Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
TELESKOP Observatorium Nasional Timau yang berlokasi di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini memasuki fase baru dalam fungsinya sebagai alat pemantau. Tidak hanya untuk objek astronomi, tetapi juga untuk satelit buatan.
Koordinator Stasiun Observasi Nasional Kupang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Abdul Rachman, mengungkapkan penggunaan teleskop ini diharapkan dapat membantu dalam mengatasi masalah yang mungkin muncul pada satelit aktif serta mengelola situasi darurat yang berkaitan dengan ruang angkasa. Penjelasan ini disampaikan dalam acara webinar yang diselenggarakan Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN untuk memperingati World Space Week, Sabtu (5/10).
Abdul Rachman menjelaskan dalam pengamatan satelit buatan, teknik yang digunakan berbeda dari yang diterapkan saat mengamati objek astronomi seperti bintang. Kecepatan pergerakan satelit buatan yang lebih tinggi memerlukan sistem teleskop yang dapat bergerak otomatis dan responsif terhadap perubahan posisi objek.
Baca juga : Astronom Abu Dhabi Temukan Asteroid Raksasa, 6 Kali Lebih Besar dari Burj Khalifa
Teleskop perlu dilengkapi dengan dudukan atau motor mounting yang dirancang untuk mendukung kecepatan pergerakan dalam hitungan derajat per detik. Hal ini penting untuk memastikan akurasi pengamatan, terutama ketika berhadapan dengan objek yang bergerak cepat.
Sebagai contoh, Rachman menyebut satelit International Space Station (ISS), yang termasuk dalam kategori Low Earth Orbit (LEO) dengan ketinggian antara 500 hingga 1.200 kilometer dari permukaan Bumi. Pergerakan satelit ini sangat cepat, dan pengamat harus siap untuk menyesuaikan teleskop dengan kecepatan tersebut. Hal ini berbeda dengan satelit seperti Palapa atau Telkom, yang berada di orbit geostasioner di ketinggian sekitar 36 ribu kilometer, di mana pergerakannya relatif lebih lambat.
Sejak 2023, beberapa teleskop di Observatorium Nasional Timau telah diuji untuk mengamati objek satelit buatan. Teleskop dengan diameter cermin 25 dan 50 sentimeter telah dilengkapi dengan fasilitas mounting robotic yang memungkinkan pergerakan otomatis sesuai dengan kecepatan satelit. Teleskop ini menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan pengamatan terhadap objek yang berpotensi memengaruhi satelit aktif.
Baca juga : Saingi James Webb, Tiongkok Bangun Teleskop Optik Terbesar di Asia
Di sisi lain, teleskop terbesar di observatorium, yang memiliki diameter 3,8 meter, saat ini masih dalam tahap penyelesaian. Rachman menargetkan agar teleskop ini dapat rampung sebelum akhir tahun, sehingga bisa mulai digunakan untuk pengamatan tahun 2025. Dengan kemampuan yang dimiliki, teleskop ini diharapkan mampu mengamati satelit buatan dengan lebih baik dan lebih akurat.
Observatorium Nasional Timau juga mengacu pada teleskop Seimei di Jepang, yang merupakan kembaran dari teleskop Timau dan telah beroperasi sejak 2017-2018 untuk pengamatan satelit buatan. Dengan memanfaatkan prediksi harian tentang posisi satelit, pengamat di Timau akan dapat melacak dan mengamati keberadaan satelit buatan dengan lebih efisien.
Daftar tabel yang mencakup informasi mengenai satelit aktif, tingkat kecerlangan atau magnitudo objek, lokasi di langit, serta ketinggian satelit, akan menjadi panduan penting bagi pengamat dalam menjalankan tugasnya.
Dengan langkah ini, Observatorium Nasional Timau berkomitmen untuk memperluas cakupan penelitian dan pengamatan di bidang antariksa, serta berkontribusi terhadap pemahaman lebih dalam tentang satelit buatan dan dampaknya terhadap lingkungan luar angkasa.
Upaya ini sejalan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan untuk mengawasi serta memelihara satelit aktif di orbit, yang semakin penting dalam era digital saat ini. (BRIN/Z-3)
Februari 2026 menghadirkan parade planet langka. Merkurius, Venus, Neptunus, Saturnus, Uranus, dan Jupiter akan terlihat bersamaan, puncaknya pada 28 Februari.
Penemuan baru ini telah dipublikasikan pada jurnal Nature Astronomy yang menjelaskan bahwa katai putih langka kemungkinan berasal dari penggabungan bintang
Komet C/2026 A1 (MAPS), anggota Kreutz sungrazer yang langka, diprediksi dapat bersinar terang di langit Bumi pada April 2026, seterang Venus, jika bertahan dari panas Matahari.
Teleskop raksasa Tiongkok ini akan ditempatkan di Kota Delingha, Provinsi Qinghai, pada ketinggian sekitar 4.800 meter di atas permukaan laut.
Asteroid KY26, target terbaru misi Hayabusa2, ternyata jauh lebih kecil dari perkiraan. Observasi teleskop dunia, termasuk Very Large Telescope (VLT) di Chile dengan dukungan radar.
Baru-baru ini, Teleskop Luar Angkasa Hubble berhasil menangkap gambar sebuah bintang yang meledak menjadi supernova, baik sebelum maupun sesudah.
Pink Moon 2026 akan menghiasi langit awal April dan bisa disaksikan dari Indonesia. Simak jadwal puncak, waktu terbaik melihatnya, serta fakta menarik tentang fenomena bulan purnama ini.
Jelajahi daftar fenomena langit April 2026 di Indonesia, mulai dari Pink Moon, Elongasi Merkurius, hingga puncak Hujan Meteor Lyrid yang memukau.
Studi terbaru NASA Juno mengungkap kekuatan mengerikan petir Jupiter yang mencapai jutaan kali lipat petir Bumi.
Hujan meteor Lyrids akan terjadi 15–29 April 2026. Puncaknya 22 April dini hari, bisa dilihat jelas di langit Indonesia.
Anda tidak memerlukan alat bantu seperti teleskop untuk melihat Pink Moon karena ukurannya yang besar dan cahayanya yang sangat terang.
Penemuan 'Little Red Dots' oleh teleskop James Webb memicu perdebatan astronom. Benarkah itu lubang hitam rakus, atau justru kelahiran gugus bintang purba?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved