Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Separuh Terumbu Karang Dunia Rusak Akibat Gelombang Panas Ekstrem

Thalatie K Yani
13/2/2026 13:00
Separuh Terumbu Karang Dunia Rusak Akibat Gelombang Panas Ekstrem
Kematian massal terumbu karang terjadi di Kiritimati (Pulau Christmas), Kiribati, seperti yang diilustrasikan oleh gambar sebelum tekanan panas ekstrem pada Juli 2015 (kiri) dan setelah tekanan panas ekstrem pada Juli 2017 (kanan).(Kieran Cox, Kristina Tietjen)

TERUMBU karang bukan sekadar hiasan bawah laut. Ekosistem ini menyumbang nilai ekonomi fantastis bagi kemanusiaan, yakni sekitar US$9,8 triliun (sekitar Rp154 kuadriliun) per tahun melalui sektor perikanan, pariwisata, perlindungan pantai, hingga bahan baku obat-obatan. Namun, sebuah studi internasional skala besar mengungkap fakta pilu: kondisi benteng bawah laut ini jauh lebih buruk dari yang diperkirakan.

Penelitian komprehensif yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications ini menyoroti dampak "Peristiwa Pemutihan Karang Global Ketiga" yang terjadi pada 2014-2017. Hasilnya mengejutkan, lebih dari separuh terumbu karang di dunia mengalami pemutihan (bleaching) signifikan, dan banyak di antaranya berujung pada kematian massal.

Bagaimana Pemutihan Terjadi?

Karang hidup dalam kemitraan dengan alga mikroskopis yang tinggal di jaringan mereka. Alga ini mengolah sinar matahari menjadi energi untuk memberi makan karang. Namun, saat suhu lautan melonjak terlalu tinggi, hubungan ini terputus.

Karang akan mengeluarkan alga tersebut dan berubah warna menjadi putih pucat. Tanpa alga, karang akan tumbuh melambat, sulit bereproduksi, dan akhirnya mati jika suhu panas bertahan terlalu lama.

Analisis Terluas dalam Sejarah

Dipimpin oleh tim dari Smithsonian, James Cook University, dan NOAA, penelitian ini melibatkan hampir 200 penulis dari 143 institusi di 41 negara. Mereka menggabungkan data satelit suhu permukaan laut dengan lebih dari 15.000 survei langsung di lokasi.

"Ini adalah analisis survei pemutihan karang yang paling luas secara geografis yang pernah dilakukan," ujar Sean Connolly, ilmuwan senior di Smithsonian.

Hasil analisis menunjukkan 80% terumbu karang dunia mengalami pemutihan tingkat sedang hingga berat, sementara 15% di antaranya mengalami kematian karang yang signifikan.

Krisis yang Tak Memberi Ruang Bernapas

Para ilmuwan sangat khawatir karena intensitas panas laut kini melampaui ambang batas normal. C. Mark Eakin, mantan direktur Coral Reef Watch, mencatat tingkat stres panas sangat ekstrem sehingga mereka harus menciptakan level peringatan baru yang sebelumnya tidak pernah dibutuhkan.

"Sekitar setengah dari lokasi terumbu karang yang terkena stres panas tingkat pemutihan terpapar dua kali atau lebih selama peristiwa tiga tahun tersebut, sering kali dengan konsekuensi yang menghancurkan," kata Scott Heron, profesor fisika di James Cook University. "Terumbu karang tidak memiliki waktu untuk pulih dengan benar sebelum peristiwa pemutihan berikutnya terjadi."

Ancaman di Depan Mata

Dunia kini disebut tengah memasuki "Peristiwa Pemutihan Global Keempat" yang dimulai sejak awal 2023 dan diperkirakan bakal lebih parah. Tanpa aksi nyata mengatasi pemanasan global, ekosistem penyokong ekonomi triliunan dolar ini terancam punah.

Direktur STRI, Joshua Tewksbury, menekankan pentingnya pemantauan global ini. "Ekonomi lokal, regional, dan global sangat bergantung pada kesehatan sistem alam seperti terumbu karang, namun kita sering menganggapnya remeh," pungkasnya. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya