Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 30 pelajar sekolah menengah asal Jakarta dan sekitarnya mengikuti acara Remaja Bernegara yang digelar oleh Partai NasDem di NasDem Tower, Jakarta, Sabtu (22/2). Kegiatan tersebut diselenggarakan untuk memberikan pemahaman yang kuat kepada generasi Z tentang praktik bernegara dan proses politik di Indonesia.
"Supaya mereka bisa merasakan langsung, tidak hanya dari layar kaca berita saja," kata Ketua Bidang Pemilih Muda dan Milenial DPP NasDem Lathifa Marina Al Anshori.
Menurutnya, NasDem ingin mengajarkan para pelajar bagaimana tugas partai memberikan pendidikan politik secara langsung. Sehingga, mereka dapat mengetahui rasanya jadi pejabat dalam sehari. 30 peserta yang mengikuti kegiatan hari ini merupakan kelompok pelajar berusia 13-15 tahun.
Selama 4,5 jam, mereka diberikan pembekalan berupa pengenalan pahlawan serta pendiri bangsa Indonesia yang dipamerkan di galeri NasDem Tower. Para pelajar juga mendapatkan materi seputar teori demokrasi dan sistem ketatanegaraan Tanah Air.
"Lalu ke bagian utama, yaitu simulasi yang terdiri dari tiga bagian. Pertama, simulasi reses atau penyerapan aspirasi masyarakat. Simulasi kedua adalah rapat paripurna dewan, dan yang simulasi ketiga adalah rapat badan musyawarah pimpinan," jelas Lathifa.
Remaja Bernegara hari ini merupakan sesi kedua setelah sesi pertama yang digelar pekan lalu bersamaan dengan acara pembukaan. Setiap sesi diikuti oleh 30 pelajar dengan kelompok usia yang berbeda, yakni 13-15 dan 16-19.
Ketua Dewan Pertimbangan Partai NasDem Siti Nurbaya Bakar menjelaskan, berdasarkan sejumlah penelitian psikologi, remaja adalah kelompok usia yang paling mudah menyerap pembelajaran. Kendati demikian, pihaknya sedang menggodok kegiatan serupa dengan target usia 20-25 tahun.
Lewat acara Remaja Bernegara, sambung Siti, NasDem ingin menunjukkan bahwa salah satu kewajiban sebuah partai telah berjalan, yakni pendidikan politik rakyat. Pihaknya berpendapat, kegiatan politik bukan semata-mata ditunjukkan dengan aksi demonstrasi ataupun bagi-bagi kekuasaan.
"Tetapi yang paling penting juga adalah bagaimana partai politik itu melakukan pendidikan politik rakyat. Di situ juga sebetulnya ukuran dari kekuatan partai politik," ujar Siti. (Tri/P-2)
WAKIL Ketua Umum Partai NasDem, Saan Mustopa menilai munculnya wacana dukungan terhadap Presiden Prabowo Subianto untuk kembali maju pada Pilpres 2029 hal yang wajar.
PARTAI NasDem menanggapi santai langkah PAN yang mendukung Presiden Prabowo Subianto dan Zulkifli Hasan sebagai bakal calon wakil presiden (cawapres) pada Pilpres 2029 mendatang.
Pengurus DPC yang dilantik merupakan representasi dari desa dan kelurahan di kecamatan.
ANGGOTA DPR RI Fraksi Partai NasDem Willy Aditya, menegaskan bahwa literasi dan kemampuan berpikir kritis merupakan fondasi utama dalam membangun ekosistem demokrasi yang sehat.
ANGGOTA Komisi VI DPR dari Fraksi Partai NasDem Asep Wahyuwijaya menilai, peringatan keras Presiden Prabowo atas kondisi tata kelola dan usaha BUMN ke belakang sebagai refleksi kegusaran.
MENJELANG Ramadan, kegelisahan sering muncul tanpa sebab yang jelas. Ada rindu yang tertahan, ada takut yang samar, dan ada rasa bersalah yang lama bersembunyi di dasar hati.
Rahayu Saraswati kini lebih dikenal publik sebagai seorang politisi dan aktivis, khususnya setelah kiprahnya di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
I Gusti Kompyang Manila (IGK Manila) lahir di Singaraja, Bali, pada 8 Juli 1942, telah berpulang ke hadirat Tuhan pada 18 Agustus 2025 di Rumah Sakit Bunda, Menteng, Jakarta.
Survei ini mengidentifikasi beberapa profesi di Indonesia yang mencatat tingkat ketidakpercayaan yang relatif tinggi. Profesi apa saja?
SAFENET mencatat jumlah kriminalisasi menggunakan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) per 10 bulan atau dari Januari sampai Oktober ada 128 kasus.
Empat Politikus PDIP itu yakni Yoseph Aryo Adhi Dharmo, Hasto Kristiyanto, Sadarestuwati, dan Riyan Dediano. KPK menyebut pemeriksaan dengan waktu yang dekat untuk mereka cuma kebetulan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved