Sajak-sajak Esther de Caceres

Ilustrasi: Syahnagra Ismaill

Hening

Burung-burung 
dari lembah hening berkidung. 
Tentang cinta dan derita, bersiul. 
Dari penjara dan pusaran 
mata angin, bersenandung. 
Di antara cemara-cemara kering, 
berkicau. 
Namun seekor burung kesepian 
mengepak sayap lewati cincin api, 
terbang tinggi sendirian, ia bahagia 
menembus nirwana dan jiwa pun 
bermazmur. 


Kidung Bunga 

Dari pucuk hari yang cerah 
bunga-bunga tersembunyi memanggilku. 
"Demi cinta, aku dapat mendengarmu!" 
Mereka mengingatkanku akan jiwamu, 
sayangnya, hanya diketahui malaikat! 

Pada kelopak-kelopak 
yang tersembunyi 
mereka bernyanyi! 

Kita tahu bunga-bunga, 
perihal jenis-jenisnya 
hampir tak diperhatikan 
paras wajah dan jiwamu 
paras wajah dan jiwaku. 

Dari sudut hari yang cerah 
bunga-bunga tersembunyi memanggilku. 


Hasrat 

Sebatang cemara terbiasa tumbuh 
di antara deretan cemara-cemara tua, 
ditanam oleh tanganku sendiri, 
tampak pucuknya berembun 
dalam wajah yang kau sayangi 
sedang deretan cemara-cemara tua 
menopang awan agar berarak tenang. 

Musik kematian berkali-kali 
terdengar di tubuhmu dan tubuhku. 
Bergulir bayanganmu dan bayanganku. 
Bergelora di ambang batas cinta dan malam... 

Musik kematian senandungkan hampa; 
terhempas di antara reranting cemara: 
mengabarkan kematianmu, 
mengingatkan kenanganmu 
siang begitu panjang, lika-liku cinta merdu 
bagi kau dan aku sebagai dua mawar,
yang bercahaya dan berkilau gemerlap 
membentang bagai batang emas panjang! 
       
Kita terbalut embun 
yang bersumber dari musim semi!
Kau dan aku sengaja 
membiarkan hari gelap-gulita 
dan patung-patung pun kedinginan! 
Udara menembus telinga hingga ke lira! 
Membuat jiwa-jiwa hanya bertumpu 
pada patal cemara yang menjulang tinggi! 

Cinta, kau sirna kini di kelopak mawar 
begitu sedih, pilu, dan koyak.
Ruang hampa bagai luka terbuka, 
mengalir ke sel darahmu sebagai bunga terakhir kehidupan.
Menempel ke pipiku laksana sekuntung mawar tanpa duri 
dan mendatangkan hasrat meski kehidupannya terluka. 
Cinta, berbunga senantiasa penuh kelembutan, 
menahan dan membebaskanku 
di saat malam terasa begitu dingin, 
dan jurang kekelaman kian dekat. 

Kita sekali lagi seperti dua mawar,
satunya lebih ramping sebagai sumber 
cinta abadi. Memaksa kita melarikan diri 
dari kematian di antara malam-malam angker.
Aku masih bernyanyi menanti aurora muncul lagi! 

 

Luka menganga sebagai bunga terakhir kehidupan. 

 

Tangan Cinta 

Seberapa dekat, seberapa jauh, 
tanganmu dan tanganku menyatu! 
Aku menjadi gila membiarkan 
cinta di telapak tanganmu terlanjur 
masuk ke tangan yang terborgol 
dan terpisah menjadi dua ruas. 

Tanganmu, tanganku melekat erat, 
seperti bunga bersatu dengan batangnya,
tanganmu, tanganku terikat bersama-sama! 
Aku ingin merasakan cinta dalam darahmu 
dililiti akar-akar agar kita hidup bersama! 

Aduh! Kedua tangan terpisah 
cahaya memantulkan sinarnya 
seperti milikmu; angker, lembut, 
dan tembus pandang! 

Sepanjang malam, tanganmu 
berubah menjadi sekuncup mawar, 
merasuki mimpi dan membutakan mataku 
sebuah mimpi, tentang tangan cinta  
aku diam seribu kata. 


Magnolia 

Bawakan aku kelopak magnolia yang harum 
dengan apa saja untuk menemani waktu tidurku, 
biar cinta lebih kuat menerangi bayangan. 
Di gereja, di telapak tangan, dan di antara pohon eboni 
saat kelopak mata telah beristirahat tenang. 
Jangan terganggu oleh suara denyut nadiku, 
rintihan kayu api, dan musik yang senyap. 
Sampai saat aku menatapmu dengan 
mata sendiri di atas salib yang reot 
dan luka tak berdarah ditemukan di sekujur tubuh. 
"Ini panah tersembunyi di semak-semak musim panas, 
saat malam pekat, kita menimba air murni di danau." 

Makhluk-makhluk mengerang dalam hening. 
Lewat dialog api aku mencium harummu 
dari kejauhan, putih parasmu tanpa ekspresi. 
Dari jauh mereka menjawab kita, 
udara malam di kebun-kebun dan hutan-hutan rindang. 
Aku datang kepadamu; aku mencarimu
luka misterius hanya aku yang tahu. 

Semua tulangku bernyanyi, 
terjaga namun terluka,
lagu-lagu didengarkan, 
tanpa lirik, di tempat berteduh. 
       
Kau mendekap; meredam cahaya dalam kehausan. 
Membawaku lebih dekat ke dalam hasratmu 
begitu segar dan lembut kelopak matamu. 
Mendekatlah kepadaku, magnolia! 


Karena Mereka Membawakanku Impianmu 

Karena mereka membawakanku impianmu 
aku hanya mencintai langit malam 
dan pohon-pohon saja. 
       
Aku juga mencintai laut saat pagi mekar 
dan perahu yang mengapung di tepian, 
sebab di situlah aku menemukan
kenangan indah tentangmu! 

Tanpa langit malam 
juga lautan fajar 
aku menemukanmu! 

Tanpa menatap gambar 
aku bisa mendapatimu! 

Sebab kini aku mencintaimu 
meski dalam kesendirian ini 
tak ada lagi kenangan. 

 

Baca juga: Sajak-sajak Amalia Raras
Baca juga: Taman Api Penyair Peru Blanca Varela
Baca juga: Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia

 

 

 

 

 


Esther de Caceres, penyair dan penulis Uruguai, lahir di Montevideo, 4 September 1903 dan wafat di Montevideo, 3 Februari 1971. Dia lulus dari Fakultas Kedokteran, University de Montevideo, pada 1929. Lalu, mengganti profesinya dengan belajar dan mengajar Ilmu Sastra Spanyol di almamaternya hingga meraih gelar profesor. Dia melahirkan sejumlah buku kumpulan puisi, yaitu Las molibnsulas extra spongas (1929), Libro de soledad (1933), Concierto de amor (1944), Madrigales, Trans, saetas (1947), Tiempo y abismo (1965), dan Canto desierto (1969). Buku terakhir adalah karya yang paling menonjol dan mendapatkan apresiasi internasional. Dia pernah mewakili negaranya dalam berbagai acara intelektual di Amerika Latin dan memenangkan Hadiah Sastra Nasional di Uruguai pada 1933, 1934, dan 1941. Dia meninggal pada 1971. Puisi-puisi di Sajak Kofe - Media Indonesia diterjemahkan oleh Iwan Jaconiah, penyair dan editor puisi Media Indonesia, berdasarkan karya-karya terbaik Caceres. Foto: MI/Arsip Academia Nacional de Letras, Uruguai. (SK-1)