Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PERINGATAN 25 tahun perjalanan Slank menjalani kehidupan clean and sober menjadi momen penting yang tidak hanya dirayakan oleh para personel band legendaris itu, tetapi juga komunitas Slankers serta para pegiat isu rehabilitasi narkoba di Indonesia.
Pada 29 November 2025, di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Slank bersama Aisah Dahlan mempersembahkan Teater Musikal Silver Sober – Samber Gledek, sebuah pertunjukan edutainment yang menggabungkan seni teater, musik, dan pesan kuat tentang pemulihan.
Pementasan yang digelar dalam dua sesi, pukul 13.30–16.30 dan 19.00–22.00, melibatkan Teater 100 Pecandu dan Teater Keliling, dengan naskah yang ditulis, diarahkan, dan juga dimainkan langsung oleh Aisah. Slank turut tampil membawakan sejumlah lagu ikonik yang menjadi penguat narasi pemulihan dalam teater tersebut.
Teater musikal ini bukan sekadar hiburan, tetapi sebuah bentuk syukur, refleksi perjalanan, dan kampanye panjang melawan penyalahgunaan narkoba, kampanye yang telah dibangun bersama sejak awal 2000-an.
Kisah kerja sama antara Aisah Dahlan dan Slank bukanlah hal baru. Tepat 25 tahun lalu, keduanya bertemu untuk pertama kalinya saat membuat kampanye “Say No to Drugs Abuse” di sebuah televisi nasional. Kala itu, kesadaran publik tentang bahaya narkoba masih minim, bahkan Badan Narkotika Nasional (BNN) pun belum berdiri.
“Sejak tahun 2000 itulah saya bersama Bunda Iffet dan Mas Bimbim mulai menggelar seminar-seminar pencegahan narkoba. Itu kemudian menjadi cikal bakal dibentuknya rehabilitasi khusus untuk Slankers,” ungkap Aisah.
Dari inisiatif tersebut lahirlah Padepokan Recovery Slankers, sebuah pusat rehabilitasi berbasis Therapeutic Community yang dikembangkan dengan gaya dan budaya Slank. Program ini telah membantu banyak penggemar band tersebut untuk pulih dari kecanduan.
Masuknya unsur seni ke dalam proses rehabilitasi bukan hal baru bagi Aisah dan Slank. Mereka pernah membuat program “Theater Seratus Pecandu” serta “Orkestra Seratus Pecandu”, yang melibatkan para mantan pengguna dalam proses kreatif untuk memulihkan emosi, ekspresi, dan rasa percaya diri.
“Menggunakan teater dalam rehabilitasi itu bukan hanya soal panggungnya. Ada olah napas, olah suara, olah pikiran, hingga olah emosi. Itu semua memberi ruang bagi anak-anak untuk release,” kata Aisah.
Maka ketika teater musikal Silver Sober – Samber Gledek dipentaskan, nuansa emosional itu terasa jelas. Salah satu adegan yang paling menyentuh adalah saat keranda melintasi penonton, disertai tayangan video para pecandu yang meninggal karena overdosis.
“Saya sampai hampir menangis ketika melihat keranda itu lewat,” ujarnya.
Bagi Slank, pementasan ini bukan hanya bentuk refleksi, tetapi pengingat perjalanan panjang yang tidak mudah. Bimbim, sebagai salah satu personel Slank yang paling vokal tentang isu ini, mengakui bahwa mempertahankan kondisi sober adalah perjalanan tanpa garis akhir.
“Silver sober itu perjuangan terus berjalan. Sudah 25 tahun, tapi tidak ada istilah selesai. Sober itu perjuangan seumur hidup,” ujar Bimbim.
Ia juga bercerita bahwa masa-masa awal berhenti menggunakan narkoba adalah periode tersulit. Selama dua tahun, mereka tidak diperbolehkan menyentuh ponsel, uang, atau barang berharga. Tim pengawal berjumlah hingga 20 orang selalu mendampingi mereka ke mana pun pergi.
“Kita aja butuh dua tahun. Dua tahun dikawal, karena jangan percaya sama junkie, they will lie. Semua pecandu butuh seseorang yang bantuin naik dari bawah,” tambahnya.
Bimbim mengakui bahwa seni, musik, teater, menulis, menjadi pelarian positif yang mengalihkan emosi yang dulu dialirkan pada narkoba.
“Yang dulu biasa pakai narkoba, sekarang harus punya pengalihan. Olahraga, seni, musik. Untung kita punya Slank yang bisa jadi tempat ekspresi,” ujarnya.
Baik Aisah maupun Bimbim sepakat bahwa masalah narkoba di Indonesia semakin kompleks. Bukan hanya soal pengguna dan bandar, tetapi juga menyangkut kondisi keluarga, lingkungan sosial, serta stigma terhadap rehabilitasi.
“Keluarga sering tidak berani melapor karena takut anaknya dipenjara. Padahal banyak kasus keluarga habis-habisan secara finansial karena narkoba,” jelas Aisah.
Ia menggarisbawahi bahwa pemulihan sering kali harus dimulai dari keluarga.
“Kadang yang harus berobat dulu itu keluarganya. Belajar cara menanganinya. Karena ini proses yang panjang.”
Sementara dari kacamata Bimbim, persoalan bandar dan peredaran narkoba berkaitan dengan kondisi sosial tertentu.
“Kadang bandar itu jadi Robin Hood di kampungnya. Lingkungan malah melindungi. Polisi masuk, satu kampung melawan. Ini rumit,” katanya.
Melalui Teater Musikal Silver Sober – Samber Gledek, Slank dan Aisah mengemas isu berat ini dengan cara yang lebih mudah diterima publik, terutama generasi muda. Pertunjukan menampilkan perjalanan emosional pecandu, dampak keluarga, hingga gambaran rehabilitasi yang realistis.
Acara ini juga menjadi bentuk penghormatan khusus kepada Bunda Iffet, sosok yang berperan besar dalam pemulihan Slank dan pembentukan Padepokan Recovery Slankers.
Pementasan ini juga diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai bahaya narkoba, sekaligus panduan penanganannya bagi masyarakat.
Pementasan berakhir dengan haru dan aplaus panjang. “Silver Sober – Samber Gledek” bukan hanya pentas seni—ia adalah cerita nyata perjuangan, refleksi perjalanan 25 tahun, serta pengingat bahwa pemulihan adalah mungkin dan dapat diraih. (Z-1)
YOON Suk-hwa, tokoh besar dalam kancah teater modern Korea, meninggal dunia pada Selasa pagi di usia 69 tahun setelah berjuang melawan tumor otak. Ia mengembuskan napas terakhir di Seoul
Anak-anak itu tampil percaya diri, berani, dan menyebarkan semangat positif melalui penampilan mereka yang dihiasi senyuman di atas panggung Red Nose
Festival Teater Indonesia (FTI) hadir sebagai titik pertemuan lintas kota serta ruang berekspresi bagi ekosistem teater tanah air.
Resital Kelas Akting Titimangsa 2025 menghadirkan empat pertunjukan yang semuanya bersifat absurd namun dengan ciri absurd yang berbeda.
Festival Teater Indonesia (FTI) digagas oleh founder Titimangsa Happy Salma dan Direktur Titimangsa Pradetya Novitri.
Pertunjukan ini menjanjikan pengalaman baru bagi penonton dengan membawa kisah klasik Galih dan Ratna ke dalam perspektif Generasi Z.
Soundrenaline Sana Sini Di Makassar bukan hanya sebuah festival musik, tetapi sebuah perayaan kolaborasi lintas disiplin kreatif .
Dreamgirls The Musical by Glitz Production akan berlangsung selama delapan hari, dengan sepuluh kali pertunjukan di Glitz Inclusive, Jakarta.
Musikal ini adalah karya Asia Musical Productions (AMP) Kuala Lumpur, dan kembali digelar di JI Expo Theatre, Jakarta.
Arsip pribadi David Bowie mengungkap proyek rahasia: musikal abad ke-18 berjudul The Spectator.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved