Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Mencari Bumi Kedua, Mampukah Teleskop Canggih Menemukan Kehidupan di Luar Angkasa?

Thalatie K Yani
21/1/2026 13:00
Mencari Bumi Kedua, Mampukah Teleskop Canggih Menemukan Kehidupan di Luar Angkasa?
Konsep artistik Observatorium Dunia Layak Huni NASA di luar angkasa.(Laboratorium Gambar Konseptual Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA)

KITA hidup di era yang luar biasa. Pertanyaan manusia purba, apakah ada kehidupan di luar Bumi? Kini jawabannya mulai dalam jangkauan. Dalam 30 tahun terakhir, para astronom telah mengonfirmasi keberadaan lebih dari 6.000 eksoplanet (planet di luar tata surya kita) yang mengorbit bintang-bintang jauh.

Kini, fokus penelitian bergeser. Bukan lagi sekadar menemukan planet, melainkan mencari tahu apakah ada "biologi" di sana. Metode yang paling menjanjikan saat ini adalah dengan menganalisis gas di atmosfer planet-planet tersebut menggunakan teleskop canggih.

Membaca "Barcode" Molekul Atmosfer

Setiap bahan kimia di atmosfer memiliki pola unik yang menyerupai kode batang (barcode) berdasarkan prinsip mekanika kuantum. Ketika cahaya bintang melewati atmosfer sebuah eksoplanet, molekul-molekul di dalamnya meninggalkan jejak pada cahaya tersebut. Dengan menangkap cahaya ini, teleskop dapat mengidentifikasi keberadaan molekul seperti metana, karbon dioksida, hingga air.

Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) telah menjadi pionir dalam misi ini. Namun, mendeteksi tanda kehidupan atau biosignature tidaklah mudah. Pada 2025, sempat muncul klaim ambisius mengenai deteksi dimethyl sulphide di planet K2-18b, sebuah dunia yang diduga tertutup samudra. Di Bumi, gas ini diproduksi oleh fitoplankton di lautan.

Namun, klaim tersebut menuai perdebatan. Luis Welbanks dari Arizona State University dan rekan-rekannya menunjukkan pemilihan model analisis sangat memengaruhi hasil data. Meski molekul sederhana seperti air dan karbon dioksida telah terdeteksi secara kuat di berbagai planet, perburuan tanda kehidupan yang definitif masih terus berlanjut.

Misi Masa Depan, Memburu Kembaran Bumi

Tantangan terbesar saat ini adalah mendeteksi atmosfer pada planet seukuran Bumi yang berbatu. Kabar baiknya, sejumlah misi ambisius telah dijadwalkan untuk menjawab tantangan ini:

  • Teleskop Plato (ESA, 2026): Akan mengidentifikasi planet-planet yang lebih mirip Bumi dibandingkan yang kita ketahui saat ini.
  • Nancy Grace Roman (NASA, 2029): Menggunakan teknik coronagraphic untuk memblokir cahaya bintang sehingga planet yang lebih redup di sekitarnya dapat dipelajari langsung.
  • Teleskop Ariel (ESA, 2029): Misi khusus untuk menentukan komposisi atmosfer exoplanet secara mendalam.

Loncatan terbesar diharapkan datang dari Habitable Worlds Observatory (HWO) milik NASA yang sedang dalam tahap perencanaan. HWO dirancang untuk mempelajari sekitar 25 planet mirip Bumi. Jika ada "kembaran Bumi" di luar sana, teleskop ini mampu menangkap tanda oksigen hingga pantulan cahaya dari tumbuhan yang berfotosintesis.

Masa depan pencarian ini sangat menjanjikan. Dengan berbagai wahana antariksa yang siap meluncur dalam beberapa tahun ke depan, kita mungkin akan segera mengetahui apakah Bumi benar-benar satu-satunya tempat yang menampung kehidupan di alam semesta yang luas ini. (Space/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya