Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
LUIS Enrique menjalani debut sebagai pelatih tim nasional (Timnas) Spanyol dengan teramat manis. Tiga kemenangan dengan nilai prestise tinggi didapatkan dengan cara yang mengagumkan.
Langkah pertama Enrique diawali dengan mempermalukan Inggris di depan pendukungnya dengan skor 1-2 pada awal September lalu. Selang beberapa hari kemudian, Spanyol menggunduli tamunya Kroasia pada laga kedua Liga Negara UEFA (UNL) dengan skor telak 6-0. Sebagai pemanisnya, Enrique juga berhasil membawa timnya menaklukan Wales dengan angka besar, yakni 4-1.
Akan tetapi, rentetan hasil positif tersebut tiba-tiba terhenti di Sevilla pada pertengahan Oktober lalu. 'The Three Lions'--julukan Inggris-- sukses membalas dendam kekalahan di laga pertama UNL dengan kemenangan 2-3. Kekalahan lantas menjalar kala Spanyol mengunjungi Zagreb pada Jumat (16/11) dini hari WIB. Spanyol lagi-lagi menyerah dari lawannya dengan skor sama.
Dua kekalahan ini membuat pamor Enrique merosot. Eks pelatih Barcelona ini pun diragukan kapasitasnya untuk mengangkat kembali prestai Sergio Ramos dkk pascakegagalan di Piala Dunia 2018 lalu.
Baca juga: Jedvaj Cetak Dua Gol, Kroasia Kalahkan Spanyol
Ditambah lagi, kans Spanyol untuk lolos ke babak semifinal UNL semakin menipis. Mereka harus menanti hasil laga terakhir antara Timnas Inggris kontra Kroasia pada Minggu (18/11) dini hari. Jika laga kedua tim berakhir seri, Spanyol akan melenggang ke partai selanjutnya. Jika skenario lain yang terjadi, langkah Spanyol dipastikan terhenti di fase grup.
Seusai laga melawan Kroasia, Enrique berceloteh dengan menyebut kekalahan yang diterima anak asuhnya merupakan bagian dari sepak bola yang terasa tidak adil. 'La Furia Roja'--julukan Spanyol-- hampir unggul segalanya dari sang lawan. Baik penguasaan bola hingga akurasi umpan. Namun, hasilnya nihil.
"Kami dua kali menyamakan skor dan pantas mendapatkan sesuatu dari itu. Kami memiliki peluang membentur mistar dan sejumlah peluang terbuka lain untuk mencetak gol, tapi bola tidak masuk. Saya tidak berpikir sepak bola adil untuk kami malam ini," tutur Enrique.
Tidak ada gol tercipta sebelum Andrej Kramaric merobek gawang David De Gea di menit ke-54. Setelahnya, intensitas permainan semakin meninggi dan saling berbalas gol pun tidak terhindarkan. Gelandang Spanyol Dani Ceballos membuat skor imbang 1-1 hanya berselang dua menit dari gol pembuka.
Bek sayap Kroasia Tin Jedvaj membawa Kroasia kembali unggul dengan sundulan kepalanya di menit ke-69. Namun, Spanyol lagi-lagi menyamakan skor berkat penalti Sergio Ramos sembilan menit kemudian.
Tapi perlawanan Spanyol harus pupus di masa perpanjangan waktu, Jedvaj yang berlari dari belakang berhasil menyambut bola muntah yang ditepis De Gea sekaligus menutup pertandingan menjadi 3-2.
"Babak kedua yang luar biasa ditunjukkan kedua tim. Ini menunjukkan grup ini sangatlah sulit. Kamj tak berharap dengan dua kekalahan ini, tapi kami masih memiliki peluang jika di laga terakhir Kroasia dan Inggris berakhie seri. Kami akan lolos," imbuhnya. (footballespana/OL-2)
Lamine Yamal mencetak gol spektakuler yang membawa Barcelona menang 1-0 atas Athletic Bilbao. Kemenangan ini membuat Barca menjauh empat poin dari Real Madrid di puncak La Liga.
Athletic Bilbao takluk dari Barcelona lewat gol Lamine Yamal. Ernesto Valverde sebut timnya layak dapat poin dan puji reaksi kompetitif pemain.
Barcelona kokohkan posisi di puncak klasemen La Liga setelah kalahkan Athletic Club. Gol tunggal Lamine Yamal jadi pembeda di San Mames.
Keduanya cedera setelah pertandingan sengit leg kedua Piala Raja (Copa del Rey) Barcelona vs Atletico Madrid pada Rabu.
Barcelona menang 3-0 atas Atletico Madrid di Camp Nou, namun gagal ke final Piala Raja karena kalah agregat 3-4. Simak analisis Hansi Flick di sini.
Barcelona nyaris melakukan remontada ajaib di Copa del Rey. Meski menang 3-0 atas Atletico Madrid, Blaugrana gagal melaju ke final karena kalah agregat.
Di usia 33 tahun, delapan bulan, dan 30 hari, Lucy Bronze adalah pemain tertua timnas Inggris di Piala Eropa Putri 2025 dan bermain 598 menit sepanjang Piala Eropa Putri.
Kemenangan di Piala Eropa Putri ini menegaskan dominasi timnas Inggris di kancah sepak bola putri Eropa, sekaligus menambah koleksi gelar mereka menjadi dua kali berturut-turut.
Kemenangan ini menandai sejarah bagi timnas Inggris sebagai tim kedua setelah Jerman yang mampu menjuarai Piala Eropa Putri secara beruntun (2022 dan 2025).
Gol Aitana Bonmati di babak tambahan waktu mengantarkan timnas Spanyol meraih kemenangan 1-0 atas timnas Jerman di semifinal Piala Eropa Putri 2025, Kamis (24/7) dini hari WIB.
Chloe Kelly mencetak gol penentu kemenangan timnas Inggris pada menit ke-119, menyambar bola muntah hanya setelah kiper Italia Laura Giuliani berhasil menyelamatkan tendangan penaltinya.
Kiper timnas Jerman Ann-Katrin Berger menahan dua eksekusi penalti pemain timnas Prancis saat babak adu penalti perempat final Piala Eropa Putri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved