Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Mengelola Risiko Agen AI: Strategi Keamanan Siber dari Kaspersky

Basuki Eka Purnama
03/2/2026 11:10
Mengelola Risiko Agen AI: Strategi Keamanan Siber dari Kaspersky
Ilustrasi(Freepik)

KEHADIRAN agen AI otonom dalam operasional bisnis bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan tantangan nyata bagi tata kelola perusahaan. Tanpa pengawasan yang tepat, agen AI yang mampu mengambil keputusan dan memproses data sensitif secara mandiri dapat memicu kerusakan fatal, mulai dari layanan pelanggan yang buruk hingga kehancuran basis data utama perusahaan.

Menanggapi fenomena ini, pakar keamanan dari Kaspersky membagikan panduan strategis bagi organisasi untuk memitigasi risiko tindakan berbahaya dari agen AI yang mereka gunakan.

Pendekatan Zero Trust untuk AI

Mengingat sifat LLM yang probabilistik, keamanan yang benar-benar sempurna dianggap hampir mustahil untuk dicapai. 

Namun, Kaspersky menyarankan penerapan strategi yang mendekati Zero Trust. Inti dari strategi ini adalah membatasi otonomi agen dengan prinsip hak akses minimal (least privilege).

Organisasi harus memastikan agen AI hanya memiliki akses ke alat, API, dan data tertentu yang relevan dengan misinya saja. 

Penggunaan kredensial berumur pendek, seperti token sementara, sangat disarankan untuk mencegah penyerang menggunakan kembali identitas jika agen berhasil dikompromikan.

Pengawasan Ketat dan Isolasi Eksekusi

Keamanan operasional dapat diperketat melalui beberapa langkah teknis berikut:

  1. Keterlibatan Manusia (Human-in-the-Loop): Konfirmasi manusia secara eksplisit wajib ada untuk tindakan berisiko tinggi atau tidak dapat dibatalkan, seperti penghapusan data massal atau transfer keuangan.
  2. Sandbox dan Isolasi: Menjalankan kode di lingkungan terisolasi (kontainer) dengan daftar izin (*allowlist*) koneksi jaringan untuk mencegah panggilan keluar yang tidak sah.
  3. Validasi Input-Output: Penerapan filter khusus diperlukan di setiap tahap pemrosesan data guna memeriksa potensi injeksi berbahaya.
  4. Kill Switches: Organisasi harus memiliki mekanisme untuk mengunci agen secara instan jika terdeteksi perilaku anomali.

Pentingnya Pemantauan dan Edukasi

Kaspersky menekankan bahwa organisasi yang sudah memanfaatkan sistem XDR dan SIEM akan memiliki keunggulan dalam mendeteksi lonjakan panggilan API yang mencurigakan atau upaya replikasi diri agen. 

Selain itu, setiap baris kode yang dihasilkan oleh AI harus dipindai secara otomatis menggunakan alat seperti Kaspersky Cloud Workload Security untuk menemukan kerentanan sebelum dijalankan.

Langkah terakhir yang tidak kalah krusial adalah edukasi karyawan. 

"Mengingat betapa cepatnya bidang ini berkembang, video kepatuhan setahun sekali tidak akan cukup," tulis laporan tersebut, menekankan bahwa pelatihan harus diperbarui beberapa kali dalam setahun untuk mencerminkan realitas operasional AI yang terus berubah.

Bagi para profesional di bidang keamanan, kursus spesialis seperti Kaspersky Expert Training: Large Language Models Security direkomendasikan untuk mendalami strategi pertahanan terhadap ancaman LLM. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya