Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
MASYARAKAT sipil yang terdiri dari Front Penyelamat Reformasi Indonesia menginginkan agar Presiden Joko Widodo berhenti melakukan cawe-cawe di kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024. Mereka juga menginginkan agar presiden berhenti melanjutkan praktik nepotisme di pilkada.
Pengamat politik dan kebijakan publik Ray Rangkuti mengajak masyarakat untuk bersatu melawan praktik nepotisme dan cara berpolitik presiden yang secara terang-terangan mengangkangi demokrasi di Indonesia.
"Kita harus pertegas kembali, menyatakan supaya aktivis 98 kemarin menolak semua bentuk praktik nepotisme. Apalagi nepotisme yang dilakukan oleh pak jokowi. Itu menurut saya nepotisme bar-bar," ucap Ray usai diskusi Membongkar Korupsi, Kolusi dan Nepotisme di Jakarta Pusat, Rabu (26/6).
Baca juga : Jelang Pilkada, Rakyat Diminta Sadar dari Hipnotis Politik Populisme ‘ala Jokowi’
"Tidak ada lagi ukurannya, tidak ada lagi penjelasnya. Tidak ada lagi demokrasi. Betul-betul sudah mengangkangi semangat demokrasi, hanya karena satu argumen, 'yang penting dipilih rakyat'. Saya kira kita sedang mengalami situasi yang menjurus kepada nepotisme bar-bar. Karena itu harus kita lawan dengan segala cara," tambah Ray.
Ray melihat keresahan soal korupsi, kolusi dan nepotisme juga menjalar ke masyarakat dengan luas. Mulai indeks kepercayaan masyarakat terhadap KPK hingga institusi penegakan hukum tertinggi seperti Mahkamah Konstitusi juga makin merosot.
"Artinya diam-diam semua orang merekam semua yang terjadi. Masyarakat merasakan semua ikon dari demokrasi kita sedang merosot. Itu dirasakan sendiri oleh mereka yang ada di dalamnya, KPK, MK, yang cuma membuat situasi ini agak tertahan, karena bansos masih terus dijalankan presiden," ungkap Ray.
Baca juga : Dinasti Politik dan Nepotisme Jokowi Bertentangan dengan Kedaulatan Rakyat
Di sisi lain pakar ekonomi Anthony Budiawan turut mengaku resah dengan kondisi Indonesia akhir-akhir ini. Dia melihat perlu ada perubahan mendasar dan struktural agar masa depan peradaban Indonesia dapat diselamatkan.
"Pergantian kepemimpinan itu sekarang tidak bisa dilakukan seperti sekarang. Harus ada perubahan total, struktural dan mendasar. Kategori itu adalah perubahan revolusioner. Kalau kita lihat pemimpin saat ini hanya mementingkan kekuasaan, kekuasaan identik dengan kekayaan, inilah yang sehingga penindasan terhadap rakyat ini berlarut-larut dan terjadi penindasan yang sekarang kita lihat," kata Anthony.
Dia berharap seluruh lapisan masyarakat dapat bergerak lebih masif untuk menyuarakan adanya perubahan secara total.
"Perubahan ini jangan hanya prosedural, ada pemilu, dll. Itu prosedural saja," tambahnya.
"Kita tahu cawe-cawe Jokowi ini sudah sampai ke semua sendi. Tidak hanya pilpres, tetapi juga pilkada dst. Ini semua harus dihentikan," pungkasnya. (Dis/Z-7)
KPU proses penyusunan peraturan teknis penyelenggaraan pemilu atau legal drafting akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan dilakukan secara terbuka.
Koalisi masyarakat sipil mendesak Presiden Prabowo Subianto menarik militer dari wilayah dan urusan sipil, dengan mengembalikan TNI dalam fungsi konstitusionalnya.
Wamenkum Sebut RUU KUHAP Berasal dari Usulan Masyarakat
KANTOR Kontras di Jalan Kramat II, Kwitang, Jakarta Pusat didatangi tiga orang tidak dikenal pada Minggu (16/3) dini hari, sekitar pukul 00.16 WIB
KETUA Komisi I DPR RI Utut Adianto menyikapi adanya kritik dan aksi protes yang disampaikan Koalisi Masyarakat Sipil, khususnya KontraS terhadap revisi UU TNI.
PENURUNAN skor dan peringkat Indonesia dalam indeks demokrasi 2024 yang dirilis Economist Intelligence Unit (EIU) menunjukkan adanya proses otoritarianisasi.
Perludem menilai rencana DPR membahas terpisah revisi Undang-Undang Pemilu dan Undang-Undang Pilkada kemunduran demokrasi.
Pilkada langsung adalah bagian integral dari kedaulatan rakyat yang telah menjadi praktik konstitusional mapan pasca-amandemen UUD 1945.
MANTAN Wakil Presiden Jusuf Kalla, Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo hadir dalam pengukuhan guru besar,Prof. Zainal Arifin Mochtar dan pidatonya soal demokrasi
Jamaluddin membacakan bahwa hak kedaulatan rakyat dalam menentukan pemimpin di daerah tidak boleh diganggu gugat demi menjaga legitimasi pemerintahan.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, dan Gubernur Aceh Muzakir Manaf dinilai bisa tersingkir.
Pilkada langsung selama ini menjadi instrumen penting dalam memperkuat partisipasi publik dan memastikan keterlibatan rakyat dalam menentukan kepemimpinan di daerah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved