Sajak-sajak Tegar Ryadi 

Di Sini Kami Menanam, Di Sana Ia Tumbuh 
: kepada koperasi petani kopi Solok Radjo 

Sedari kecil, kami 
sudah ditunjuk-ajari 
cara menanam, dari menyemai benih itu dan ini 
hingga menabur doa sepanjang hari. 

Sampai besar begini, 
kami pun tetap terus menanam sampai mati 
kentang, lobak, bawang, padi, dan banyak lainnya lagi 
namun, terakhirnya pun juga menanam kopi. 

Ketika kopi kami tanam di sini 
malah juga tumbuh di sana 
selalu saja orang-orang di sana 
membincangkan kami di sini. 

Padahal, kami hanya menanam kopi 
dengan kasih dan doa sepanjang hari 
sebagaimana diajar-tunjukkan sedari kecil 
oleh orang tua kami. 

2022 

 

Baca juga: Penyair Riau Raih Lomba Cipta Puisi Kopi

Baca juga: Bayar Kopi dengan Puisi

 

Buruh Kota dan Kafe Di Mana-mana 

Sebagai buruh kota; 
libur adalah simpanan dalam dompet using 
ditabung demi sedikit, guna membeli luang 
mungkin, esok bisa saja bakal waktu menganggur 
sebab kerja ─ habis kontrak langsung tergusur. 

Tapi kini, kemari aku datang 
bukan untuk berlibur 
hanya mencicil sunyi di simpang siur. 
Menjadi buruh kota; 

cuti serupa bergelayutan di tali satu 
ke jantung lain ─ mungkin, esok setelah pulang

bisa saja tidur lebih dulu rebah, ketimbang
badan diri di pembaringan. 

Tapi kini, kemari aku singgah
bukan untuk memagut cuti yang terpaut
melainkan menghanyutkan rindu bila patut.
karena aku seorang buruh;

Kota telah lama merupa debu menempel pada tubuh! 
hingga kemari aku tiba, ingin melembah pada diri
mengarung sungai angan sampai cita, menyisir pantai garis jiwa
tersapu ombak, lalu kembali ke kehidupan yang tepi.

“Bolehkah kupesan segelas loki V-60, saja?”
agar ikut mereguk, biar kulihat 
beragam orang di macam tempat 
dari sudut dalam paling tepi, kafe ini dan itu. 

Sebagaimana cuti dan libur
tak lagi, bagi buruh kota, sepertiku! 

2022 


Risalah Kambing Ngku Khaldi 

Mbek... mbek... mbek... 
jauh sebelum orang-orang kampung di sini 
membincangkan; bagaimana kopi menjadi komoditi? 
tanpa berkuras energi. 

Berpanen pitih hingga mati
setiap malam sampai pagi, di kedai kopi Siti. 
Jauh sebelum orang-orang kota di sana
membincangkan; laba kopi, setiap mereka
tanpa ikut membangun swadaya pascanirlaba 
ketika senja, di coffee shop tante Maria. 

Kambing-kambing Ngku Khaldi
telah lebih dulu pandai mengembik sampai pagi,
dengan mata yang menyalang 
mereka membincangkan, berdebat suatu gerangan; 

“Mungkinkah Ngku Khaldi akan mimpi basah
malam ini?”

Tanya satu kambing sambil terus mengunyah,
ceri kopi milik Ngku Khaldi yang jatuh ke tanah.

“Ngku Khaldi sudah tua semenjak ditinggal istrinya,
mana mungkin ia mampu bermimpi basah!”
mmbbbeeeekkkk....
kambing lain menyela, resah! 

2022 

 

Baca juga: Perbudakan Modern Tohok Kemanusiaan

Baca juga: Sajak-sajak Maria Regine


Melepas Kedatangan Barista 

Mengenal kopi, mengenali diri 
ke mana lagi, sepoi angin sanggup mengirai 
gemuruh rambutmu, ia seakan akar yang terus merambat 
mencari haus hara, keluar dari dalam kepala; 
tentang hidup, bukanlah tanpa mengerti apa-apa? 
di mana lagi, akan kau basuh rambut itu 
pacak air yang menyesap dahaga 

Pertanyaan-pertanyaan diri, tentang siapa saya; 
sebelumnya, bukankah kau seorang barista? 
apa lagi, yang masih membuatmu bimbang 
sebagai barista, soal menyeduh nasib bercampur takdir 
jadi minuman; latte, cappucino, piccolo, macchiato dan espresso;
bukankah semuanya itu adalah pilihan? 
kemarilah! 

Selamat pergi, kami melepasmu untuk datang!
di sini terkabar, tanaman kopi telah tumbuh
jauh sesudah Gunung Merapi kami sebesar telur itik.
Entah itu robusta atau arabika, kaum kami hanya
pandai benar menyajikannya seperti minum teh 
sebelum Belanda datang mencemeeh:
            God verdomd zeg... 
                       
 Melayu kopi daun! 

2022 


Tiada Yang Paling Kutunggu 

Tiada yang paling kutunggu 
selain memetik kuncup kopi 
setelah hari basah lalu bersemi,
pada musim di mana petitih lama kakek; 

seorang petani perlu berkalang kaki 
jika satu tertanam di ladang hampar,
sebelahnya, mesti diikat pada pekan-pekan hingar.

Menjadi-jadi ketika batang kopi liar di ladang kami
buahnya telah lama sungkan melekat lagi. 
Ngeri! Tak semunafik tapi 
seperti apa yang disampaikan kakek 
kepada tuan-tuan Belanda, dulu; 

Jika tuan meminta kami menanam segini
maka akan kami tanam banyak dari segitu.
Tapi jika tuan menyuruh kami, menumpuknya
sebanyak mungkin di pakhuis, tuan punya.
maaf! 

Sampai saat itu, maka segeralah aku ke dapur 
mengulum hari bersama tungku-tungku, yang tak bersilang api. 
Kayu-kayu telah lama lembab karena embun pagi. 

Selepas kakek pergi 
tiada yang paling kutunggu, lagi 
selain memetik kuncup kopi bersemi 
sendiri! 

2022 

 

Baca juga: Tak Ada Sesuatu yang Baru di Bawah Matahari

Baca juga: Sajak-sajak Shabrina Adliah

 

 

 

 

Tegar Ryadi, lahir di Duri, Sumatra Barat, pada 16 Juni 1998. Ia adalah peraih juara ke-3 Lomba Cipta Puisi dalam rangka Festival PeSoNa Kopi Agroforestry 2022 yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI bekerjasama dengan Media Indonesia. Kini, tercatat sebagai mahasiswa jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Ilustrasi MI/Tiyok