Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
FILSUF sekaligus rohaniwan Prof Franz Magnis Suseno menilai terdapat 2 sebab mulai lunturnya keteladanan pejabat publik saat ini yang dialami kasus Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri, hingga kasus pelanggaran kode etik dan tindakan asusila Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Hasyim Asy'ari.
"Saya kira ada 2 sebab lunturnya keteladanan pejabat negara. Pertama, para politisi atau pejabat publik tidak lagi merasa terikat suatu etika pertanggungjawaban demokratis. Jadi ada semacam kebutaan terhadap etika tanggung jawab terhadap masyarakat," kata Romo Magnis saat dihubungi, Senin (8/7).
Para pejabat publik itu memiliki kuasa yang dipakai tujuan baik tetapi dari sudut etika memiliki kebutaan. Alasan kedua yakni kelemahan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) karena tidak pernah mendengar suara kritis dari dewan legislatif yang seharusnya mewakili rakyat. Misalnya dalam tahun jelang pemilu banyak kritik yang dilontarkan untuk membela masyarakat.
Baca juga : KPU Tunggu Keppres Pemberhentian Hasyim untuk Tentukan Ketua Definitif
Sementara belakangan tak pernah ada suara dan itu menurutnya memalukan sekali karena begitu saja mendukung pemerintah padahal seharusnya mewakili rakyat.
"Barangkali itu karena yang bisa duduk di kursi legislatif hanya orang super kaya. Jadi katanya dibutuhkan sekurang-kurangnya Rp5 miliar atau orang yang diwakili punya sponsor yang super kaya dan mereka lalu praktis juga masuk ke partai politik yang lemah secara ideologi," ujarnya.
Mereka juga dinilai tidak punya identitas pada nilai-nilai tertentu apalagi partai yang mewakili rakyat kecil hanya memenuhi tokoh pemimpin partai mereka.
"Saya kira itu yang menjadi alasan mereka pokoknya pemimpin partai itu mendukung ke arah mana tidak jelas," pungkasnya. (Iam/Z-7)
Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor H. Addin Jauharudin mengungkapkan Posko Jaga Aspirasi Jaga Indonesia ini menjadi komitmen Ansor dalam mengawal aspirasi masyarakat untuk menjaga Indonesia.
DI tengah harga pangan yang mencekik, biaya kesehatan yang membuat keluarga rapuh semakin jatuh miskin, serta pasar kerja yang seret, publik dipaksa menelan ironi yang sama setiap hari.
Sebagai wakil rakyat, mereka semestinya menanggapi aspirasi masyarakat dengan bahasa dan sikap yang santun
Pejabat publik idealnya memaknai demokrasi dengan dialog dinamis, bukan hanya respons pasif pada tekanan massa.
Setiap tahun, deretan pejabat publik terjerat kasus hukum. Sistem hukum dan birokrasi sering kali gagal membedakan antara kesalahan administratif dan kejahatan yang disengaja.
Kasus demi kasus menimpa para pejabat publik, dari tingkat pusat hingga daerah. Bahkan mereka yang dikenal berintegritas dan punya niat baik pun bisa terjerat perkara hukum.
Indonesia, dengan sejarah panjang perjuangannya, telah melahirkan berbagai organisasi Islam yang berkontribusi besar dalam kemajuan bangsa.
Perempuan kelahiran 30 April 1979 di Samarinda itu merupakan anggota KPU Kalimantan Timur periode 2019-2024.
Mochammad Afifuddin tetap menjadi ketua definitif setelah DPR mengesahkan Iffa Rosita sebagai anggota pengganti Hasyim Asy'ari.
Ketua Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia Tandjung berharap pihaknya dan KPU bisa bekerja sama untuk kebijakan-kebijakan strategis terkait pemilu ke depan.
JPPR mendorong pengisian kekosongan keanggotaan KPU lewat proses PAW itu harus dipercepat.
Calon kandidat penggantian antarwaktu (PAW) komisioner KPU RI periode 2022-2027 didasarkan pada hasil fit and proper test di Komisi II DPR RI pada 2022.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved