Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Agentic AI, Transformasi Kolaborasi Manusia dan Mesin di 2026

Basuki Eka Purnama
19/12/2025 19:37
Agentic AI, Transformasi Kolaborasi Manusia dan Mesin di 2026
Ilustrasi(Freepik)

TAHUN 2026 diprediksi akan menjadi titik balik krusial bagi dunia kerja global dan domestik. Teknologi kecerdasan buatan tidak lagi sekadar menjadi pendukung teknis, melainkan bertransformasi menjadi Agentic AI, infrastruktur strategis yang menopang kinerja utama perusahaan sekaligus mengubah cara karyawan dan pelanggan berinteraksi.

Head of Asia Zoom, Lucas Lu, merangkum tiga tren utama yang akan mendominasi lanskap teknologi pada 2026. Menurutnya, Agentic AI membawa lompatan besar melalui empat kemampuan inti: berpikir mandiri, memahami konteks, mengeksekusi pekerjaan, serta mengoordinasikan proses kerja secara otonom.

AI Sebagai Infrastruktur dan Rekan Kerja

Berbeda dengan asisten AI konvensional yang memerlukan perintah langsung (prompt), Agentic AI mampu mengambil tindakan dan menjalankan alur kerja secara mandiri. 

Fenomena ini memicu lahirnya sistem AI chain-of-command, di mana antaragen AI saling berkomunikasi untuk menyelesaikan tugas kompleks tanpa intervensi manual yang intens.

Di Indonesia, adopsi teknologi ini menunjukkan tren positif. Survei terbaru Zoom mencatat bahwa 98% responden di Indonesia telah mengintegrasikan AI di lingkungan kerja mereka tahun ini. 

Hal itu memosisikan AI bukan lagi sebagai alat tambahan, melainkan lapisan penting dalam pengalaman pelanggan dan kolaborasi harian.

Evolusi Layanan Pelanggan: Fokus pada Konteks

Dari sisi pengalaman pelanggan (Customer Experience), agen virtual kini berevolusi menjadi "anggota tim" yang andal. 

Sistem AI masa depan mampu menentukan kapan harus menggunakan scripted bot, model agentic, atau asisten suara, serta kapan harus mengalihkan percakapan ke agen manusia secara mulus.

Isu peralihan ini menjadi sangat krusial di Indonesia, terutama bagi kelompok AI natives (pekerja usia 18-24 tahun). 

Riset Zoom menunjukkan bahwa 68% AI natives di Indonesia mengharapkan agen manusia memahami konteks permasalahan secara utuh tanpa perlu pengulangan. Selain itu, 78% dari mereka menuntut layanan yang lebih cepat dan efisien—angka tertinggi di kawasan Asia-Pasifik.

Efisiensi Kerja dan Tantangan Kualitas

Integrasi Agentic AI diprediksi akan membebaskan karyawan dari beban pekerjaan manual seperti pembaruan status proyek dan penjadwalan rapat. Dengan dukungan intelligent agents, karyawan dapat memusatkan energi pada aspek kreativitas, strategi, dan hubungan antarmanusia.

Namun, tantangan besar tetap ada pada kualitas pemahaman konteks. Lucas Lu menyoroti bahwa keterbatasan AI dalam memahami konteks menjadi keluhan utama bagi 42% AI natives di Indonesia.

“Kami memperkirakan bahwa untuk mengatasi masalah kualitas ini, banyak perusahaan akan mengadopsi pendekatan federated terhadap AI, yakni dengan memanfaatkan berbagai model AI untuk mencapai akurasi, fleksibilitas, dan efisiensi biaya yang lebih tinggi,” jelas Lucas.

Melalui pendekatan ini, perusahaan diharapkan dapat membangun sistem AI yang adaptif dan tangguh untuk memperluas kemampuan Agentic AI ke seluruh unit bisnis di masa depan. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya