Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Mengapa Bumi Menjadi 'Jackpot' Kimia bagi Kehidupan?

Thalatie K Yani
12/2/2026 11:00
Mengapa Bumi Menjadi 'Jackpot' Kimia bagi Kehidupan?
Ilustrasi(NASA)

KEHIDUPAN di Bumi mungkin bukan sekadar proses evolusi biasa, melainkan hasil dari sebuah "keberuntungan" kimiawi yang luar biasa. Sebuah studi terbaru mengungkapkan Bumi terbentuk di bawah kondisi kimiawi yang sangat presisi, memungkinkan planet ini mempertahankan elemen kunci bagi kehidupan, fosfor dan nitrogen.

Tanpa keseimbangan sempurna dari elemen-elemen ini, sebuah planet berbatu mungkin terlihat layak huni dari luar, namun secara fundamental tidak mampu mendukung biologi.

Titik Temu Oksigen yang Presisi

Studi yang dipimpin Craig Walton dari ETH Zurich, Swiss, menyoroti fase krusial saat Bumi masih berupa material cair. Pada tahap pembentukan inti planet sekitar 4,6 miliar tahun lalu, kadar oksigen memainkan peran penentu ke mana elemen-elemen lain akan bergerak.

"Selama pembentukan inti planet, jumlah oksigen yang ada harus berada pada kadar yang tepat agar fosfor dan nitrogen tetap berada di permukaan planet," ujar Walton dalam sebuah pernyataan resmi.

Bumi ternyata berhasil mencapai "titik manis" kimiawi ini. Para peneliti menyebutnya sebagai Zona Goldilocks Kimiawi. Berikut adalah alasan mengapa kadar oksigen sangat krusial:

  • Jika oksigen terlalu sedikit: Fosfor akan berikatan dengan besi dan tenggelam ke inti planet. Hal ini membuat permukaan kekurangan bahan baku utama untuk pembentukan DNA, membran sel, dan transfer energi.
  • Jika oksigen terlalu banyak: Nitrogen akan lebih mudah terlepas dan menghilang ke luar angkasa.

"Model kami menunjukkan dengan jelas bahwa Bumi berada tepat di dalam rentang ini," tambah Walton. "Jika kita memiliki sedikit lebih banyak atau lebih sedikit oksigen selama pembentukan inti, tidak akan ada cukup fosfor atau nitrogen untuk perkembangan kehidupan."

Belajar dari Mars

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Astronomy pada 9 Februari ini juga membandingkan Bumi dengan Mars. Model menunjukkan bahwa Mars berada di luar zona nyaman kimiawi tersebut. Meskipun Mars memiliki lebih banyak fosfor di mantelnya dibanding Bumi, planet merah tersebut kekurangan nitrogen, sehingga menciptakan kondisi yang sangat menantang bagi munculnya kehidupan.

Mengubah Cara Mencari Alien

Temuan ini menantang fokus tradisional para ilmuwan yang selama ini hanya terpaku pada "zona laik huni" (wilayah di sekitar bintang yang memungkinkan adanya air cair). Studi ini menyarankan air saja tidak cukup, sebuah planet harus memiliki inventaris kimia internal yang tepat sejak awal.

Karena planet terbentuk dari material yang sama dengan bintang induknya, komposisi kimia bintang dapat menjadi petunjuk apakah sistem tersebut mampu menghasilkan planet yang ramah kehidupan.

"Ini membuat pencarian kehidupan di planet lain menjadi jauh lebih spesifik," kata Walton. "Kita harus mencari sistem tata surya dengan bintang yang menyerupai matahari kita."

Dengan kata lain, Bumi mungkin bukanlah norma kosmis, melainkan sebuah pengecualian yang beruntung, sebuah planet yang memenangkan "lotre kimia" sejak masa awal pembentukannya. (Space/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya