Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Prabowo Gelar Retret Kabinet di Hambalang, Pengamat: Tak Berdampak pada Kinerja Menteri

Mohamad Farhan Zhuhri
06/1/2026 19:38
Prabowo Gelar Retret Kabinet di Hambalang, Pengamat: Tak Berdampak pada Kinerja Menteri
PENGAMAT politik Ray Rangkuti.(Dok. Antara)

PENGAMAT politik Ray Rangkuti menilai retret Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto tidak memiliki urgensi yang kuat dalam memperbaiki kinerja pemerintahan. Ia menyebut substansi kegiatan retret kabinet di Hambalang tersebut cenderung minim, bahkan nyaris tidak berdampak pada peningkatan soliditas dan efektivitas kerja para menteri.

“Substansi dan urgensinya, menurut hemat saya, kecil. Kalau tidak disebut tidak ada,” ujar Ray saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (6/1) 

Ia menilai hasil retret kabinet sebelumnya tidak menunjukkan perubahan berarti pada perilaku kerja jajaran menteri. Alih-alih menjadi lebih gesit, fokus, disiplin, dan seirama, yang tampak justru kecenderungan sebaliknya.

"Yang terjadi, umumnya, malah yang sebaliknya. Menteri lelet, tidak fokus, banyak yang jalan sendiri, bahkan punya kecenderungan beda cara dengan presiden,” tegasnya. 

Sejumlah kasus, menurut dia, memperlihatkan gejala tersebut secara terang. Kondisi itu makin kentara saat pemerintah menghadapi bencana banjir bandang di Sumatra.

"Reaksi menteri lambat, masih mencari kesempatan untuk pencitraan, beda pandangan dan sebagainya,” ujarnya.

Ia menegaskan persoalan utama kabinet bukan terletak pada ada atau tidaknya retret. Fokus sesungguhnya, kata Ray, berada pada kapasitas presiden dalam mengorkestrasi perbedaan dan mengoptimalkan peran para menteri. 

“Pokok soalnya, saya kira, bukan pada retret. Tapi pada presiden sendiri. Sejauh apa presiden mengorkestrasi perbedaan menterinya dan mengoptimalisasi peran mereka,” kata Ray.

Menurut Ray, jika presiden tidak fokus, cenderung tertutup, hanya bisa diakses oleh segelintir orang, serta kerap mengubah kebijakan secara cepat dari satu arah ke arah lain, maka tujuan retret akan sulit dicapai. 

"Jika presiden sendiri tidak fokus, tertutup, dan cepat berubah kebijakan dari sana ke sini, maka tujuan-tujuan retret ini akan tetap sulit digapai,” ujarnya.

Karena itu, Ray menyimpulkan retret kabinet berpotensi hanya menjadi kegiatan simbolik tanpa dampak nyata. Dengan nada satir, ia menyebut manfaatnya mungkin sebatas nostalgia. 

"Maka dan oleh karena itu, retret ini mungkin hanya berguna untuk menghapuskan rasa kangen tidur di tenda. Seperti pernah diungkap Pak Prabowo. Setelah setahun akan ada rasa kangen tidur di tenda,” pungkasnya. (H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik