Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA burung migran, yang muncul jauh dari area yang biasa mereka huni, selalu menarik perhatian para pengamat burung dan ilmuwan. Burung-burung yang "meleset" ini, yang tadinya dianggap sebagai kejadian kebetulan atau kesalahan dalam navigasi, kini dilihat sebagai petunjuk penting tentang cara spesies beradaptasi, berevolusi, serta mengubah jalur migrasinya.
Benjamin Van Doren dan tim dari University of Illinois Urbana-Champaign, Cornell Lab of Ornithology, dan Point Blue Conservation Science melakukan penyelidikan mendalam untuk memahami mengapa beberapa burung menyimpang dari jalur yang seharusnya mereka ambil.
Mereka meneliti enam jenis burung penyanyi kecil yang sering ditemukan di Kepulauan Farallon, sebuah pulau terpencil di Samudra Pasifik, 48 kilometer dari San Francisco, yang dikenal sebagai "zona pendaratan mengejutkan" untuk burung liar.
Pendekatan penelitian mereka sangat menarik, di mana para ilmuwan menganalisis bulu burung. Ketika burung makan dan minum, tubuh mereka menyerap rasio isotop hidrogen (deuterium) khas dari air di daerah tersebut. Rasio ini terjebak dalam bulu saat tumbuh, berfungsi seperti tanda lokasi geografis.
Dari analisis bulu, termasuk sampel burung liar baru dan contoh dari museum sejak akhir abad ke-19, ditemukan bahwa keenam spesies burung migran itu berasal dari wilayah barat dalam area berkembang biak mereka, yang terletak di hutan boreal di bagian barat Kanada. Populasi di wilayah barat ini cenderung lebih kecil dibandingkan dengan yang ada di timur.
Penemuan ini membantah teori bahwa burung migran hanya terbang secara acak, atau bahwa mereka cenderung berasal dari daerah dengan populasi yang tinggi.
Hasil penelitian ini tampaknya mendukung teori yang diajukan pada tahun 1970-an, yaitu bahwa burung liar mungkin mengalami kesalahan navigasi sederhana. Banyak burung penyanyi mewarisi jalur migrasi mereka melalui jenis "kompas internal."
Jika terjadi sedikit perubahan genetik yang mengacaukan kompas ini, burung bisa terbang ke arah yang salah, yang menjelaskan mengapa burung dari Pantai Timur bisa saja berakhir di Pantai Barat.
Namun, fakta bahwa burung-burung yang terlencan ini berasal dari wilayah barat persebaran mereka mengindikasikan sesuatu yang lebih dalam, yaitu pengembaraan mungkin bukan semata-mata kegagalan.
Menurut Van Doren, burung migran bisa dianggap sebagai perintis adaptasi. Dengan adanya perubahan iklim, daerah yang sebelumnya tidak bersahabat di musim dingin mungkin menjadi habitat baru yang ideal. Burung-burung yang "meleset" ini mungkin sedang membuka jalan bagi spesies mereka untuk memperluas wilayah geografis.
"Mungkin mereka tidak benar-benar 'hilang'. Mungkin mereka adalah penjelajah," tutur Van Doren. Penelitian ini masih terus berjalan untuk memahami secara menyeluruh mengapa perubahan kecil dapat mengubah jalur migrasi, guna membangun pemahaman yang lebih baik mengenai adaptasi dan migrasi burung di masa mendatang.
Sumber: Earth
Berkat proses evolusi yang panjang, burung telah mengembangkan berbagai adaptasi luar biasa untuk bertahan di tengah kondisi yang keras.
Penelitian terbaru menunjukkan lubang besar di bagian atas tengkorak dinosaurus T. rex bagian dari sistem termoregulasi yang mirip dengan “pendingin udara” alam
Kombinasi bodi ramping dan otot yang kuat memungkinkan walet melakukan penerbangan jarak jauh tanpa kelelahan yang berarti.
Menurut Simply Birding, habitat utama Nyctyornis amictus meliputi hutan tropis primer dan sekunder di Thailand, Semenanjung Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan.
Burung beo malam (night parrot), salah satu burung paling misterius di dunia, kembali mengejutkan para ilmuwan.
Burung yang paling sering terlihat di punggung badak Afrika adalah oxpecker. Burung ini menghabiskan sebagian besar waktunya di tubuh hewan besar untuk mencari makan.
Fenomena langka ini memungkinkan aliran air mengukir Ngarai Lodore sedalam 700 meter tepat di jantung pegunungan, sebuah jalur yang secara logika topografi
Jika skenario itu terjadi, sebagian besar daratan akan berada jauh dari pengaruh pendinginan laut. Fenomena ini dikenal sebagai efek kontinentalitas, yakni kondisi ketika wilayah pedalaman
Berbeda dengan Bumi yang memiliki lempeng tektonik yang saling bertabrakan atau menjauh, Bulan hanya memiliki satu kerak yang utuh dan berkesinambungan.
Bulan perlahan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun. Fenomena ini membuat rotasi Bumi melambat dan panjang satu hari bertambah, meski perubahan terjadi sangat lambat.
Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh Prof Steve Brusatte dari University of Edinburgh bersama Dr Gregor Hartmann dari Helmholtz-Zentrum, Jerman.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature melalui makalah berjudul Soft photonic skins with dynamic texture and colour control.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved