Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
FILM drama keluarga dengan sentuhan fiksi ilmiah (Sci-fi), Esok Tanpa Ibu segera tayang di bioskop, menawarkan kisah berbeda dari film Indonesia umumnya, menghadirkan sebuah kisah keluarga yang dibalut dengan pendekatan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Film itu digarap Sutradara asal Malaysia, Ho Wi-Ding, dengan aktris Dian Sastro berperan sebagai sosok Ibu berbasis teknologi AI, pun terlibat dalam film Ringgo Agus Rahman (Ayah) dan Ali Fikry (Rama).
“Perjalanan film ini cukup panjang, akhirnya kami sampai di pekan yang di mana kami akan merilis film ini. (Film) dimulai sekitar tahun 2020, kemudian kami juga sudah mulai bertemu penonton dari Busan Internasional Film Festival (2025), kemudian di JAFF, dan juga sudah ada beberapa nobar sampai saat ini. Saya sangat happy karena sambutannya cukup positif,” kata Produser Film Esok Tanpa Ibu, Shanty Hermayn, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (19/1).
Dijelaskan Shanty, dengan film yang memiliki cerita cukup kompleks dengan teknologi AI menjadi salah satu sorotan utama, membuat proses ide cerita berjalan cukup panjang. Selain itu film ini juga menghadirkan kolaborasi dari sejumlah rumah produksi, termasuk keterlibatan rumah produksi asal Singapura.
”Pengembangan skrip dimulai tahun 2020. Karena kami tahu kami mau menelusuri sebuah ide yang cukup menarik tapi kompleks, jadi kami perlu sekali memikirkan ini dengan baik. Kemudian dari segi produksi, ini juga bukan hanya Base yang ada di sini, ini juga kolaborasi saya dengan Dian (Bencon Film) hingga kamijuga berkolaborasi dengan, Refinery Media asal Singapura,” jelas Shanty
Film Esok Tanpa Ibu, mengambil kisah Rama yang tak sejalan dengan Ayahnya , dan hanya dekat dengan Ibunya harus menghadapi situasi sulit ketika Ibunya jatuh koma. Saat mulai terpuruk, Rama menemukan bantuan tak terduga dalam i-BU: sebuah AI ciptaan temannya yang membuat Rama bisa melihat wajah, suara, dan bahkan menjadikan AI tersebut alat bantu untuk merangsang kerja otak Ibunya.
“Saya harapkan film ini menjadi ruang reflektif, ruang dialog, dan juga mengenai keluarga, mengenai komunikasi, dan juga di tengah teknologi yang sangat-sangat cepat saat ini. Mudah-mudahan film ini jadi surat cinta untuk keluarga Indonesia,” tukas Shanty. (H-4)
MENAG Nasaruddin Umar, berbicara tentang ekotelogi serta peran agama dan kesadaran kemanusiaan di era Artificial Intelligence (AI) pada konferensi internasional yang berlangsung di Mesir.
Pada 2025, jumlah pengguna PLN Mobile melonjak drastis hingga melampaui 50 juta pengunduh dan total transaksi tahunan lebih dari 30 juta transaksi.
Marhaenisme sebagai ideologi organisasi tidak boleh anti-teknologi. Sebaliknya, teknologi harus dikendalikan oleh nilai-nilai ideologis untuk kepentingan rakyat kecil.
Inilah paradoks utama media massa di era AI.
Perusahaan manajemen medis global, Medix, menilai pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi menjadi kunci penting untuk menutup kesenjangan layanan kesehatan di Indonesia.
Dalam sesi temu media, Dian berbagi pengalaman pribadinya tentang bagaimana ia terus berkarya dan berani memulai hal baru meski telah menginjak usia 40 tahun.
ARTIS Dian Sastro yang tengah menggeluti bidang kuliner, fesyen, fotografi, hingga film, tidak melupakan kegemarannya melahap buku biografi dan kepemimpinan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved