Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA 2014, laut di pesisir barat Amerika Serikat tiba-tiba memanas dengan cepat dan bertahan lama. Fenomena gelombang panas laut itu memicu kekacauan besar di ekosistem, burung laut dan singa laut kelaparan, banyak hewan laut kurus dan sakit terdampar di pantai.
Namun, para ilmuwan menemukan masalahnya bukan sekadar soal jumlah ikan yang berkurang. Melainkan penurunan kualitas gizi mangsa di laut.
Tim peneliti dari University of California San Diego bersama Southwest Fisheries Science Center dan UC Santa Cruz meneliti penyebab stres makanan pada singa laut California selama periode pemanasan ekstrem itu.
Hasilnya mengejutkan. Kandungan energi pada ikan kecil seperti teri, sarden, dan cumi, ternyata bervariasi sangat besar, bahkan pada spesies dan ukuran yang sama.
“Dua ikan bisa tampak identik, tapi kandungan energinya bisa sangat berbeda,” kata Stephanie Nehasil, peneliti pascadoktoral di Stony Brook University. “Dalam beberapa kasus, predator harus makan puluhan ribu ikan berkualitas rendah hanya untuk bertahan hidup, dan itu mustahil.”
Ketika laut menghangat, aliran nutrisi dari kedalaman melambat. Rantai makanan melemah mulai dari plankton, lalu ikan kecil, hingga predator besar. Akibatnya, nilai energi (energy density) ikan, ikut menurun.
Nehasil dan timnya menggunakan alat bernama bomb calorimeter untuk mengukur energi pada ratusan sampel ikan dari berbagai ukuran, musim, dan lokasi. Mereka menemukan ikan dari perairan miskin nutrisi cenderung kurus dan rendah energi, sementara ikan dari wilayah produktif mengandung lebih banyak lemak.
Bagi singa laut betina yang menyusui, perbedaan ini sangat penting. Saat gelombang panas 2014, banyak induk gagal mendapatkan makanan bergizi, sehingga anak-anak singa laut mati kelaparan.
“Kami melihat banyak kematian dan mulai bertanya-tanya apakah masalahnya bukan hanya jumlah makanan, tetapi juga kualitasnya,” ujar Nehasil.
Selama ini, model bioenergetika, alat ilmiah yang menghitung kebutuhan makanan hewan laut, menganggap semua ikan dengan ukuran sama memiliki nilai gizi setara. Penelitian baru ini membantah anggapan itu.
“Data ini membantu kami memahami dinamika halus ekosistem laut agar dapat merespons perubahan lingkungan dengan lebih bijak,” kata Profesor Carolyn Kurle, salah satu penulis studi tersebut.
Pemahaman baru tentang “nilai energi ikan” kini dianggap penting bagi pengelolaan perikanan dan perlindungan satwa laut di tengah perubahan iklim yang terus menekan ekosistem samudra. (Earth/Z-2)
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
KERUSAKAN ekosistem global dan perubahan iklim tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga memicu perubahan serius dalam hubungan antara manusia dan nyamuk.
Peneliti ciptakan alat 'Stomata In-Sight' untuk mengamati pori-pori daun saat bernapas. Teknologi ini diharapkan mampu menciptakan tanaman yang lebih hemat air.
Studi terbaru mengungkap masa depan budidaya alpukat di India. Meski permintaan tinggi, perubahan iklim dan emisi karbon mengancam keberlanjutan panen.
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana pola hujan ekstrem mempercepat pelepasan karbon tanah ke atmosfer dan bagaimana biochar menjadi kunci ketahanan tanah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved