Minggu 06 Juni 2021, 05:00 WIB

Belajar dari Pandemi

Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Weekend
Belajar dari Pandemi

MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

DALAM rangka menandai 15 tahun usianya sekaligus memperingati Hari Bumi yang ke-50, pada edisi April tahun lalu, majalah National Geographic Indonesia menurunkan cover ganda. Satu berjudul Kita Menghancurkan Bumi, satu lainnya Kita Menyelamatkan Bumi. Keduanya memuat pedoman atau skenario bagaimana kita, umat manusia, menjalani kehidupan di planet ini pada 2070. Tahun tersebut dipilih karena berkaitan dengan tepat seabad peringatan Hari Bumi. Mungkin lantaran masalah tenggat cetak, edisi itu tidak sempat menyinggung tentang covid-19 yang kala itu baru merebak. Kendati demikian, di situ ditulis tentang berbagai patogen yang diakibatkan kerusakan lingkungan lantaran ulah manusia.

Laporan pertama yang ditulis Elizabeth Kolbert dalam majalah itu memuat pandangan pesimistis tentang kehidupan masa depan di planet ini. Pemanasan global, degradasi lingkungan, hilangnya berbagai keanekaragaman hayati, polusi, banjir, badai, cuaca yang kian ekstrem, dan berbagai kerusakan lainnya sebagai dampak perubahan iklim, membuat kehidupan makhluk di muka bumi ini tampak suram. Sebaliknya, dalam laporan kedua, Emma Marris menulis pandangan yang lebih optimistis. Kemajuan teknologi di berbagai bidang, terutama kesehatan, membuatnya yakin manusia mampu mengatasi semua tantangan tersebut. Sejauh ini, kita tidak tahu siapa yang benar. Saya pribadi terus terang termasuk yang memandang suram kehidupan masa depan di planet ini, kendati masih pula menyimpan sedikit harapan.

Bagi saya, pandemi covid-19 yang telah meluluhlantakkan tatanan dunia saat ini merupakan salah satu tantangan terbesar bagi umat manusia. Kita bertanya-tanya pada sains, kitab suci, hingga teori konspirasi, apa yang sebenarnya terjadi. Namun, satu fakta terang benderang yang dapat dijadikan pelajaran dari wabah ini ialah jangan pernah abaikan kebersihan. Jangan buang ludah dan upil sembarangan. Virus apa pun jenisnya, salah satunya menyebar lewat perilaku ini. Terlihat sepele memang, tapi ternyata besar dampaknya bagi keberlangsungan hidup di planet ini.

Virus korona jenis SARS-CoV-2 (covid-19) merupakan salah satu contoh bagaimana mikroba (virus, bakteri, jamur, dan lain-lain) yang tadinya hinggap dalam tubuh hewan menyebar jadi wabah karena perilaku jorok dan rakus manusia. Beberapa tahun sebelumnya kita juga telah melihat bagaimana flu babi, unggas, serta virus ebola yang tadinya bersemayam dalam tubuh kera, telah merenggut ribuan nyawa manusia. Entah patogen apalagi yang kelak muncul di kemudian hari.

Hari Lingkungan Hidup sedunia tahun ini yang bertema Restorasi ekosistem, kiranya juga tepat untuk mengingatkan lagi pentingnya menjaga keseimbangan alam. Restorasi ekosistem tidak hanya memulihkan ekosistem yang telah rusak, tapi juga merawat yang masih utuh. Liu Zhenmin, Kepala Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB, mengingatkan hutan yang sehat dan dikelola dengan baik, misalnya, bisa bertindak sebagai penyangga alami terhadap zoonosis (penyakit yang disebabkan hewan) sehingga menangkal risiko pandemi di masa depan. Menurut saya, dari wabah inilah seharusnya kita belajar.

Baca Juga

Dok. Buku Mojok

Susah Senang Jadi Katolik

👤Pro/M-2 🕔Sabtu 18 September 2021, 06:35 WIB
TERLAHIR sebagai bagian kelompok minoritas amat mungkin menghadirkan kesan tersendiri bagi yang...
Dok. Bentang Pustaka

Meraih Bahagia tanpa Melakukan Apa-Apa

👤Putri Rosmalia 🕔Sabtu 18 September 2021, 06:30 WIB
Menurut si penulis, mempraktikkan niksen bukan berarti kita egois, bermalas-malasan. Sebaliknya, kita mungkin saja justru memberikan...
123RF

Dari Sayembara Cerpen sampai Lelang Puisi, Media Indonesia Gelar Festival Bahasa dan Sastra

👤Fathurrozak 🕔Jumat 17 September 2021, 22:54 WIB
Festival ini diharapkan jadi medium untuk merefleksikan penggunaan bahasa...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Ramai-Ramai Abai Laporkan Kekayaan

KPK mengungkap kepatuhan para pejabat membuat LHKPN tahun ini bermasalah. Akurasinya juga diduga meragukan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya