Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH filamen matahari raksasa meletus dengan dramatis 12-13 Mei sekitar pukul 20.00 EDT (pukul 00.00 GMT). Ledakan itu melontarkan semburan material ke seluruh belahan utara matahari.
Filamen tersebut membentang hampir 600.000 mil (1 juta kilometer), lebih dari dua kali jarak antara Bumi dan Bulan, menjadikan peristiwa ini sangat luas sekaligus mencengangkan! Data awal menunjukkan Bumi tidak berada dalam jalur letusan ini.
"Tidak yakin harus menyebut letusan ini apa — mungkin peristiwa 'sayap burung' atau 'sayap malaikat'? Yang jelas, ini benar-benar menakjubkan untuk disaksikan!" tulis pemburu aurora Vincent Ledvina dalam unggahannya di X. "Lihat betapa besarnya ledakan ini di belahan utara matahari. Saya bisa menonton animasi ini berulang-ulang selama berjam-jam!"
Filamen ini merupakan pita panjang dan gelap dari plasma matahari yang menggantung di atas permukaan matahari, ditopang oleh medan magnet, sebelum akhirnya menjadi tidak stabil dan meletus.
"WOW! Ada filamen yang benar-benar besar meletus saat ini! Ini jauh lebih besar dibandingkan semua letusan filamen yang kita lihat belakangan ini," tulis pemburu aurora Jure Atanackov dalam postingannya di X.
Struktur filamen ini lebih dingin dan lebih padat daripada lingkungan sekitarnya, sehingga tampak seperti benang gelap di atas cakram matahari yang terang. Ketika filamen meletus, peristiwa ini dapat memicu letusan massa korona atau coronal mass ejection (CME), yang melemparkan semburan besar plasma dan medan magnet ke luar angkasa. Dan filamen yang satu ini memang memicu CME tersebut.
"Betapa spektakulernya CME dari letusan filamen besar tadi! Sayangnya, arah letusannya ke utara dan akan melewatkan kita. Jika mengenai langsung, CME sebesar ini bisa memicu badai geomagnetik kategori G4 tinggi, bahkan mungkin G5," tulis Atanackov di unggahan X selanjutnya.
Meskipun badai matahari terkadang bisa memicu aurora yang menakjubkan dan bahkan mengganggu komunikasi satelit atau jaringan listrik jika mengarah ke Bumi, model awal menunjukkan bahwa CME ini kemungkinan besar tidak akan mengenai planet kita. Namun, para ilmuwan tetap mengamati situasi ini dengan seksama. (Space/Z-2)
Komet C/2026 A1 (MAPS), anggota Kreutz sungrazer yang langka, diprediksi dapat bersinar terang di langit Bumi pada April 2026, seterang Venus, jika bertahan dari panas Matahari.
Sebuah komet baru yang melesat menuju Matahari disebut berpotensi menjadi “Komet Besar” pada April mendatang. Komet itu bernama C/2026 A1 (MAPS).
Flare Matahari merupakan ledakan besar energi elektromagnetik yang terjadi akibat perubahan mendadak pada medan magnet di atmosfer Matahari.
Gerhana ini tidak aman untuk dilihat tanpa pelindung mata dengan filter matahari.
Perbedaan kecepatan ini menciptakan tegangan magnetik yang luar biasa. Plasma yang bergerak lebih cepat di ekuator "menarik" garis-garis medan magnet.
Fakta mengejutkan datang dari dunia sains, Bumi juga memiliki sesuatu yang menyerupai “ekor” raksasa di luar angkasa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved