Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
WAHANA Parker Solar Probe milik NASA berhasil menyelesaikan terbang dekat keduanya dengan Matahari. Pesawat luar angkasa seukuran mobil ini melesat dalam jarak 6,1 juta kilometer dari permukaan Matahari dengan kecepatan luar biasa 692.000 kilometer per jam, menyamai rekor bersejarah yang dicapainya saat mendekati Matahari pada Malam Natal tahun lalu.
Dalam pendekatan yang terjadi pada Sabtu (22/3) ini, Parker Solar Probe kembali beroperasi secara mandiri. Empat instrumen ilmiahnya diprogram untuk mengumpulkan data tentang angin matahari dari dalam korona Matahari. Pada Selasa (25/3), wahana ini mengirimkan sinyal ke Bumi sebagai tanda kondisinya baik dan semua sistem berfungsi normal, menurut pernyataan NASA.
“Terbang dekat ini, yang kedua pada jarak dan kecepatan ini, memungkinkan wahana luar angkasa melakukan pengukuran ilmiah yang tak tertandingi terhadap angin matahari dan aktivitas terkait lainnya,” kata NASA dalam pernyataan resminya.
Para ilmuwan berharap data jarak dekat yang dikumpulkan wahana ini dapat membantu mereka memprediksi cuaca luar angkasa dengan lebih baik serta menjawab misteri lama tentang Matahari, seperti mengapa korona Matahari memiliki suhu ratusan kali lebih panas dibandingkan permukaannya saat menjalar ke luar angkasa.
“Misi inovatif ini sedang menulis ulang buku teks ilmu Matahari dengan menjelajahi tempat yang belum pernah dicapai oleh objek buatan manusia sebelumnya,” kata Administrator Sementara NASA, Janet Petro, dalam pernyataan lainnya.
Keberhasilan Parker Solar Probe dalam mencetak rekor ini menunjukkan efektivitas perisai panas khususnya, yang melindungi wahana dari panas ekstrem Matahari. Perisai ini memungkinkan komponen elektronik dan instrumennya berfungsi pada suhu ruangan.
Sebagai pengakuan atas sistem perlindungan termal yang dirancang khusus dan berbagai kemajuan aeronautika lainnya yang berkontribusi pada desain wahana ini, tim Parker Solar Probe—terdiri dari insinyur dan ilmuwan dari NASA, Johns Hopkins Applied Physics Laboratory di Maryland, serta 40 organisasi mitra lainnya di seluruh AS—baru-baru ini dianugerahi Penghargaan Robert J. Collier Trophy 2024 oleh National Aeronautic Association.
“Tim luar biasa ini berhasil mewujudkan misi sains luar angkasa yang sangat sulit, yang telah dipelajari dan dianggap mustahil selama lebih dari 60 tahun,” ujar Ralph Semmel, Direktur Johns Hopkins Applied Physics Laboratory di Maryland, dalam pernyataannya.
“Mereka melakukannya dengan memecahkan berbagai tantangan teknologi yang telah lama ada serta secara dramatis meningkatkan kemampuan penerbangan luar angkasa negara kita.”
Parker Solar Probe, yang diluncurkan pada 2018, dijadwalkan akan melakukan satu lagi terbang dekat dengan Matahari tahun ini, pada 19 Juni, dengan kecepatan dan jarak yang hampir sama. (space/Z-2)
Penelitian terbaru mengungkap fenomena mengejutkan di bulan-bulan es seperti Enceladus dan Miranda. Penurunan tekanan akibat lelehan es bisa memicu samudra bawah tanah mendidih.
Astronom berhasil menangkap citra "astrosfer" pertama di bintang HD 61005. Penemuan ini mengungkap rahasia masa lalu Tata Surya kita saat masih muda.
Update terbaru Jupiter Maret 2026: NASA ungkap Jupiter lebih kecil dan gepeng dari perkiraan. Cek juga jadwal parade planet dan pendekatan komet antarbintang.
Berbeda dengan Bumi yang memiliki lempeng tektonik yang saling bertabrakan atau menjauh, Bulan hanya memiliki satu kerak yang utuh dan berkesinambungan.
NASA terpaksa menarik mundur roket SLS misi Artemis II dari landasan luncur akibat gangguan aliran helium. Peluncuran ke bulan kini dijadwalkan paling cepat April.
NASA telah merilis laporan temuan dari Tim Investigasi mengenai Uji Penerbangan Berawak Boeing CST-100 Starliner.
Komet C/2026 A1 (MAPS), anggota Kreutz sungrazer yang langka, diprediksi dapat bersinar terang di langit Bumi pada April 2026, seterang Venus, jika bertahan dari panas Matahari.
Sebuah komet baru yang melesat menuju Matahari disebut berpotensi menjadi “Komet Besar” pada April mendatang. Komet itu bernama C/2026 A1 (MAPS).
Flare Matahari merupakan ledakan besar energi elektromagnetik yang terjadi akibat perubahan mendadak pada medan magnet di atmosfer Matahari.
Gerhana ini tidak aman untuk dilihat tanpa pelindung mata dengan filter matahari.
Perbedaan kecepatan ini menciptakan tegangan magnetik yang luar biasa. Plasma yang bergerak lebih cepat di ekuator "menarik" garis-garis medan magnet.
Fakta mengejutkan datang dari dunia sains, Bumi juga memiliki sesuatu yang menyerupai “ekor” raksasa di luar angkasa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved