Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Pemberian Gelar Pahlawan kepada Soeharto Perlu Dilihat dengan Bijak dan Objektif

Rahmatul Fajri
10/11/2025 21:13
Pemberian Gelar Pahlawan kepada Soeharto Perlu Dilihat dengan Bijak dan Objektif
Ilustrasi(ANTARA/Fathur Rochman)

PENGASUH Pondok Pesantren Darus Syifa YASPIDA Sukabumi, Kyai E.S. Mubarok merespons pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia. Ia mengingatkan pentingnya menilai sejarah secara bijak dan objektif dalam menyikapi pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto. 

“Tidak ada pemimpin yang sempurna, tapi keikhlasan dan pengabdian Soeharto terhadap bangsa adalah fakta sejarah yang tidak bisa dihapus. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pemimpinnya,” kata Mubarok melalui keterangannya, Senin (10/11).

Soeharto sebagai sosok pemimpin berdedikasi tinggi yang telah memberikan kontribusi besar bagi pembangunan bangsa, memperkuat kehidupan umat Islam, serta menjaga stabilitas nasional yang hasilnya masih dirasakan hingga kini.

“Pak Harto layak diberi gelar Pahlawan Nasional. Karena saya pribadi merasakan betul hasil pembangunan yang beliau lakukan. Swasembada pangan di masa beliau nyata terasa, harga-harga terjangkau, dan rakyat bisa hidup dengan tenang. Kalau pun ada yang tidak sependapat, itu hal yang wajar dalam kehidupan berbangsa, tapi jasa beliau tetap harus dihormati,” ujarnya.

Menurutnya, Soeharto tidak hanya memimpin dari aspek politik dan ekonomi, tetapi juga memberikan ruang luas bagi perkembangan dakwah Islam, pesantren, dan lembaga pendidikan keagamaan.

“Beliau memahami bahwa kekuatan bangsa ini bukan hanya pada pembangunan fisik, tapi juga pada kekuatan iman dan akhlak masyarakatnya,” jelasnya.

Mubarok menambahkan, nilai-nilai kepemimpinan Soeharto sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kemaslahatan umat.

“Menjaga negara itu bagian dari ajaran Islam. Soeharto telah melaksanakan hal itu dengan kesungguhan dan pengabdian yang panjang. Beliau pemimpin yang memadukan nasionalisme dan nilai-nilai Islam dalam praktik pemerintahan,” ungkapnya.

Mubarok mengajak para santri dan generasi muda Nahdliyyin untuk meneladani semangat kerja keras dan disiplin Soeharto dalam membangun negeri.

“Pemimpin yang mengabdi untuk rakyat dan menjaga keutuhan umat layak disebut pahlawan. Penghargaan ini bukan sekadar gelar, tapi bentuk penghormatan terhadap pengabdian yang nyata,” tutupnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya