Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Antariksa Amerika Serikat (NASA) menemukan planet baru yang dinamai Kepler-186f. Penemuan ini merupakan sejarah baru dalam dunia astronomi, karena letaknya yang berada di zona layak huni dan diklaim mirip dengan Bumi.
Temuan yang terjadi tahun 2014 itu merupakan bagian dari misi Kepler NASA yang bertujuan untuk mencari Planet di yang mirip dengan bumi (eksoplanet). Misi yang bermula dari tahun 2009 itu berhasil menemukan sekitar 2.000 lebih eksoplanet dan salah satu yang dinilai mirip dengan Bumi adalah Kepler-186f.
"Salah satu hal yang kami cari mungkin adalah kembaran Bumi, yaitu planet seukuran Bumi di zona layak huni bintang mirip Matahari. Kepler-186f adalah planet seukuran Bumi di zona layak huni bintang yang lebih dingin. Jadi, meskipun bukan kembaran Bumi, mungkin planet ini adalah sepupu Bumi. Planet ini memiliki karakteristik yang mirip, tetapi induknya berbeda," ungkap Tom Barclay, ilmuwan Kepler dikutip dari Scientific American.
Para ilmuwan berpendapat, meskipun bintang induknya lebih redup dan sedikit lebih besar daripada Bumi, Kepler-186f mungkin memiliki air di permukaannya untuk mendukung kehidupan di planet ini.
Para ilmuwan mengutarakan Kepler-186f, planet terluar dari lima planet yang ditemukan mengorbit bintang Kepler-186 pada jarak 32,5 juta mil (52,4 juta kilometer), secara teoritis dalam zona layak huni untuk katai merah.
Bumi mengorbit matahari dari jarak rata-rata sekitar 93 juta mil (150 juta km), tetapi matahari lebih besar dan lebih terang daripada bintang Kepler-186, yang berarti zona layak huni matahari dimulai lebih jauh dari bintang dibandingkan dengan Kepler-186.
Planet-planet lain dengan berbagai ukuran telah ditemukan di zona layak huni. Namun, Kepler-186f adalah planet asing pertama yang ukurannya mirip Bumi dan ditemukan mengorbit di area yang berpotensi mendukung kehidupan.
Planet tersebut berukuran sekitar 1,1 jari-jari Bumi, membuatnya sedikit lebih besar, tetapi para peneliti masih berpikir bahwa itu mungkin berbatu seperti Bumi. Para peneliti masih belum yakin dari apa atmosfer Kepler-186f terbentuk, elemen kunci yang dapat membantu para ilmuwan memahami apakah planet itu ramah bagi kehidupan.
Kepler-186f sebenarnya terletak di tepi zona layak huni bintang Kepler-186, yang berarti air cair di permukaan planet dapat membeku.
Planet ini terletak di bagian luar zona layak huni dan memiliki atmosfer yang lebih tebal. Hal ini dapat membantu menjaga airnya tetap cair.
Para ilmuwan yang menggunakan teleskop Kepler menemukan Kepler-186f menggunakan metode transit, yaitu ketika planet tersebut bergerak melintasi permukaan bintangnya dari perspektif teleskop. Kepler mencatat sedikit penurunan kecerahan bintang, yang memungkinkan para peneliti mempelajari lebih lanjut tentang planet itu sendiri.
Kepler mengalami kerusakan besar tahun lalu dan tidak lagi berfungsi dengan cara yang sama, tetapi para ilmuwan masih meneliti kumpulan data wahana antariksa tersebut untuk mencari dunia asing baru. (Z-3)
Pemetaan semacam ini dipandang sebagai terobosan signifikan karena memungkinkan para ilmuwan untuk memahami kondisi atmosfer di luar tata surya.
Samudra Europa berpotensi tidak memiliki dinamika geologis yang cukup untuk mendukung kehidupan, khususnya akibat minimnya aktivitas hidrotermal di dasar lautnya.
Para astronom untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi ledakan besar yang dilepaskan oleh sebuah bintang di luar tata surya.
Para ilmuwan NASA kembali membuat terobosan besar dalam dunia astronomi.
Hambatan terbesar dalam mewujudkan perjalanan antarbintang ternyata bukan terletak pada kapal, mesin, ataupun bahan bakar.
Lima dekade setelah misi Apollo menapakkan kaki di permukaan Bulan, teka-teki terbesar tentang struktur internal satelit alami Bumi itu akhirnya berhasil dipecahkan.
Para astronom kini berburu tanda-tanda kehidupan di 6.000 exoplanet. Mulai dari deteksi gas atmosfer hingga misi masa depan NASA, inilah cara kita menjawab apakah Bumi itu unik.
Penemuan langka sistem bintang V1298 Tau mengungkap fenomena unik di mana planet-planet muda memiliki kepadatan sangat rendah dan menyusut seiring waktu.
Simulasi terbaru mengungkap gravitasi Mars berperan vital dalam menstabilkan kemiringan sumbu Bumi dan mengatur siklus iklim jangka panjang (Milankovitch).
Para ilmuwan NASA kembali membuat terobosan besar dalam dunia astronomi.
Penelitian terbaru menggunakan data satelit TESS mengungkap bagaimana bintang yang menua menelan planet di sekitarnya. Apakah ini gambaran nasib akhir Bumi?
Ilmuwan NASA melalui teleskop James Webb menemukan eksoplanet PSR J2322-2650b yang berbentuk unik seperti lemon dan memiliki atmosfer langka berisi hujan berlian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved