Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
ASTRONOM sedang menimbang penggunaan desain teleskop luar angkasa berbentuk persegi panjang, bukan lingkaran, untuk membantu menemukan exoplanet mirip Bumi di sekitar bintang terdekat. Penelitian terbaru yang dipimpin oleh Heidi Newberg, profesor astrofisika di Rensselaer Polytechnic Institute, New York, menunjukkan bahwa konsep ini berpotensi menjadi terobosan besar.
"Kami menunjukkan menemukan planet mirip Bumi di dekatnya yang mengorbit bintang mirip Matahari sangat mungkin dilakukan," ujar Newberg.
"Teleskop dengan ukuran hampir sama dengan James Webb Space Telescope (JWST), namun dengan cermin persegi panjang berukuran 1 x 20 meter, bisa menjadi jawabannya."
Selama ini, teleskop luar angkasa generasi berikutnya yang diusulkan umumnya memiliki cermin bundar berdiameter minimal 8 meter. Namun, Newberg dan timnya menyadari cermin persegi panjang bisa jauh lebih efisien dan lebih murah untuk dibuat.
Teleskop perlu dioptimalkan untuk mendeteksi cahaya pada panjang gelombang 10 mikron, panjang gelombang inframerah tempat uap air memancarkan cahayanya. Uap air di atmosfer planet adalah salah satu petunjuk utama kehidupan.
Namun, untuk bisa mengidentifikasi planet seukuran Bumi yang kaya air, dibutuhkan resolusi tinggi yang biasanya memerlukan diameter cermin sangat besar, mendekati 20 meter. Membuat cermin bundar sebesar itu sangat mahal dan merupakan tantangan teknis karena harus dilipat agar muat di dalam roket.
Di sinilah ide teleskop persegi panjang muncul. Cermin strip berukuran 20 x 1 meter memiliki area pengumpul cahaya yang lebih kecil (20 meter persegi) dibandingkan JWST (25,4 meter persegi), tetapi seluruh area tersebut dapat digunakan secara efisien. Teleskop ini bisa diselaraskan sesuai orientasi planet target, bahkan diputar jika diperlukan.
Dengan teleskop unik ini, para astronom bisa menargetkan sekitar 69 bintang mirip Matahari dan hampir 300 bintang kerdil merah yang berada dalam jarak 30 tahun cahaya dari tata surya kita.
"Desain ini, pada prinsipnya, bisa menemukan setengah dari semua planet mirip Bumi yang ada di sekitar bintang mirip Matahari dalam waktu kurang dari tiga tahun," kata Newberg. "Jika ada sekitar satu planet mirip Bumi di setiap bintang mirip Matahari, kami akan menemukan sekitar 30 planet yang menjanjikan." (Space/Z-2)
Teleskop Hubble NASA mendeteksi bintang katai putih 260 tahun cahaya dari Bumi sedang menghancurkan objek mirip Pluto yang 64% terdiri dari es air.
Teleskop Luar Angkasa James Webb kembali mencetak tonggak sejarah dengan mengungkap galaksi paling muda dan paling jauh yang pernah terdeteksi.
Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) kembali mencuri perhatian dengan penemuan luar biasa.
Pemetaan semacam ini dipandang sebagai terobosan signifikan karena memungkinkan para ilmuwan untuk memahami kondisi atmosfer di luar tata surya.
Astronom temukan kemungkinan bahwa beberapa objek luar surya yang selama ini dianggap planet sebenarnya adalah lubang hitam purba sisa Big Bang.
Astronom mengungkap 51 sistem bintang muda dengan cincin debu menakjubkan melalui teleskop ESO. Temuan ini memberi gambaran penting tentang proses awal pembentukan planet.
Teleskop James Web menangkap fenomena langka. Planet raksasa WASP-107b kehilangan atmosfernya, memicu awan helium raksasa yang bergerak mendahului orbitnya.
Teleskop NASA TESS menemukan tiga planet seukuran Bumi di sistem bintang ganda TOI-2267.
Tiga dekade lalu, penemuan 51 Pegasi b menjadi tonggak sejarah astronomi dakan pencarian ribuan eksoplanet di galaksi Bima Sakti.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved