap waktu) yang lebih lambat selama tidur, penanda reaktivasi memori. Peningkatan osilasi lambat dominan di bagian yang sesuai dengan korteks pendengaran primer yang terlibat dalam pemrosesan earworm ketika orang bangun.
"Hampir semua orang berpikir musik meningkatkan kualitas tidur mereka, tetapi kami menemukan mereka yang mendengarkan lebih banyak musik tidur lebih buruk. Apa yang benar-benar mengejutkan adalah bahwa musik instrumental menyebabkan kualitas tidur yang lebih buruk, musik instrumental menyebabkan sekitar dua kali lebih banyak earworms," jelas Scullin.
Studi ini menemukan bahwa individu dengan kebiasaan mendengarkan musik yang lebih besar mengalami earworms terus-menerus dan penurunan kualitas tidur. Hasil ini bertentangan dengan gagasan musik sebagai hipnotis yang mungkin membantu tidur.
Berdasarkan hasil temuan tersebut, Scullin merekomendasikan untuk mencoba mendengarkan musik secara moderat atau mengambil istirahat sesekali jika terganggu oleh earworms. Pengaturan waktu musik juga penting, maka cobalah untuk menghindarinya persis sebelum tidur.
Dia menambahkan, cara lain untuk menyingkirkan earworm adalah dengan terlibat dalam aktivitas kognitif, fokus penuh pada tugas, masalah, atau aktivitas membantu mengalihkan otak dari earworm.
Scullin menyarankan agar menghabiskan lima hingga 10 menit untuk menulis daftar tugas dan menuangkan pemikiran ke kertas.
Sebuah studi sebelumnya oleh Scullin menemukan bahwa peserta yang meluangkan waktu lima menit untuk menuliskan tugas-tugas yang akan datang sebelum tidur membantu dalam membuang pikiran-pikiran yang mengkhawatirkan tentang masa depan sehingga hal ini dapat memandu tidur lebih cepat.
Pola gangguan kesehatan ini bahkan konsisten muncul pada hari ketiga Ramadan selama dua tahun terakhir.
Kepala BSKDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo menegaskan capaian dan penghargaan inovasi daerah tidak boleh menjadi titik akhir dalam berinovasi.
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Buku berjudul Mika & Maka: Berani ke Dokter karya kolaborasi Karen Nijsen dan Maria Ardelia menghadirkan kisah yang disampaikan secara hangat dan mudah dipahami agar anak takut ke dokter
Siapa sangka, golongan darah ternyata ikut berkaitan dengan risiko serangan jantung. Ini bukan mitos kesehatan.
Dengan teknologi bedah robotik, standar perawatan bedah tidak lagi dibatasi oleh jarak geografis, melainkan ditentukan oleh kualitas keahlian dan presisi teknologi.
Prestasi ini menegaskan komitmen Pertamina dalam mendorong budaya inovasi yang berkelanjutan, memperkuat riset terapan, serta menghadirkan solusi teknologi.
Penderita Restless Legs Syndrome (RLS) memiliki risiko lebih tinggi terkena Parkinson dibandingkan orang yang tidak mengalami gangguan tersebut.
Riset ini bertujuan memberikan panduan bagi elit politik sekaligus edukasi bagi masyarakat mengenai kompetensi pemimpin yang benar-benar dibutuhkan di Indonesia.
Kepemimpinan transformasional kepala sekolah, budaya hijau sekolah, dan motivasi intrinsik siswa memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku ramah lingkungan.
Penghargaan bagi peneliti muda menjadi instrumen penting dalam membangun ekosistem riset nasional yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing.
Upaya peningkatan kualitas nutrisi masyarakat Indonesia terus diperkuat melalui riset dan publikasi ilmiah yang berkelanjutan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved