Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
KITA hidup di era yang luar biasa. Pertanyaan manusia purba, apakah ada kehidupan di luar Bumi? Kini jawabannya mulai dalam jangkauan. Dalam 30 tahun terakhir, para astronom telah mengonfirmasi keberadaan lebih dari 6.000 eksoplanet (planet di luar tata surya kita) yang mengorbit bintang-bintang jauh.
Kini, fokus penelitian bergeser. Bukan lagi sekadar menemukan planet, melainkan mencari tahu apakah ada "biologi" di sana. Metode yang paling menjanjikan saat ini adalah dengan menganalisis gas di atmosfer planet-planet tersebut menggunakan teleskop canggih.
Setiap bahan kimia di atmosfer memiliki pola unik yang menyerupai kode batang (barcode) berdasarkan prinsip mekanika kuantum. Ketika cahaya bintang melewati atmosfer sebuah eksoplanet, molekul-molekul di dalamnya meninggalkan jejak pada cahaya tersebut. Dengan menangkap cahaya ini, teleskop dapat mengidentifikasi keberadaan molekul seperti metana, karbon dioksida, hingga air.
Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) telah menjadi pionir dalam misi ini. Namun, mendeteksi tanda kehidupan atau biosignature tidaklah mudah. Pada 2025, sempat muncul klaim ambisius mengenai deteksi dimethyl sulphide di planet K2-18b, sebuah dunia yang diduga tertutup samudra. Di Bumi, gas ini diproduksi oleh fitoplankton di lautan.
Namun, klaim tersebut menuai perdebatan. Luis Welbanks dari Arizona State University dan rekan-rekannya menunjukkan pemilihan model analisis sangat memengaruhi hasil data. Meski molekul sederhana seperti air dan karbon dioksida telah terdeteksi secara kuat di berbagai planet, perburuan tanda kehidupan yang definitif masih terus berlanjut.
Tantangan terbesar saat ini adalah mendeteksi atmosfer pada planet seukuran Bumi yang berbatu. Kabar baiknya, sejumlah misi ambisius telah dijadwalkan untuk menjawab tantangan ini:
Loncatan terbesar diharapkan datang dari Habitable Worlds Observatory (HWO) milik NASA yang sedang dalam tahap perencanaan. HWO dirancang untuk mempelajari sekitar 25 planet mirip Bumi. Jika ada "kembaran Bumi" di luar sana, teleskop ini mampu menangkap tanda oksigen hingga pantulan cahaya dari tumbuhan yang berfotosintesis.
Masa depan pencarian ini sangat menjanjikan. Dengan berbagai wahana antariksa yang siap meluncur dalam beberapa tahun ke depan, kita mungkin akan segera mengetahui apakah Bumi benar-benar satu-satunya tempat yang menampung kehidupan di alam semesta yang luas ini. (Space/Z-2)
Proyek SETI@Home resmi berakhir. Melibatkan 2 juta ilmuwan warga, proyek ini menyaring 12 miliar sinyal radio demi mencari tanda peradaban luar angkasa.
Ilmuwan menemukan aliran panas berlebih di kutub utara Enceladus, bulan Saturnus.
Penelitian laboratorium terbaru menunjukkan bahwa sebagian molekul organik di semburan es Saturnus, Enceladus, mungkin terbentuk akibat radiasi alami.
Peneliti temukan molekul organik kompleks dalam semburan es Enceladus, bulan Saturnus. Hasil ini memperkuat dugaan lautan bawah permukaannya berpotensi menopang kehidupan.
Teleskop James Webb menampilkan detail baru Nebula Helix, memperlihatkan struktur gas, debu, dan akhir kehidupan bintang dengan resolusi inframerah tinggi.
NASA lewat James Webb berhasil mendeteksi supernova paling awal dan paling jauh, terjadi 730 juta tahun setelah Big Bang. Fenomena ini membuka wawasan baru tentang bintang awal
Dengan teleskop James Webb, ilmuwan menemukan cakram protoplanet XUE 10 yang memiliki kandungan karbon dioksida tinggi dan air rendah.
Para ilmuwan mengungkap keberadaan kristal kuarsa nano di atmosfer planet gas raksasa WASP-17b, menciptakan fenomena optik mirip pelangi atau sun dog.
Pelajari tentang Teleskop James Webb, teleskop terbesar dan terkuat yang dikembangkan NASA.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved