Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Pakar Nilai Ledakan SMAN 72 Jakarta di Luar Prediksi Intelijen, Bentuk Bom Mirip Aksi Teror Lama

Devi Harahap
07/11/2025 18:25
Pakar Nilai Ledakan SMAN 72 Jakarta di Luar Prediksi Intelijen, Bentuk Bom Mirip Aksi Teror Lama
ilustrasi.(MI)

PENGAMAT terorisme Universitas Indonesia, Ridwan Habib menilai ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta merupakan peristiwa yang sangat mengejutkan dan di luar prediksi intelijen.

“Ini satu hal yang sungguh mengejutkan karena hampir selama tiga tahun sejak 2022 Indonesia relatif tidak ada serangan teror dalam bentuk pengeboman,” kata Ridwan saat dalam keterangannya, Jumat (7/11).

Ia menyebut kejadian tersebut sebagai “angsa hitam”, yakni situasi tak terduga yang muncul setelah Indonesia relatif aman dari aksi pengeboman selama tiga tahun terakhir.

“Baru kali ini terjadi lagi satu kejadian ledakan yang diduga bom teror. Ini menunjukkan situasi ‘angsa hitam’ yang tidak terduga dan di luar prediksi intelijen,” ujarnya.

Selain itu, Ridwan menduga dari analisis awalnya, bentuk bom yang digunakan dalam peristiwa ledakan itu memiliki kemiripan dengan sejumlah serangan teror sebelumnya di Indonesia.

“Kalau dari sisi bentuk bom, memang ini mirip sekali dengan yang sudah terjadi di Indonesia sebelumnya,” jelasnya.

Ridwan menyebut bom jenis tersebut umumnya merupakan bom rakitan kecil yang dikemas secara kompak dan mudah dibawa.

“Biasanya menggunakan bom kecil atau bom rakitan yang dikemas dalam bentuk kompak seperti bom ransel, bom tabung, atau bom termos,” ucapnya.

Namun, Ridwan menyoroti adanya perbedaan signifikan dari sisi target serangan. Menurutnya, peristiwa ini merupakan kali pertama ledakan yang diduga terkait aksi teror terjadi di kawasan sekolah menengah.

“Dari sisi target, ini yang berubah. Baru pertama kali terjadi di sebuah SMA. Tetapi kalau bentuk bomnya mirip dengan kejadian-kejadian sebelumnya, maka dari sisi target ini sesuatu yang baru,” tukasnya.

Lebih lanjut, Ridwan menekankan bahwa analisis tersebut masih bersifat awal dan perlu menunggu konfirmasi resmi dari aparat penegak hukum, termasuk Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri.

“Secara resmi tentu kita harus menunggu penjelasan dari aparat kepolisian. Tetapi berdasarkan informasi yang masuk ke kalangan peneliti kontra-terorisme, dugaan sementara memang ini aksi teror,” tuturnya.

Ridwan menambahkan, aparat perlu segera menelusuri apakah aksi ini terkait jaringan teror lama yang masih aktif, atau merupakan munculnya kelompok baru yang beroperasi secara independen.

“Kita tunggu saja apakah ini bagian dari jaringan lama atau justru pelaku-pelaku baru yang melakukan serangan tanpa koordinasi dengan jaringan teroris yang sudah ada,” pungkasnya. (Dev/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya