Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM rangka menandai 15 tahun usianya sekaligus memperingati Hari Bumi yang ke-50, pada edisi April tahun lalu, majalah National Geographic Indonesia menurunkan cover ganda. Satu berjudul Kita Menghancurkan Bumi, satu lainnya Kita Menyelamatkan Bumi. Keduanya memuat pedoman atau skenario bagaimana kita, umat manusia, menjalani kehidupan di planet ini pada 2070. Tahun tersebut dipilih karena berkaitan dengan tepat seabad peringatan Hari Bumi. Mungkin lantaran masalah tenggat cetak, edisi itu tidak sempat menyinggung tentang covid-19 yang kala itu baru merebak. Kendati demikian, di situ ditulis tentang berbagai patogen yang diakibatkan kerusakan lingkungan lantaran ulah manusia.
Laporan pertama yang ditulis Elizabeth Kolbert dalam majalah itu memuat pandangan pesimistis tentang kehidupan masa depan di planet ini. Pemanasan global, degradasi lingkungan, hilangnya berbagai keanekaragaman hayati, polusi, banjir, badai, cuaca yang kian ekstrem, dan berbagai kerusakan lainnya sebagai dampak perubahan iklim, membuat kehidupan makhluk di muka bumi ini tampak suram. Sebaliknya, dalam laporan kedua, Emma Marris menulis pandangan yang lebih optimistis. Kemajuan teknologi di berbagai bidang, terutama kesehatan, membuatnya yakin manusia mampu mengatasi semua tantangan tersebut. Sejauh ini, kita tidak tahu siapa yang benar. Saya pribadi terus terang termasuk yang memandang suram kehidupan masa depan di planet ini, kendati masih pula menyimpan sedikit harapan.
Bagi saya, pandemi covid-19 yang telah meluluhlantakkan tatanan dunia saat ini merupakan salah satu tantangan terbesar bagi umat manusia. Kita bertanya-tanya pada sains, kitab suci, hingga teori konspirasi, apa yang sebenarnya terjadi. Namun, satu fakta terang benderang yang dapat dijadikan pelajaran dari wabah ini ialah jangan pernah abaikan kebersihan. Jangan buang ludah dan upil sembarangan. Virus apa pun jenisnya, salah satunya menyebar lewat perilaku ini. Terlihat sepele memang, tapi ternyata besar dampaknya bagi keberlangsungan hidup di planet ini.
Virus korona jenis SARS-CoV-2 (covid-19) merupakan salah satu contoh bagaimana mikroba (virus, bakteri, jamur, dan lain-lain) yang tadinya hinggap dalam tubuh hewan menyebar jadi wabah karena perilaku jorok dan rakus manusia. Beberapa tahun sebelumnya kita juga telah melihat bagaimana flu babi, unggas, serta virus ebola yang tadinya bersemayam dalam tubuh kera, telah merenggut ribuan nyawa manusia. Entah patogen apalagi yang kelak muncul di kemudian hari.
Hari Lingkungan Hidup sedunia tahun ini yang bertema Restorasi ekosistem, kiranya juga tepat untuk mengingatkan lagi pentingnya menjaga keseimbangan alam. Restorasi ekosistem tidak hanya memulihkan ekosistem yang telah rusak, tapi juga merawat yang masih utuh. Liu Zhenmin, Kepala Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB, mengingatkan hutan yang sehat dan dikelola dengan baik, misalnya, bisa bertindak sebagai penyangga alami terhadap zoonosis (penyakit yang disebabkan hewan) sehingga menangkal risiko pandemi di masa depan. Menurut saya, dari wabah inilah seharusnya kita belajar.
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
KERUSAKAN ekosistem global dan perubahan iklim tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga memicu perubahan serius dalam hubungan antara manusia dan nyamuk.
Peneliti ciptakan alat 'Stomata In-Sight' untuk mengamati pori-pori daun saat bernapas. Teknologi ini diharapkan mampu menciptakan tanaman yang lebih hemat air.
Studi terbaru mengungkap masa depan budidaya alpukat di India. Meski permintaan tinggi, perubahan iklim dan emisi karbon mengancam keberlanjutan panen.
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana pola hujan ekstrem mempercepat pelepasan karbon tanah ke atmosfer dan bagaimana biochar menjadi kunci ketahanan tanah.
PT United Tractors Tbk (UT) peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia melalui EnviroFest 2025. Ajang edukasi, aksi lingkungan, dan kolaborasi untuk pelestarian bumi.
Bantuan yang diterima DLH Kabupaten Karawang tersebut terdiri dari 130 bibit pohon mangga dan 125 bibit pohon jambu.
Menjaga kelestarian lingkungan hidup harus dimulai sejak dini, sehingga menjadi kebiasaan hingga dewasa.
Di tengah meningkatnya polusi plastik, seorang guru di SDN 003 Bontang Utara, Bontang, menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari ruang kelas.
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo melakukan penanaman sekitar 40 ribu pohon secara serentak di empat regional dan empat subholding perusahaan.
Sebanyak 47 pohon pulai (Alstonia scholaris) ditanam secara simbolis oleh Menteri Lingkungan Hidup, perwakilan Jasa Marga, serta Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved