Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
NYATANYA tidak banyak orang menekuni profesi sebagai fotografi satwa liar. Selain harus akrab dengan lapangan, fotografi juga diidentikkan dengan aktivitas mahal. Hanya sedikit orang Indonesia yang menelateni fotografi satwa liar, salah satunya Riza Marlon.
Dalam bincang bertajuk Bincang Santai #WorldAnimalDay yang disiarkan lewat Instagramnya, Riza Marlon mengungkap pentingnya fotografi dalam sains. Fotografi mampu berperan untuk mengidentifikasi spesies serta mengetahui perilaku satwa liar. Selain untuk sains, fotografi alam liar juga penting untuk fotografernya yakni sebagai pengembangan diri berbasis pengalaman di lapangan. Ia menyebut juga fotografi penting bagi upaya konservasi. Menurutnya, fotografi bisa menjadi media untuk menggenalkan satwa liar pada publik agar mereka sayang dan peduli.
"Supaya orang jadi kenal, sayang, dan peduli. Itu yang saya bilang konservasi," ucap Riza dalam Bincang Santai #WorldAnimalDay, Mengabadikan Kehidupan Satwa Liar, Minggu (4/10).
Riza juga mengetengahkan fotografi sebagai paduan antara ilmu dan ketrampilan. Artinya semakin sering dilatih, kemampuan memotret akan semakin terasah dan tajam.
"Fotograsi adalah ilmu keterampilan, makin sering makin fasih," tambah pria yang akrab disapa Caca.
Riza mengaku lebih banyak memotret satwa di wilayah tengah Indonesia. Menurutnya, wilayah tersebut banyak satwa endemik Indonesia yang perlu didokumentasikan.
"Indonesia tengah dan timur karena banyak binantang yang hanya ada di situ, tidak ada di mana-mana. Artinya, tingkat endemik-nya tinggi," lanjutnya.
Untuk para fotografer, Riza menyarankan agar lebih mengenal alat dan subjek foto. Namun, memulai fotografi tidak harus menunggu kelengkapan alat. Selain itu, bisa jadi subjek foto malah keburu punah dan hilang. Apalagi habibat satwa liar juga semakin terancam. Pada level selanjutnya, ia juga mendorong agar fotografer satwa liar membukukan jepretannya.
Ahli Ekologi dari Restorasi Ekosistem Riau (RER) Prayitno Goenarto juga mengungkap 3 tantangan fotografi satwa liar di wilayah gambut. Menurutnya, fotografer harus bisa mensiasati masalah cahaya yang kurang, ketinggian muka air, dan terbatasnya pergerakan di lahan gambut. "Jadi kalau kita jalan di atas, rasanya tidak terlalu stabil," ucapnya.
Selain itu, fotografer juga harus punya kesabaran. Tak jarang untuk satu jepretan foto, mereka harus menunggu hingga berjam-jam. Fotografer satwa liar harus mampu beradaptasi dengan budaya dan lingkungan lokal. (M-1)
Kemitraan strategis ini adalah jawaban atas kebutuhan pasar Indonesia yang terus berkembang, khususnya di segmen fotografi gaya hidup.
Program Studi Ilmu Komunikasi UniversitasDian Nusantara (Undira) menggelar pameran fotografi bertajuk Kreativitas Tanpa Batas dalam Lensa .
Kekayaan budaya Indonesia kembali diperkenalkan ke publik melalui medium fotografi dalam ajang vivo Imagine Awards 2025.
VIVO resmi merilis ponsel flagship teranyar mereka di tanah Air, adalah Vivo X300 dan X300 Pro. Lewat ponsel itu, vivo menghadirkan loncatan besar dalam inovasi teknologi kamera,
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan aktivitas fotografi di ruang publik, tidak dikenai biaya.
Pameran Fotografi Indonesia 80 Tahun Keberagaman, Potret Bangsa dalam Lensa
Penelitian terbaru mengungkap penyu Kemp’s ridley sangat sensitif terhadap suara frekuensi rendah. Kebisingan kapal di pesisir kini jadi ancaman serius.
Ilmuwan temukan fenomena Marine Darkwaves, yakni kegelapan mendadak di dasar laut yang merusak ekosistem kelp dan terumbu karang.
Peneliti ungkap rahasia paus Beluga di Teluk Bristol bertahan dari inbreeding. Ternyata, strategi "berbagi pasangan" jadi kunci kesehatan genetik mereka.
Penelitian terbaru mengungkap gunung-gunung bawah laut atau seamount menjadi pusat kumpulan hiu dan predator besar. Namun habitat unik ini terancam overfishing dan trawl dasar.
Ilmuwan mengembangkan teknologi pendeteksi hiu martil langka melalui DNA lingkungan (eDNA) tanpa perlu menangkap hewan.
Jaringan Muro Lembata bertujuan merangkul segenap pemangku kepentingan untuk bergerak dalam konservasi pesisir dan ekosistem laut berbasis kearifan lokal (Muro).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved