Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
Boleh dibilang format pertunjukan ala Teater Garasi kali ini adalah respons dari kegalauan pandemi. Sudah hal mafhum, pandemi covid-19 telah mengubah wajah dunia, termasuk dunia seni pertunjukan. Banyak pertunjukan yang berpindah ke ranah digital akibat larangan berkumpul untuk mencegah penularan penyakit tersebut.
Menciptakan peristiwa teater dalam keterbatasan mobilitas manusia, begitu yang menjadi pergulatan Teater Garasi dalam memanggungkan UrFear: Huhu & Multitude of Peer Gynts dalam sebuah festival virtual pada 31 Oktober hingga 30 November mendatang.
“Sedikit kilas balik, kami sempat mengira pandemi akan berakhir dan pada sekitar Oktober ini, kami sudah bisa melakukan pementasan dalam format yang lazim, yaitu di suatu tempat dengan penonton yang berkumpul. Ternyata pandemi ini lebih lama dan bahkan sampai sekarang kita belum tahu kapan berakhir,” kata sutradara UrFear Yudi Ahmad Tajudin dalam diskusi virtual pada pembukaan pementasan (31/10).
Untuk menciptakan peristiwa tersebut, Garasi membangun sebuah situs web interaktif yang akan berperan sebagai gedung pertunjukan sekaligus arena festival tempat penonton bertemu dengan karya-karya dari sejumlah seniman kolaborator yang mengambil karya Peer Gynts dari penulis lakon Denmark-Norwegia Hendrik Ibsen sebagai lensa baca terhadap fenomena ketakutan, kecemasan, serta pergerakan atau tak bergeraknya manusia dalam globalisasi yang melaju begitu kencang.
UrFear: Huhu and the Multitude of Peer Gynts adalah jejaring karya pertunjukan berdasarkan pembacaan ulang lakon Peer Gynt karya Henrik Ibsen, yang dilihat dari sudut pandang Dunia Selatan.
UrFear adalah perwujudan dari proyek Multitude of Peer Gynts di tahun 2020, yang disusun melalui penciptaan jejaring karya pertunjukan dengan pendekatan modular, dan dipentaskan di dalam situs web interaktif.
Bagi Yudi, peristiwa penonton berkumpul dan bertemu langsung dengan penampil merupakan intisari teater yang tidak mudah dicari gantinya. Jika hanya sekadar penampilan yang direkam dan ditonton melalui suatu medium, esensinya akan hilang.
“Kebetulan sudah cukup lama Garasi tidak terpaku pada naskah dalam membangun pertunjukannya, melainkan melalui workshop dan pembacaan bersama para seniman kolaborator terhadap tema atau isu yang digarap. Ketika hampir semua proses harus dijalankan secara virtual, model workshop ini juga memberi tantangan tersendiri,” papar dramaturg pementasan Ugoran Prasad.
Garasi berkolaborasi dengan seniman pembangun situs web Wok The Rock dalam mewujudkan arena festival virtual ini. Proses pembangunan situs memakan waktu sekitar dua bulan, karena harus berjalan simultan dengan proses pematangan karya pada masing-masing seniman kolaborator.
“Waktu saya mulai membangun situs, saya tidak tahu ujungnya ke mana. Padahal, biasanya kerja IT (information technology) membutuhkan perencanaan yang rigid, termasuk timelinenya. Di proyek ini kita seperti pokoknya niat berjalan, nanti kita lihat ujungnya seperti apa. Saya senang karena faktor IT bukan sekadar dianggap support, tapi merupakan elemen kolaborasi. Tapi, ya, pusingnya juga di situ. Ini pengalaman baru yang mengasyikkan buat saya,” kata Wok.
Sebagaimana layaknya festival, semua pertunjukan dalam rangkaian UrFear terjadwal, bukan bersifat on-demand yang selalu ada ketika penonton ingin melihatnya. Sebagian pementasan bersifat interaktif dan membutuhkan partisipasi penonton dalam membangun cerita. Lebih jauh lagi, situs ini akan ditutup ketika festival berakhir pada 30 November.
Peer Gynt adalah naskah drama yang kini dianggap sebagai salah satu kanon teater modern. Berkaitan dengan beragam tantangan teknis yang terkandung di jalan ceritanya, naskah ini mulanya tidak dimaksudkan untuk dipentaskan. Ditulis oleh Henrik Ibsen sebelum ia menempuh fase kepenulisan realistik, naskah ini mulai mendapatkan momentumnya pada akhir abad 19 dan pergantian abad 20.
Dalam pertunjukan itu, pembacaan bersama terhadap situasi terkini dengan menggunakan lensa Ibsen ternyata melahirkan beragam isu dan format pertunjukan yang akan disajikan. Apalagi proyek ini melibatkan seniman dari sejumlah negara di Asia dari disiplin seni pertunjukan yang berbeda-beda.
“Tidak berlebihan jika ini adalah pembacaan Asia terhadap situasi dunia. Jika selama ini yang banyak terjadi adalah Asia dibaca—bahkan didefinisikan—oleh dunia, maka kali ini proyek ini mencoba membaliknya,” kata Yudi memberi pengandaian.
Sejumlah seniman yang telah berpartisipasi dalam perjalanan panjang proyek Multitude of Peer Gynts, kembali berkolaborasi dalam proyek tahun ini, antara lain Micari dan Yasuhiro Moringga (Jepang), Venuri Perera (Sri Lanka), dan Seniman Teater Flores Timur, sekumpulan seniman yang terlibat ketika proyek ini mengambil tempat di Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2018.
Untuk mengatasi keterbatasan ruang dan gerak untuk berlatih dan pentas akibat pandemi, Garasi membangun jejaring pertunjukan ini dalam karya-karya modular yang diinisiasi oleh masing-masing seniman kolaborator. Modular dalam pengertian ketika seluruh karya ini dihubungkan satu sama lain akan menyusun sebuah bangunan besar UrFear, meskipun di dalam dirinya masing-masing karya-karya tersebut utuh dan mandiri.
Beberapa seniman kolaborator yang terlibat dalam festival tersebut adalah Abdi Karya dalam On the Origin(s) of Huhu, Andreas Ari Dwinanto dalam Monopoly: Asylum Edition, Arsita Iswardhani dalam Perihal Hantu yang Menari di Sepatumu yang dipentaskan dalam 4 jam, Darlane Litaay dalam Dance with the Minotaur, Gunawan Maryanto dalam Juru Selamat untuk Pemula, M. Nur Qomarudin dalam Pencarian Lagu Favorit yang Hilang, Seniman Teater Flores Timur (NTT) dalam Tana Tani.
Selain itu, ada beberapa seniman dari luar negeri yakni Micari (Jepang) dalam Aase’s Dream, Venuri Perera (Sri Lanka) dalam On Gaze and Anonimity, dan Yasuhiro Moringga (Jepang) berkolaborasi dengan Nya Ina Raseuki dalam Huhu’s Ur sound. (M-2)
Dreamgirls The Musical by Glitz Production akan berlangsung selama delapan hari, dengan sepuluh kali pertunjukan di Glitz Inclusive, Jakarta.
Dengan akting jenaka dan aksi panggung yang memukau, Flying membangkitkan sorak-sorai dan antusias penonton sepanjang pertunjukan.
EKI Dance Company menghadirkan teater musikal bertajuk 'Perempuan Punya Cerita', ini merupakan pertunjukan yang mengangkat tema besar tentang perjuangan hidup perempuan
Ide di balik Mencari Semar muncul dari perenungan Rangga Riantiarno akan peran kebijaksanaan di era kecerdasan buatan (AI).
PAGELARAN Sabang Merauke The Indonesian Broadway akan kembali berlangsung tahun ini, menjadi kali kelima pagelaran itu diadakan sejak yang pertama pada 2022
Dalam pentas budaya berskala nasional seperti Pagelaran Sabang Merauke 2025, kostum memainkan peran lebih dari sekadar pelengkap estetika.
Para pemerannya ialah Adi Kurniawan, Fauzi Afriansyah, Fhatoni, Rio Tantowi, Ichsan Abimaya, Egi Junaedi, dan jurnalis Media Indonesia Despian Nurhidayat.
YOON Suk-hwa, tokoh besar dalam kancah teater modern Korea, meninggal dunia pada Selasa pagi di usia 69 tahun setelah berjuang melawan tumor otak. Ia mengembuskan napas terakhir di Seoul
Anak-anak itu tampil percaya diri, berani, dan menyebarkan semangat positif melalui penampilan mereka yang dihiasi senyuman di atas panggung Red Nose
Bagi Slank, pementasan ini bukan hanya bentuk refleksi, tetapi pengingat perjalanan panjang yang tidak mudah.
Festival Teater Indonesia (FTI) hadir sebagai titik pertemuan lintas kota serta ruang berekspresi bagi ekosistem teater tanah air.
Resital Kelas Akting Titimangsa 2025 menghadirkan empat pertunjukan yang semuanya bersifat absurd namun dengan ciri absurd yang berbeda.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved