Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Dilema Pembersihan Sampah Plastik di Laut: Ilmuwan Sarankan Berhenti Sejenak, Mengapa?

Thalatie K Yani
11/2/2026 12:18
Dilema Pembersihan Sampah Plastik di Laut: Ilmuwan Sarankan Berhenti Sejenak, Mengapa?
Ilustrasi(Unsplash)

SELAMA puluhan tahun, dunia sepakat jutaan ton plastik yang mencemari samudera adalah ancaman murni bagi kehidupan laut. Namun, sebuah perspektif baru yang provokatif muncul di kalangan peneliti lingkungan, haruskah kita menghentikan sementara upaya pembersihan plastik di lautan?

Saran yang mengejutkan ini berakar pada temuan, tumpukan sampah terapung di samudera bukan sekadar limbah tak berguna, melainkan telah menjadi habitat bagi ekosistem kompleks yang belum sepenuhnya dipahami manusia.

Kehidupan di Balik Tumpukan Sampah

Rebecca Helm, seorang ahli biologi laut dari Georgetown University, menjadi salah satu suara yang mendorong pendekatan yang lebih hati-hati. Penelitiannya menyoroti keberadaan neuston, kelompok organisme yang hidup tepat di permukaan air, mulai dari alga, bakteri, hingga hewan kecil yang hampir tak kasat mata.

Neuston memainkan peran krusial dalam sistem pendukung kehidupan laut, mulai dari menjaga rantai makanan hingga membantu pertukaran gas antara atmosfer dan kedalaman laut. Ironisnya, makhluk-makhluk ini ditemukan menetap dan beradaptasi pada tumpukan plastik terapung, menjadikannya rumah baru mereka.

Risiko di Balik Great Pacific Garbage Patch 

Great Pacific Garbage Patch, yang sering dijuluki sebagai "benua ketujuh" karena ukurannya yang masif, menjadi fokus utama perdebatan ini. Meskipun keberadaan jutaan ton plastik tersebut tetap dianggap buruk, Helm berpendapat upaya pembersihan skala besar yang dilakukan secara terburu-buru berisiko memusnahkan komunitas yang sedang berkembang di dalamnya.

"Beberapa proyek pembersihan ini memiliki potensi untuk melenyapkan seluruh ekosistem yang tidak kita pahami dan mungkin tidak akan pernah bisa kita pulihkan," peringat Helm.

Pernyataan ini mendorong refleksi mendalam, apakah tindakan "menyedot" plastik dari laut justru akan memutus mata rantai kehidupan yang lebih besar? Para peneliti menekankan bahwa saat ini manusia belum memiliki cukup pengetahuan tentang ikatan tersembunyi yang terbentuk di zona kaya plastik tersebut.

Dilema Penyelamatan Laut 

Situasi ini menciptakan ironi yang aneh. Di satu sisi, semua orang tahu mikroplastik merusak kesehatan ikan dan membunuh penyu serta burung laut. Di sisi lain, kehidupan laut ternyata mampu beradaptasi dengan cara yang tidak terduga.

Para ilmuwan yang terlibat dalam studi ini, yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Ecology and Evolution, menegaskan bahwa mereka tidak meminta dunia untuk mengabaikan polusi plastik. Sebaliknya, mereka menyerukan perlunya riset yang lebih mendalam sebelum melakukan aksi fisik besar-besaran.

Pesan intinya sederhana: laut adalah jaring kehidupan yang penuh kejutan. Sebelum kita terjun membuang apa yang kita anggap sebagai "sampah", kita harus memastikan bahwa kita tidak sedang menghancurkan sebuah habitat penting yang belum sempat kita pelajari. Memahami cerita lengkap di balik ekosistem plastik ini adalah kunci untuk melindungi samudera tanpa menyebabkan kerusakan baru yang tidak disengaja. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya