Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Antariksa Eropa (ESA) melalui wahana antariksa Solar Orbiter berhasil memberikan pandangan terdekat pertama terhadap medan magnet Matahari di wilayah kutub selatan. Hasilnya mengejutkan para ilmuwan.
Citra gabungan yang diambil selama delapan hari pada Maret 2025 menampilkan lengkungan bercahaya di sekitar kutub selatan Matahari. Jejak dari struktur magnetik yang bergerak menuju tepi Matahari dengan kecepatan tinggi. Temuan ini menunjukkan medan magnet Matahari bermigrasi ke arah kutub jauh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
“Untuk memahami siklus magnetik Matahari, kita masih kekurangan pengetahuan tentang apa yang terjadi di kutubnya,” ujar Sami Solanki, Direktur di Max Planck Institute for Solar System Research, Jerman, sekaligus penulis pendamping riset ini. “Solar Orbiter kini mampu memberikan potongan penting yang selama ini hilang dalam teka-teki tersebut.”
Matahari diketahui memiliki siklus magnetik sekitar 11 tahun, di mana medan magnetnya berubah, terbalik, dan terbentuk kembali. Siklus ini memicu berbagai fenomena seperti bintik matahari, semburan api (solar flare), hingga badai matahari besar yang dapat memengaruhi Bumi. Di inti proses ini terdapat aliran plasma lambat berbentuk “ban berjalan magnetik”, yang mengangkut garis medan magnet dari ekuator ke kutub di permukaan, lalu kembali ke ekuator di lapisan dalam.
Selama ini, kutub Matahari sulit diamati langsung dari Bumi karena posisinya yang hampir tegak lurus terhadap bidang orbit pengamatan. Sebagian besar wahana antariksa sebelumnya hanya mengorbit di sekitar garis ekuator Matahari, meninggalkan wilayah kutub hampir tak tersentuh.
Namun, situasi berubah pada Maret 2025, ketika Solar Orbiter memiringkan orbitnya sebesar 17 derajat, memberikan pandangan langsung pertama ke sisi selatan Matahari.
Dalam penelitian terbaru, tim Solanki menggunakan dua instrumen utama Solar Orbiter, Polarimetric and Helioseismic Imager (PHI) dan Extreme Ultraviolet Imager (EUI), untuk memetakan pergerakan plasma panas dan medan magnet di permukaan Matahari.
Hasilnya menunjukkan bahwa gelembung plasma raksasa bernama supergranula, yang ukurannya dua hingga tiga kali lipat Bumi, mendorong medan magnet menuju kutub dengan kecepatan 32 hingga 72 kilometer per jam. Kecepatan ini hampir setara dengan aliran di sekitar ekuator, dan jauh lebih cepat dari model ilmiah yang pernah diperkirakan.
“Supergranula di kutub berfungsi seperti penanda,” kata Lakshmi Pradeep Chitta, peneliti utama studi ini. “Mereka membuat komponen sirkulasi global Matahari yang berlangsung selama sebelas tahun terlihat untuk pertama kalinya.”
Penulis studi menyebut temuan ini sebagai “era baru eksplorasi kutub Matahari”, membuka jalan untuk memahami mesin penggerak siklus magnetik yang membentuk dinamika seluruh tata surya.
Hasil riset ini dipublikasikan pada 5 November 2025 di jurnal The Astrophysical Journal Letters. (Space/Z-2)
Komet antarbintang 3I/ATLAS akan melintas paling dekat dengan Bumi pada 19 Desember. Meski aman, momen ini penting bagi ilmuwan untuk mempelajari materi pembentuk planet dari luar tata surya.
Teleskop James Webb menangkap detail menakjubkan tabrakan dua galaksi kerdil NGC 4490 dan NGC 4485, termasuk jembatan gas bercahaya.
Satelit Sentinel-4 milik ESA berhasil mengirimkan citra pertama yang memetakan polusi udara di Eropa dan Afrika Utara. Misi ini akan memantau kualitas udara setiap jam.
Wahana antariksa ESA menangkap pola mirip barcode di lereng Mars. Penelitian baru menunjukkan fenomena ini bukan akibat tumbukan meteorit.
Profesor Harvard Avi Loeb memicu perdebatan setelah menyebut komet antarbintang 3I/ATLAS menunjukkan percepatan non-gravitasi misterius.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved