Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Teater Musikal Silver Sober – Samber Gledek, Perayaan 25 Tahun Slank Bersih Narkoba

Basuki Eka Purnama
30/11/2025 20:22
Teater Musikal Silver Sober – Samber Gledek, Perayaan 25 Tahun Slank Bersih Narkoba
Pementasan Teater Musikal Silver Sober – Samber Gledek(MI/HO)

PERINGATAN 25 tahun perjalanan Slank menjalani kehidupan clean and sober menjadi momen penting yang tidak hanya dirayakan oleh para personel band legendaris itu, tetapi juga komunitas Slankers serta para pegiat isu rehabilitasi narkoba di Indonesia. 

Pada 29 November 2025, di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Slank bersama Aisah Dahlan mempersembahkan Teater Musikal Silver Sober – Samber Gledek, sebuah pertunjukan edutainment yang menggabungkan seni teater, musik, dan pesan kuat tentang pemulihan.

Pementasan yang digelar dalam dua sesi, pukul 13.30–16.30 dan 19.00–22.00, melibatkan Teater 100 Pecandu dan Teater Keliling, dengan naskah yang ditulis, diarahkan, dan juga dimainkan langsung oleh  Aisah. Slank turut tampil membawakan sejumlah lagu ikonik yang menjadi penguat narasi pemulihan dalam teater tersebut.

Teater musikal ini bukan sekadar hiburan, tetapi sebuah bentuk syukur, refleksi perjalanan, dan kampanye panjang melawan penyalahgunaan narkoba, kampanye yang telah dibangun bersama sejak awal 2000-an.

Dari Kampanye “Say No to Drugs” ke Teater Musikal

Kisah kerja sama antara Aisah Dahlan dan Slank bukanlah hal baru. Tepat 25 tahun lalu, keduanya bertemu untuk pertama kalinya saat membuat kampanye “Say No to Drugs Abuse” di sebuah televisi nasional. Kala itu, kesadaran publik tentang bahaya narkoba masih minim, bahkan Badan Narkotika Nasional (BNN) pun belum berdiri.

“Sejak tahun 2000 itulah saya bersama Bunda Iffet dan Mas Bimbim mulai menggelar seminar-seminar pencegahan narkoba. Itu kemudian menjadi cikal bakal dibentuknya rehabilitasi khusus untuk Slankers,” ungkap Aisah.

Dari inisiatif tersebut lahirlah Padepokan Recovery Slankers, sebuah pusat rehabilitasi berbasis Therapeutic Community yang dikembangkan dengan gaya dan budaya Slank. Program ini telah membantu banyak penggemar band tersebut untuk pulih dari kecanduan.

Masuknya unsur seni ke dalam proses rehabilitasi bukan hal baru bagi Aisah dan Slank. Mereka pernah membuat program “Theater Seratus Pecandu” serta “Orkestra Seratus Pecandu”, yang melibatkan para mantan pengguna dalam proses kreatif untuk memulihkan emosi, ekspresi, dan rasa percaya diri.

“Menggunakan teater dalam rehabilitasi itu bukan hanya soal panggungnya. Ada olah napas, olah suara, olah pikiran, hingga olah emosi. Itu semua memberi ruang bagi anak-anak untuk release,” kata  Aisah.

Maka ketika teater musikal Silver Sober – Samber Gledek dipentaskan, nuansa emosional itu terasa jelas. Salah satu adegan yang paling menyentuh adalah saat keranda melintasi penonton, disertai tayangan video para pecandu yang meninggal karena overdosis. 

“Saya sampai hampir menangis ketika melihat keranda itu lewat,” ujarnya.

Sober adalah Perjuangan Seumur Hidup

Bagi Slank, pementasan ini bukan hanya bentuk refleksi, tetapi pengingat perjalanan panjang yang tidak mudah. Bimbim, sebagai salah satu personel Slank yang paling vokal tentang isu ini, mengakui bahwa mempertahankan kondisi sober adalah perjalanan tanpa garis akhir.

“Silver sober itu perjuangan terus berjalan. Sudah 25 tahun, tapi tidak ada istilah selesai. Sober itu perjuangan seumur hidup,” ujar Bimbim.

Ia juga bercerita bahwa masa-masa awal berhenti menggunakan narkoba adalah periode tersulit. Selama dua tahun, mereka tidak diperbolehkan menyentuh ponsel, uang, atau barang berharga. Tim pengawal berjumlah hingga 20 orang selalu mendampingi mereka ke mana pun pergi.

“Kita aja butuh dua tahun. Dua tahun dikawal, karena jangan percaya sama junkie, they will lie. Semua pecandu butuh seseorang yang bantuin naik dari bawah,” tambahnya.

Bimbim mengakui bahwa seni, musik, teater, menulis, menjadi pelarian positif yang mengalihkan emosi yang dulu dialirkan pada narkoba. 

“Yang dulu biasa pakai narkoba, sekarang harus punya pengalihan. Olahraga, seni, musik. Untung kita punya Slank yang bisa jadi tempat ekspresi,” ujarnya.

Masalah Narkoba: Kompleks, Mengakar, dan Butuh Pendekatan Baru

Baik Aisah maupun Bimbim sepakat bahwa masalah narkoba di Indonesia semakin kompleks. Bukan hanya soal pengguna dan bandar, tetapi juga menyangkut kondisi keluarga, lingkungan sosial, serta stigma terhadap rehabilitasi.

“Keluarga sering tidak berani melapor karena takut anaknya dipenjara. Padahal banyak kasus keluarga habis-habisan secara finansial karena narkoba,” jelas Aisah.

Ia menggarisbawahi bahwa pemulihan sering kali harus dimulai dari keluarga. 

“Kadang yang harus berobat dulu itu keluarganya. Belajar cara menanganinya. Karena ini proses yang panjang.”

Sementara dari kacamata Bimbim, persoalan bandar dan peredaran narkoba berkaitan dengan kondisi sosial tertentu.

“Kadang bandar itu jadi Robin Hood di kampungnya. Lingkungan malah melindungi. Polisi masuk, satu kampung melawan. Ini rumit,” katanya.

Teater sebagai Sarana Edukasi Publik

Melalui Teater Musikal Silver Sober – Samber Gledek, Slank dan  Aisah mengemas isu berat ini dengan cara yang lebih mudah diterima publik, terutama generasi muda. Pertunjukan menampilkan perjalanan emosional pecandu, dampak keluarga, hingga gambaran rehabilitasi yang realistis.

Acara ini juga menjadi bentuk penghormatan khusus kepada Bunda Iffet, sosok yang berperan besar dalam pemulihan Slank dan pembentukan Padepokan Recovery Slankers.

Pementasan ini juga diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai bahaya narkoba, sekaligus panduan penanganannya bagi masyarakat. 

Pementasan berakhir dengan haru dan aplaus panjang. “Silver Sober – Samber Gledek” bukan hanya pentas seni—ia adalah cerita nyata perjuangan, refleksi perjalanan 25 tahun, serta pengingat bahwa pemulihan adalah mungkin dan dapat diraih. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya