Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Para ilmuwan menemukan aliran panas berlebih yang keluar dari kutub utara Enceladus, salah satu bulan Saturnus. Temuan ini mengindikasikan adanya keseimbangan energi yang menjaga kestabilan samudra bawah permukaan selama waktu geologis yang panjang. Faktor penting yang dapat menunjang kehidupan.
Enceladus dikenal sebagai dunia samudra aktif sejak 2005, ketika misi Cassini NASA menemukan semburan uap air raksasa yang muncul melalui retakan besar di permukaannya. Energi di balik semburan tersebut berasal dari interaksi pasang surut dengan Saturnus, yang membuat interior Enceladus meregang dan mengerut secara berkala, menjaga suhunya tetap cukup hangat untuk mempertahankan air dalam bentuk cair.
Namun, berapa lama samudra tersebut telah bertahan masih menjadi misteri. “Enceladus adalah target utama dalam pencarian kehidupan di luar Bumi. Memahami ketersediaan energinya dalam jangka panjang sangat penting untuk menentukan apakah ia dapat mendukung kehidupan,” kata Georgina Miles dari Southwest Research Institute dan ilmuwan tamu di University of Oxford.
Menurut Miles, keseimbangan energi di Enceladus sangat rapuh. Jika pemanasan pasang surut terlalu lemah, samudra akan membeku. Jika terlalu kuat, aktivitas internal dapat meningkat dan mengubah lingkungan menjadi tidak stabil. Karena itu, keseimbangan antara energi yang dihasilkan dan energi yang terlepas ke luar angkasa menjadi kunci keberlanjutan samudra tersebut.
Selama ini, ilmuwan hanya mengetahui bahwa panas mengalir dari kutub selatan, tempat retakan aktif yang disebut tiger stripes berada. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kutub utara juga memancarkan panas, sesuatu yang sebelumnya tidak terdeteksi.
Tim Miles membandingkan data suhu dari Cassini Composite Infrared Spectrometer (CIRS) antara musim dingin 2005 dan musim panas 2015 di kutub utara Enceladus. Hasilnya, suhu di wilayah itu ternyata 7 derajat Celsius lebih hangat dari perkiraan model. Panas tersebut diduga berasal dari samudra di bawah lapisan es setebal 20–23 kilometer di kutub utara, dengan kedalaman rata-rata global mencapai 25–28 kilometer.
Meski lapisan es tebal ini akan menyulitkan misi pengeboran di masa depan, para ilmuwan menyebut jalur melalui tiger stripes di kutub selatan bisa menjadi alternatif yang lebih realistis. Badan Antariksa Eropa (ESA) dikabarkan tengah mempertimbangkan misi ke Enceladus pada 2040-an.
Secara keseluruhan, Enceladus kehilangan energi sekitar 54 gigawatt, jumlah yang hampir seimbang dengan energi yang diterimanya dari pemanasan pasang surut. Keseimbangan ini menunjukkan bahwa samudra Enceladus kemungkinan telah stabil selama jutaan hingga miliaran tahun.
“Mengetahui berapa banyak panas yang dilepaskan secara global sangat penting untuk menentukan apakah Enceladus dapat mendukung kehidupan,” kata Carly Howett dari University of Oxford dan Planetary Science Institute di Arizona. “Hasil ini sangat menggembirakan karena menunjukkan keberlanjutan jangka panjang Enceladus, komponen penting bagi munculnya kehidupan.”
Meski misi Cassini telah berakhir pada 2017, data yang dikumpulkan masih terus menghasilkan temuan baru. “Mendeteksi variasi suhu halus akibat aliran panas dari Enceladus adalah tantangan besar yang hanya mungkin dilakukan berkat misi jangka panjang Cassini,” ujar Miles.
“Temuan ini menegaskan pentingnya misi berkelanjutan ke dunia samudra yang mungkin menyimpan kehidupan.” (Space/Z-2)
Ternyata NASA dan sejumlah mitra internasional memberikan petunjuk tentang bagaimana cincin Saturnus bisa terbentuk.
Studi terbaru NASA mengungkap Bulan Titan milik Saturnus kemungkinan menyimpan "es berlumpur" yang bisa menjadi habitat mikro bagi kehidupan.
Fenomena Supermoon akan terlihat Rabu, 5 November 2025. Planetarium Jakarta ajak warga menikmati piknik malam dan pengamatan Bulan serta Saturnus gratis di TIM.
Penelitian laboratorium terbaru menunjukkan bahwa sebagian molekul organik di semburan es Saturnus, Enceladus, mungkin terbentuk akibat radiasi alami.
Ilmuwan menemukan senyawa baru di bulan Saturnus, Titan, yang melanggar aturan dasar kimia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved