Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
BULAN lalu, sebuah asteroid memasuki atmosfer Bumi hanya beberapa jam setelah terdeteksi. Di sisi positifnya, objek ini hanya berdiameter sekitar 3 kaki (1 meter) dan hampir tidak menimbulkan ancaman bagi permukaan Bumi.
Asteroid ini, yang diberi nama 2024 UQ, pertama kali ditemukan pada 22 Oktober oleh survei Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) di Hawaii, sebuah jaringan empat teleskop yang memindai langit untuk mencari objek yang bergerak dan berpotensi bertabrakan dengan Bumi. Dua jam kemudian, asteroid itu terbakar di atas Samudra Pasifik dekat California, menjadikannya sebagai "impactor yang akan segera terjadi."
Waktu deteksi yang singkat sebelum dampak berarti sistem pemantauan dampak yang dioperasikan Pusat Koordinasi Objek Dekat Bumi (NEOCC) milik Badan Antariksa Eropa (ESA) tidak menerima data pelacakan tentang asteroid yang datang hingga setelah asteroid tersebut menghantam Bumi, menurut buletin November 2024 dari pusat tersebut.
"Survei ATLAS memperoleh gambar yang mencakup deteksi objek kecil di jalur tabrakan dengan probabilitas tinggi. Namun, karena lokasi objek yang berada di tepi dua bidang pengamatan yang berdekatan, kandidat objek ini baru dikenali sebagai benda bergerak beberapa jam kemudian," tulis ESA dalam buletin tersebut.
"Saat data astrometri mencapai sistem pemantauan dampak, tabrakan sudah terjadi."
NEOCC ESA mengatakan kilatan cahaya terdeteksi oleh satelit cuaca GOES milik Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) dan survei langit Catalina Sky Survey, sebuah proyek NASA yang menggunakan serangkaian teleskop untuk mencari asteroid dan komet di lingkungan tata surya. Kilatan cahaya ini cukup untuk mengonfirmasi dampak asteroid 2024 UQ serta jalurnya.
Menurut ESA, asteroid tersebut merupakan imminent impactor ketiga yang terdeteksi tahun ini. Untuk dua asteroid lain yang terdeteksi hanya beberapa jam sebelum menghantam Bumi pada 2024, yang pertama dikenal sebagai 2024 BX1. Asteroid ini berukuran sekitar 3,3 kaki (1 meter) dan terbakar tanpa bahaya di atas Berlin, Jerman pada bulan Januari. Yang lainnya, 2024 RW1, meledak di atas Filipina pada 4 September.
Beberapa orang di seluruh wilayah kepulauan tersebut berhasil merekam bola api yang dihasilkan dalam video.
Upaya pertahanan planet yang bertujuan mengkatalogkan banyaknya batuan luar angkasa di wilayah kosmis kita telah menjadi prioritas utama bagi badan antariksa di seluruh dunia. Selain survei ATLAS, Catalina Sky Survey, NEOCC ESA, dan proyek lainnya, NASA sedang mengembangkan teleskop inframerah baru yang dikenal sebagai NEO Surveyor untuk memburu objek dekat Bumi yang berpotensi mengancam.
Namun, tidak hanya soal deteksi dan pelacakan. Badan antariksa juga menguji metode untuk mengalihkan asteroid yang mendekat jika diperlukan. Pada tahun 2022, misi DART NASA menabrakkan objek ke dalam sistem asteroid ganda dalam upaya mengubah lintasannya (upaya ini berhasil). Tiongkok juga sedang mengembangkan misinya sendiri untuk menangkis asteroid tahun 2030. (Space/Z-3)
Di Indonesia, bencana jenis ini menyumbang lebih dari 90% dari total kejadian bencana setiap tahunnya.
Tim ilmuwan di Swedia berhasil menangkap fenomena langka aurora biru di ketinggian 200 kilometer, lebih tinggi dari prediksi model ilmiah.
Eksoplanet tersebut berada dalam sistem TRAPPIST-1, yang terletak sekitar 40 tahun cahaya dari Bumi. Sistem ini ditemukan pada tahun 2016 oleh lima astronom asal Belgia
Sesekali, ketika menatap langit, kita bisa melihat cahaya yang lebih terang di kedua sisi matahari. Fenomena itu dikenal sebagai sun dogs.
Penelitian terbaru mengungkap mikrometeorit fosil mampu menyimpan jejak oksigen atmosfer kuno.
Setiap kali petir menyambar, terbentuk gas nitrogen oksida (NOx), jenis polutan yang juga dihasilkan dari asap knalpot kendaraan.
Bulan perlahan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun. Fenomena ini membuat rotasi Bumi melambat dan panjang satu hari bertambah, meski perubahan terjadi sangat lambat.
Selain memengaruhi medan magnet, struktur panas bawah tanah ini mungkin berdampak pada tata letak benua-benua di planet in
Fenomena Bulan yang disebut perlahan menjauh dari Bumi kembali ramai dibahas. Di media sosial, narasinya cepat melebar,
Adanya gaya pasang surut tersebut menyebabkan lautan bergelombang dan membentuk dua tonjolan, mengarah dan menjauhi Bulan.
Salah satu aspek paling penting dari penelitian ini adalah memastikan bahwa hidrogen yang ditemukan bukan hasil kontaminasi dari lingkungan Bumi.
Wahana Luar Angkasa yang Mendarat ke Bumi Berpotensi Rusak Lapisan Atmosfer? Begini Penjelasannya
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved