Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PESAWAT antariksa Aditya-L1, misi berbasis ruang angkasa pertama India untuk mempelajari Matahari, berhasil melaksanakan manuver keempat di orbit Bumi pada Jumat dini hari, seperti yang diumumkan oleh Badan Antariksa India (ISRO).
"Manuver orbit Bumi keempat (EBN#4) telah berhasil dilakukan. Stasiun darat ISRO di Mauritius, Bengaluru, SDSC-SHAR, dan Port Blair memantau satelit selama operasi ini, sementara terminal transportabel yang ditempatkan di Kepulauan Fiji mendukung operasi pasca-bakar," ujar ISRO dalam unggahannya di platform X (dulu dikenal sebagai Twitter).
Aditya-L1 kini berada di orbit baru dengan parameter 256 km x 121.973 km. Manuver berikutnya, yaitu Trans-Lagrangean Point 1 Insertion (TL1I), yang menandai pelepasan pesawat dari orbit Bumi, dijadwalkan pada 19 September pukul 02:00 IST.
Aditya-L1 adalah observatorium luar angkasa pertama India yang dirancang untuk mempelajari Matahari dari orbit halo di sekitar titik Lagrange pertama Matahari-Bumi (L1), yang terletak sekitar 1,5 juta kilometer dari Bumi.
Manuver pertama, kedua, dan ketiga telah berhasil dilakukan pada 3, 5, dan 10 September. Dalam perjalanan 16 hari mengelilingi Bumi, pesawat ini secara bertahap meningkatkan kecepatannya untuk menuju titik L1. Setelah menyelesaikan empat manuver orbit Bumi, Aditya-L1 akan melaksanakan manuver Trans-Lagrangean 1, yang menandai dimulainya perjalanan selama 110 hari menuju titik L1.
Pesawat antariksa Aditya-L1 diluncurkan pada 2 September menggunakan Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV-C57) dari Pusat Antariksa Satish Dhawan (SDSC) di Sriharikota. Setelah terbang selama 63 menit dan 20 detik, pesawat ini berhasil ditempatkan di orbit elips 235x19.500 km mengelilingi Bumi.
Menurut ISRO, posisi orbit halo Aditya-L1 di sekitar titik L1 memberikan keuntungan utama, yaitu kemampuan untuk terus memantau Matahari tanpa gangguan dari gerhana atau okultasi.
Keunggulan ini memungkinkan pemantauan aktivitas Matahari dan dampaknya terhadap cuaca antariksa secara real-time.
Aditya-L1 dilengkapi dengan tujuh perangkat ilmiah yang dikembangkan oleh ISRO bersama lembaga penelitian nasional, termasuk Indian Institute of Astrophysics (IIA) di Bengaluru dan Inter-University Centre for Astronomy and Astrophysics (IUCAA) di Pune.
Perangkat-perangkat ini dirancang untuk mengamati fotosfer, kromosfer, dan korona (lapisan terluar Matahari) menggunakan detektor partikel elektromagnetik dan medan magnet.
Empat perangkat akan melakukan pengamatan langsung terhadap Matahari, sementara tiga perangkat lainnya akan mempelajari partikel dan medan di sekitar titik Lagrange L1 secara in-situ.
Data yang diperoleh dari perangkat ini diharapkan memberikan wawasan penting mengenai pemanasan korona, lontaran massa korona, aktivitas sebelum dan selama flare Matahari, dinamika cuaca antariksa, serta propagasi partikel dan medan magnet.
Ilmuwan menjelaskan bahwa terdapat lima titik Lagrange antara Bumi dan Matahari yang memungkinkan objek kecil tetap berada di posisi stabil dengan konsumsi bahan bakar rendah.
Titik-titik ini dinamai sesuai dengan matematikawan Italia-Prancis, Joseph-Louis Lagrange, yang pertama kali menjelaskan konsep ini dalam karya ilmiahnya "Essai sur le Probleme des Trois Corps" pada tahun 1772.
Titik-titik ini berada pada posisi di mana gaya gravitasi Matahari dan Bumi seimbang dengan gaya sentripetal yang dibutuhkan agar objek tetap mengikuti gerakan kedua benda tersebut.
Sumber:
Flare Matahari merupakan ledakan besar energi elektromagnetik yang terjadi akibat perubahan mendadak pada medan magnet di atmosfer Matahari.
Gerhana ini tidak aman untuk dilihat tanpa pelindung mata dengan filter matahari.
Perbedaan kecepatan ini menciptakan tegangan magnetik yang luar biasa. Plasma yang bergerak lebih cepat di ekuator "menarik" garis-garis medan magnet.
Fakta mengejutkan datang dari dunia sains, Bumi juga memiliki sesuatu yang menyerupai “ekor” raksasa di luar angkasa.
Matahari meletuskan ledakan X-Class dan CME raksasa melaju ke Bumi. Badai geomagnetik kuat berpotensi terjadi dalam 24 jam ke depan.
Fenomena pertama gerhana matahari cincin dijadwalkan terjadi pada 17 Februari 2026.
Operasi SAR pesawat ATR 42-500 di Bulusaraung menemukan satu korban di jurang. Evakuasi terkendala medan ekstrem, korban dibawa ke RS Bhayangkara Makassar.
KNKT menyimpulkan insiden ATR 42-500 sewaan KKP sebagai CFIT: pesawat masih terkendali namun menghantam lereng Gunung Bulusaraung.
Tiga tim DVI yang diberangkatkan berjumlah 12 personel dan telah dibekali perlengkapan medis serta identifikasi yang dibutuhkan di lapangan.
Cuaca ekstrem tersebut berdampak sementara terhadap operasional penerbangan berupa holding kedatangan dan keberangkatan, serta pengalihan (divert) sejumlah pesawat.
PENERBANGAN Airasia kini telah kembali normal setelah adanya perbaikan proses software rollback pada armada Airbus A320 yang beroperasi di jaringan Airasia
PRESIDEN Prabowo Subianto memerintahkan empat pesawat angkut membawa bantuan logistik dan tim medis ke tiga provinsi yang terdampak bencana banjir di Sumut, Aceh, dan Sumbar
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved