Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBANYAKAN orang mungkin akan bergoyang atau paling tidak menganggukan kepala saat mendengarkan music. Akan tetapi sedikit sekali yang mengerti mengapa hal demikian dapat terjadi.
Untuk mengurai fenomena tersebut, peneliti dari Norwegia mencoba mengamati gerakan seseorang saat musik dimainkan. Hasil pengmatannya menunjukan bahwa seseorang mustahil untuk diam, dimana hal itu menunjukan adanya hubungan antara ritme dan gerakan tubuh.
"Belum ada yang berhasil (diam) sejauh ini," kata peneliti sekaligus pakar teknologi musik itu, seperti dilansir Dailymail, Jumat (4/9).
Alexander Refsum Jensenius, demikian nama peneliti dari University of Oslo tersebut, selanjutnya menjelaskan, gerakan seseorang biasanya akan lebih mudah dipicu dengan musik yang memiliki ketukan mantap dan kuat, seperti yang terdengar pada musik dansa elektronik (EDM). Sebaliknya, gerakan lebih sedikit ketika dipicu dengan musik yang memiliki ketukan kurang teratur, seperti yang terdengar pada musik tradisional Norwegia atau India.
Dalam eksperimennya, Jensenius bahkan sampai menyelenggarakan 'lomba diam saat musik dimainkan'. Lomba itu juga berlangsung di Norwegia dengan tajuk Norwegian Championships of Standstill'. Dalam catatannya, Jensenius menjelaskan, bahkan saat seseorang merasa tidak melakukan gerakan pun, tetap ada bagian tubuhnya yang bergerak saat musik dimainkan. Peraih juara dalam lomba yang dibuatnya itu misalnya, gerakannya cukup kecil atau sekitar 3,9 milimeter per detik.
"Rata-rata seseorang mengayunkan kepala sebanyak 7 milimeter per detik saat mereka berusaha untuk diam. Hal itu juga tidak dipengaruhi tinggi, usia, jenis kelamin, atau bahkan waktu berdiri seseorang," imbuhnya.
Jensenius dan timnya di pusat Interdisciplinary Studies in Rhythm, Time and Motion (Ritmo) juga mencoba berbagai efek ritmis pada subjek penelitian. Mulai dari memutar lagu-lagu populer, termasuk hanya memperdengarkan ketukan yang berasal dari metronom.
Ketukan metronom tanpa alunan musik saja sudah dapat membuat seseorang bergerak. Hal itu, menurut Jensenius dan tim, menunjukkan bahwa ketukan memilki peranan yang sangat penting dalam sebuah alunan. Tempramen musik EDM memang lebih mudah memicu gerakan, akan tetapi jenis musik apa pun jika disertai ketukan yang teratur juga akan memiliki pengaruh yang sama.
"Gerakan seseorang saat mendengarkan musik di headphone juga lebih meningkat. Ini karena mereka lebih tertutup secara fisik dan mental. Begitu juga saat menutup mata, ini memiliki dampak yang sama, bahkan membuat gerakan meningkat sekitar 2 milimeter per detik," kata Jensenius. (M-4)
Posisi di tengah membuat seorang anak merasa perlu melakukan upaya ekstra untuk mendapatkan perhatian orangtua yang sering kali terbagi.
Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan
Ada mekanisme psikologis dan neurologis yang sangat kompleks yang membuat manusia modern begitu terobsesi dengan urusan privasi orang lain, seperti netizen yang terobsesi dengan artis.
PEMAHAMANÂ mendalam mengenai tahapan perkembangan psikologi anak bukan sekadar wawasan tambahan, melainkan fondasi utama dalam pola asuh modern di tahun 2026.
Psikologi menyebut orang yang memasak sambil membersihkan dapur memiliki 8 kepribadian kuat, mulai dari disiplin, mindfulness, hingga manajemen waktu yang baik.
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Reaksi emosional selama ini kerap dianggap persoalan selera pribadi, dipengaruhi oleh DNA masing-masing individu merespons karya seni.
Para ilmuwan dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, berhasil mendemonstrasikan bahwa kera besar memiliki kapasitas kognitif untuk "bermain pura-pura" (play pretend).
STUDI dari Spanyol melakukan sebuah penelitian untuk mencoba membantu diagnosis penyakit Alzheimer pada usia 50 tahun. Percobaan itu dilakukan dengan melakukan tes darah.
AHLI biologi dari Hebei University, Tiongkok, Ming Li bersama rekan-rekannya melakukan penelitian dan menemukan bahwa rambut bisa mendeteksi Parkinson
Stimulasi 40Hz setiap hari mampu menjaga fungsi kognitif pasien, bahkan menurunkan biomarker utama penyakit Alzheimer.
LIMA mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) berhasil meraih prestasi gemilang di panggung dunia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved