Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
FILM yang bercerita tanpa dialog. Begitulah film 'Angel Sign' yang didapuk menjadi film pembuka Japanese Film Festival 2019 yang akan mulai berlangsung Kamis (7/11) di CGV Grand Indonesia, Jakarta.
Film yang merupakan proyek omnibus (terdiri dari beberapa film pendek) ini diangkat dari lima karya pemenang Silent Manga Audition, sebuah kompetisi manga tanpa dialog yang diikuti penulis dari 108 negara. Ada enam sutradara bersinar Asia yang terpilih bergabung dalam proyek tersebut. Mereka adalah tiga sutradara Jepang Tsukasa Hojo, Ken Ochiai, dan Masatsugu Asahi; sutradara Thailand Nonzee Nimibutr; sutradara Vietnam Ham Tran; dan dari Indonesia adalah Kamila Andini.
Kamila yang pada 2017 lalu terkenal dengan karya filmnya, Sekala Niskala, pada proyek ini terpilih memfilmkan manga karya Vu Dinh Lam yang berjudul Back Home.
“Salah satu tantangan adalah mengarahkan pemain, karena pemain berasal dari Jepang dan bahasa menjadi kendala utama. Selain itu kendala teknis juga menjadi hal yang rumit dalam proses post produksi. Seperti perpindahan lokasi post produksi dari Jepang ke Indonesia,” tutur Kamila dalam konfrensi pers JFF 2019 yang berlangsung CGV Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (5/11).
Lebih lanjut, sutradara berusia 33 tahun ini menjelaskan meskipun para pemain dan alur cerita sebagian besar bertemakan Jepang, namun nilai-nilai sosial Indonesia juga terasa dalam film ini. "Topik utamanya tentang relasi kehilangan. Semua orang pernah mengalami kehilangan, tapi yang paling besar memorinya. Filmnya sensitif seperti orang Jepang, tapi sebenarnya orang Indonesia seperti itu juga. Sentimentil terhadap memori, keluarga, value cinta. Jadi menurut saya walaupun ini film cerita dasarnya kebanyakan film Jepang, namun berhubungan dengan orang Indonesia,” jelasnya.
Pecinta film Indonesia dapat menyaksikan “Angel Sign” di gelaran Japanese Film Festival (JFF) 2019 yang mulai berlangsung Kamis (7/11) di CGV Grand Indonesia. Indonesia menjadi negara pertama penayangan film ini, sebelum "Angel Sign" ditayangkan di negara asalnya pada 15 November 2019.
Yusei Kato, produser “Angel Sign” mengungkapkan jika ketiadaan dialog tidak menghalangi film tersebut untuk bisa diterima dan dimengerti penonton. Justru dengan komposisi musik yang digunakan sebagai pengganti dialog, film tersebut dapat diterima orang di seluruh dunia. "Cerita di film ini tidak menggunakan dialog. Kita menggunakan suara musik sehingga bisa dirasakan dan relate dengan orang-orang di seluruh dunia." ujarnya.
Japanese Film Festival 2019, merupakan kegiatan tahunan dari Japan Fondation. Sudah keempat kalinya festival film ini diadakan oleh Japan Fondation di Indonesia. Rencananya, JFF akan digelar hingga 22 Desember 2019 dan juga berlangsung di Yogyakarta, Makassar, Surabaya, dan Bandung. Khusus di Yogyakarta, JFF akan bekerja sama dengan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). (M-1)
Na Willa bukan sekadar tontonan, melainkan undangan untuk merasakan kembali dunia yang dibangun dengan keberanian anak-anak.
Messi Gusti mengungkapkan perbedaan signifikan saat syuting menggunakan teknologi extended reality (XR) dibandingkan dengan metode motion capture biasa di film Pelangi di Mars.
Diadaptasi dari manga karya Tatsuki Fujimoto, layar lebar dari anime Chainsaw Man akan membawa babak baru yang lebih brutal dan emosional bagi perjalanan hidup sang tokoh utama, Denji.
Ada lima karakter robot utama yang akan menjadi pusat perhatian dalam film Pelangi di Mars.
Deddy Mizwar menjelaskan bahwa film Rumjah Tanpa Cahaya merupakan sebuah refleksi tentang kehilangan.
Film anak bergenre musikal-petualangan ini tidak hanya menyuguhkan keindahan visual, tetapi juga membawa pesan mendalam tentang relasi manusia dengan alam.
Selain menjadi panggung budaya, festival ini juga melibatkan pelaku UMKM desa penyangga sebagai bagian dari penguatan ekonomi lokal.
Kegiatan ini berlangsung 2 hari pada 24 - 25 Januari 2026 berlokasi di Ex Hanggar Teras Pancoran, Jakarta Selatan..
Dalam momentum Hari Disabilitas Internasional, sebuah festival inklusi bertajuk Limitless Fest 2025 digelar melalui kampanye keberlanjutan Bangun Bangsa.
Festival ini lahir bukan sebagai seremonial semata melainkan menjadi gerakan sosial yang dirancang sistematis, monumental, dan berkelanjutan.
Setiap aktivitas dirancang berdasarkan misi utama Facebook: menciptakan hubungan yang tulus dan kebersamaan penuh tawa yang lahir dari partisipasi para pengguna di Indonesia.
Sekitar 3.000 pengunjung bergerak dari satu titik ke titik lainnya untuk menikmati keseluruhan rangkaian Soundrenaline yang tersebar di Lapangan Benteng, hingga simpul kota.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved