Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
AIR pesisir yang biasanya jernih bisa berubah menjadi keruh dalam sekejap, membuat dasar laut kehilangan akses cahaya matahari hampir dalam semalam. Fenomena yang disebut sebagai "pemadaman" bawah laut ini kini memiliki identitas ilmiah resmi: Marine Darkwaves (Gelombang Gelap Laut).
Tim peneliti dari University of Waikato, yang dipimpin oleh Francois Thoral, baru-baru ini memperkenalkan sistem pelacakan standar untuk mengukur durasi dan keparahan peristiwa ini. Langkah ini krusial karena selama ini belum ada cara konsisten untuk mengukur pengurangan cahaya ekstrem di bawah air.
“Cahaya adalah penggerak fundamental produktivitas laut, namun hingga saat ini kita belum memiliki cara yang konsisten untuk mengukur pengurangan ekstrem cahaya bawah air,” ujar Thoral.
Marine Darkwaves didefinisikan sebagai pengurangan cahaya bawah air yang singkat namun intens. Penyebabnya beragam, mulai dari sedimentasi, ledakan alga, hingga material organik terlarut yang memblokir sinar matahari tengah hari.
Aktivitas di darat turut berperan besar. Hujan lebat atau sisa kebakaran hutan dapat membawa lumpur dan puing-puing ke pesisir melalui aliran sungai, yang seketika meningkatkan kekeruhan air. Fenomena ini tercatat berlangsung mulai dari lima hari hingga dua bulan di beberapa wilayah seperti California dan Selandia Baru.
Tanaman laut yang bergantung pada cahaya adalah fondasi rantai makanan. Saat gelombang gelap menyerang, hutan kelp dan padang lamun mengalami stres berat karena proses fotosintesis terhambat.
“Bahkan periode pengurangan cahaya yang singkat dapat merusak fotosintesis pada hutan kelp, lamun, dan karang,” jelas Thoral. Dalam satu studi kasus, pengurangan cahaya sebesar 63% memicu penurunan produktivitas hingga 95%.
Tak hanya tumbuhan, hewan laut yang berburu menggunakan penglihatan pun ikut menderita. Partikel yang melayang di air keruh memotong kontras dan memperpendek jarak pandang ikan. Hal ini mengganggu pola mencari makan, kawin, hingga migrasi.
Untuk melacak fenomena ini secara luas, ilmuwan mulai menggunakan satelit guna membaca perubahan warna laut dan kecerahan permukaan. Melalui data ini, komputer dapat mengestimasi seberapa banyak cahaya yang mencapai dasar laut. Namun, tantangan tetap ada karena badai yang menyebabkan kekeruhan sering kali juga membawa awan tebal yang menghalangi pandangan satelit.
Dengan adanya definisi standar Marine Darkwaves, para manajer sumber daya alam kini dapat memperlakukan episode minim cahaya ini sebagai bahaya yang terukur, setara dengan gelombang panas laut (marine heatwaves). Pelacakan ini diharapkan dapat membantu komunitas pesisir mengantisipasi kerusakan habitat laut sebelum terlambat.
Penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Communications Earth & Environment. (Earth/Z-2)
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
Studi terbaru mengungkap terumbu karang bertindak sebagai "konduktor" yang mengatur ritme harian mikroba laut, melampaui perubahan musiman.
Ilmuwan WHOI mengungkap mengapa hiu betah di kedalaman laut. Ternyata, ikan bigscale pomfret menjadi jembatan makanan antara zona dalam dan permukaan.
Penelitian baru menemukan penyebab kelaparan massal singa laut di California bukan hanya karena kurangnya ikan. Namun turunnya kualitas gizi mangsa.
Ribuan pohon mangrove, bambu, dan tanaman langka menghijaukan wilayah pesisir dan daratan Jawa Tengah hingga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved