Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA astronom memiliki teori baru tentang pembentukan planet, dan teori ini berpusat pada satu konsep: pengunjung antarbintang. Sebuah objek ruang angkasa seperti komet 3I/ATLAS yang ditemukan musim panas ini.
Dalam penelitian yang dipaparkan oleh Profesor Susanne Pfalzner dari Forschungszentrum Jülich, dijelaskan bahwa objek antarbintang bisa berperan sebagai benih yang memicu terbentuknya planet di sekitar bintang muda.
Secara umum, para ilmuwan percaya bahwa planet terbentuk melalui proses yang disebut akresi, di mana partikel-partikel kecil dalam cakram gas dan debu di sekitar bintang muda saling menghantam dan menempel satu sama lain, hingga membentuk benda berukuran planet. Namun, teori ini menyisakan masalah, ketika objek yang lebih besar bertabrakan, seharusnya mereka lebih cenderung saling terpental atau hancur ketimbang bergabung menjadi satu.
Model yang dikembangkan oleh Pfalzner menunjukkan bahwa objek-objek antarbintang yang sebenarnya terlempar dari sistem bintang lain dapat tertangkap oleh cakram pembentuk planet. Begitu tertangkap, benda-benda tersebut dapat berfungsi sebagai inti atau “benih” yang membantu mengatasi hambatan dalam proses pertumbuhan planet dengan menyediakan massa awal yang besar untuk menarik material tambahan melalui akresi.
Menurut Pfalzner, objek antarbintang bisa mempercepat pembentukan planet, terutama di sekitar bintang dengan massa besar. Hasil simulasi bahkan memperkirakan bahwa setiap cakram protoplanet dapat menangkap jutaan objek antarbintang.
Temuan ini juga menjelaskan fenomena lain: planet-planet gas raksasa seperti Jupiter cenderung ditemukan mengorbit bintang-bintang yang lebih besar. Meskipun cakram gas dan debu di sekitar bintang bermassa besar biasanya hanya bertahan sekitar dua juta tahun sebelum menghilang.
Waktu yang sesingkat itu seharusnya tidak cukup untuk membentuk planet gas raksasa. Namun, kehadiran objek antarbintang dapat mempercepat proses tersebut, memungkinkan planet besar terbentuk dalam waktu singkat.
Pfalzner menambahkan bahwa bintang dengan massa lebih besar memiliki kemampuan lebih baik dalam menangkap objek-objek antarbintang di dalam cakramnya. Karena itu, pembentukan planet yang dipicu oleh pengunjung antarbintang kemungkinan terjadi lebih efisien di sekitar bintang-bintang semacam ini. Hal ini sejalan dengan pengamatan bahwa planet raksasa memang terbentuk lebih cepat di sana.
Penemuan 3I/ATLAS pada musim panas lalu, yang merupakan objek antarbintang ketiga yang terdeteksi melintasi tata surya setelah 1I/‘Oumuamua pada 2017 dan 2I/Borisov pada 2019 semakin memperkuat hipotesis tersebut. Penelitian ini menandakan bahwa objek-objek semacam itu mungkin jauh lebih umum daripada perkiraan sebelumnya, sehingga besar kemungkinan bintang-bintang muda di berbagai penjuru galaksi sering menerima “bahan bangunan” dari sistem bintang asing.
Sumber: space.com
Sistem peringatan dini benturan benda langit Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) berhasil mendeteksi sebuah objek yang melintas melalui Tata Surya.
Meskipun 3I/ATLAS kini berada di tahap akhir penjelajahannya di tata surya, data yang dikumpulkan darinya kemungkinan akan terus memberikan informasi kepada para ilmuwan
Komet antarbintang 3I/ATLAS kembali menarik perhatian setelah pengamatan terbaru menunjukkan adanya kemungkinan letusan gunung es atau kriovolkano di permukaannya.
NASA merilis rangkaian foto terbaru komet antar bintang 3I/ATLAS yang diambil 15 misi luar angkasa. Data awal mengonfirmasi komposisi unik komet purba ini.
Komet raksasa seukuran Manhattan, 3I/ATLAS, objek antarbintang ketiga yang pernah memasuki tata surya kita, kembali menjadi sorotan dunia
Komet antar bintang 3I/ATLAS menarik perhatian publik setelah disebut berubah warna secara misterius. Ilmuwan menjelaskan fenomena ini dan meluruskan kabar yang beredar.
Pemetaan semacam ini dipandang sebagai terobosan signifikan karena memungkinkan para ilmuwan untuk memahami kondisi atmosfer di luar tata surya.
Para astronom untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi ledakan besar yang dilepaskan oleh sebuah bintang di luar tata surya.
Sejumlah astronom menemukan cadangan air terbesar yang pernah diketahui di alam semesta. Lautan ini ditemukan di sebuah quasar raksasa yang berjarak sekitar 12 miliar tahun cahaya dari Bumi.
Clyde Tombaugh meraih gelar sarjana dan magister dalam astronomi dari Universitas Kansas sambil bekerja di observatorium setiap musim panas.
Astronom kembali menemukan objek yang menarik untuk diamati, Komet 3I/ATLAS. Komet ini merupakan objek ketiga yang diketahui berasal dari luar tata surya.
Para astronom berhasil menangkap gambar menakjubkan dari komet antarbintang 3I/ATLAS yang kini menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved