Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA puluhan tahun, dunia sepakat jutaan ton plastik yang mencemari samudera adalah ancaman murni bagi kehidupan laut. Namun, sebuah perspektif baru yang provokatif muncul di kalangan peneliti lingkungan, haruskah kita menghentikan sementara upaya pembersihan plastik di lautan?
Saran yang mengejutkan ini berakar pada temuan, tumpukan sampah terapung di samudera bukan sekadar limbah tak berguna, melainkan telah menjadi habitat bagi ekosistem kompleks yang belum sepenuhnya dipahami manusia.
Rebecca Helm, seorang ahli biologi laut dari Georgetown University, menjadi salah satu suara yang mendorong pendekatan yang lebih hati-hati. Penelitiannya menyoroti keberadaan neuston, kelompok organisme yang hidup tepat di permukaan air, mulai dari alga, bakteri, hingga hewan kecil yang hampir tak kasat mata.
Neuston memainkan peran krusial dalam sistem pendukung kehidupan laut, mulai dari menjaga rantai makanan hingga membantu pertukaran gas antara atmosfer dan kedalaman laut. Ironisnya, makhluk-makhluk ini ditemukan menetap dan beradaptasi pada tumpukan plastik terapung, menjadikannya rumah baru mereka.
Great Pacific Garbage Patch, yang sering dijuluki sebagai "benua ketujuh" karena ukurannya yang masif, menjadi fokus utama perdebatan ini. Meskipun keberadaan jutaan ton plastik tersebut tetap dianggap buruk, Helm berpendapat upaya pembersihan skala besar yang dilakukan secara terburu-buru berisiko memusnahkan komunitas yang sedang berkembang di dalamnya.
"Beberapa proyek pembersihan ini memiliki potensi untuk melenyapkan seluruh ekosistem yang tidak kita pahami dan mungkin tidak akan pernah bisa kita pulihkan," peringat Helm.
Pernyataan ini mendorong refleksi mendalam, apakah tindakan "menyedot" plastik dari laut justru akan memutus mata rantai kehidupan yang lebih besar? Para peneliti menekankan bahwa saat ini manusia belum memiliki cukup pengetahuan tentang ikatan tersembunyi yang terbentuk di zona kaya plastik tersebut.
Situasi ini menciptakan ironi yang aneh. Di satu sisi, semua orang tahu mikroplastik merusak kesehatan ikan dan membunuh penyu serta burung laut. Di sisi lain, kehidupan laut ternyata mampu beradaptasi dengan cara yang tidak terduga.
Para ilmuwan yang terlibat dalam studi ini, yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Ecology and Evolution, menegaskan bahwa mereka tidak meminta dunia untuk mengabaikan polusi plastik. Sebaliknya, mereka menyerukan perlunya riset yang lebih mendalam sebelum melakukan aksi fisik besar-besaran.
Pesan intinya sederhana: laut adalah jaring kehidupan yang penuh kejutan. Sebelum kita terjun membuang apa yang kita anggap sebagai "sampah", kita harus memastikan bahwa kita tidak sedang menghancurkan sebuah habitat penting yang belum sempat kita pelajari. Memahami cerita lengkap di balik ekosistem plastik ini adalah kunci untuk melindungi samudera tanpa menyebabkan kerusakan baru yang tidak disengaja. (Earth/Z-2)
Studi terbaru mengungkap kemampuan luar biasa tiram dalam menyaring parasit mematikan yang mengancam kepiting biru. Temuan ini menjadi kunci baru dalam pelestarian ekosistem laut.
Kerentanan di perairan Raja Ampat salah satunya karena ketidakakuratan peta navigasi elektronik global (ENC) yang sering gagal memotret profil terumbu karang yang dinamis.
Peneliti mengungkap fenomena unik di Pulau Prince of Wales, Alaska, di mana serigala darat beradaptasi menjadi pemburu laut. Simak risiko merkuri yang mengancam!
Forum ini mempertemukan pengambil kebijakan, pelaku industri, ilmuwan, dan inovator untuk mencari solusi nyata - bukan sekadar wacana.
Ilmuwan temukan fenomena Marine Darkwaves, yakni kegelapan mendadak di dasar laut yang merusak ekosistem kelp dan terumbu karang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved