Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITI BRIN Aisah Putri menilai film Dirty Vote punya peran penting sebagai bagian dari pendidikan politik untuk masyarakat. Menurutnya, materi yang disampaikan oleh tiga pakar hukum tata negara yakni Bivitri Susanti, Zaenal Arifin Mochtar dan Feri Amsari dalam film itu tentang politik kuasa dan demokrasi sesungguhnya telah banyak dibicarakan dalam ruang akademik dan seminar-seminar dalam beberapa bulan terakhir.
"Kemudian Dirty Vote merangkainya dalam kemasan film yang bisa menjangkau publik secara lebih luas," terang sosok yang akrab disapa Puput itu, Senin (12/2).
Puput menegaskan paparan dalam film itu melebihi dari sekadar politik elektoral. Justru film itu hendak menggambarkan kondisi terkini demokrasi Indonesia yang patut diketahui masyarakat luas.
Baca juga : 1 Juta Penonton dalam 8 Jam, 'Dirty Vote' Telanjangi Kecurangan Pilpres 2024
"Apa yang dipaparkan di dalam film ini sangat penting terkait pada isu yang lebih luas dari sekedar kandidasi pilpres, yakni problem regresi demokrasi indonesia yang terancam semakin terpuruk. Jadi jangan kemudian diperkecil lingkupnya pada sekedar politik partisan. Publik patut mendapatkan pemahaman lebih lanjut tentang kondisi politik dan demokrasi Indonesia saat ini," terusnya.
Puput menegaskan Indonesia sebagai negara demokrasi patut membuka ruang-ruang diskusi politik, termasuk tentang apa yang disampaikan di dalam film ini. Publik yang melihat film ini yang berhak menilai kontennya dan menjadikannya sebagai pembelajaran politik mereka.
"Film ini bisa jadi starting point untuk diskusi lebih lanjut, seperti yang umumnya berlangsung di ruang demokrasi," sebutnya.
Baca juga : Peneliti BRIN: Wacana Pemilu Hanya Satu Putaran Membajak Demokrasi
Film itu memang menyangkut banyak pihak yang terkait dengan Pemilu 2024. Oleh sebab itu, ada pula pihak yang tidak setuju dengan narasi film Dirty Vote.
"Jika tidak sepakat dengan kontennya maka bisa dihadirkan informasi atau data pembandingnya, diskusi berjalan dan biarkan kemudian publik mengetahui yang sebenarnya berlangsung dan semakin cerdas berbasis data dan informasi. Tidak lantas apa-apa kemudian dibawa ke ranah hukum sebagai fitnah atau pencemaran nama baik," ujarnya.
Baca juga : Hanura Siapkan Strategi Jitu untuk Antisipasi Kecurangan Pemilu
Sementara itu, pengamat politik Citra Institute, Yusak Farchan mengatakan, sikap kritis para akademisi, pegiat demokrasi, harus terus berlanjut, sebagai bentuk kritik moral kepada pemerintah. “Mestinya sebelum atau pasca pemilu teman-teman akademisi harus berdiri tegak untuk melakukan kritik moral pada pemerintah,“ kata Yusak.
Kritik dari mereka adalah untuk menjaga marwah demokrasi. Bentuk kritik dari akademisi dan pegiat demokrasi, disuarakan bukan hanya dari mimbar kampus, diskusi, tetapi juga lewat film. Misalnya, film Dirty Vote, yang dinarasikan oleh tiga Pakar Hukum Tata Negara.
“Secara umum film Dirty Vote atau gerakan yang disuarakan para akademisi itu kan refleksi kritis, atau kritik moral terhadap penyelenggara kekuasaan, Presiden Jokowi yang dianggap terlalu jauh cawe-cawe politik. Saya setuju bahwa demokrasi hari ini perlu direkonsiliasi untuk kembali ke jalur yang benar,” jelas Yusak.
Baca juga : Politik Dinasti Menang, Demokrasi Terancam
Menurut Yusak, film ini bisa mengedukasi bagi masyarakat, pemilih. “Mereka mendapatkan informasi dari para penjaga gawang demokrasi. Termasuk pakar hukum, akademisi, yang peduli pada kualitas demokrasi yang dianggap menurun,” imbuh Yusak.
Namun dari segi elektoral, Yusak menilai keberadaan film ini tidak akan banyak menaikkan atau menggerus suara paslon tertentu. Sebagian undecided voters sudah mengunci suara mereka, selebihnya rentan dengan ‘serangan darat’.
“Justru yang bisa menaikkan adalah serangan darat, melalui program, bansos. Seminggu ini bansos sangat masif. Serangan udara hanya pada kalangan yang menengah keatas yang bisa berpikir kritis jumlahnya terbatas,” tandas Yusak. (Z-7)
IPK Indonesia 2025 turun ke skor 34. Peneliti Pukat UGM Zaenur Rohman menilai perbaikan penegakan hukum jadi kunci pemberantasan korupsi.
Pakar FH UI Titi Anggraini menyoroti lemahnya transparansi keuangan partai politik Indonesia, menekankan audit eksternal dan pengawasan tegas dibutuhkan.
ANGGOTA DPR RI Fraksi Partai NasDem Willy Aditya, menegaskan bahwa literasi dan kemampuan berpikir kritis merupakan fondasi utama dalam membangun ekosistem demokrasi yang sehat.
Sidang pemeriksaan pendahuluan perkara tersebut digelar Kamis (4/2) dan dipimpin Ketua MK Suhartoyo, didampingi Hakim Konstitusi Daniel Yusmic P. Foekh dan M. Guntur Hamzah.
POLITIK uang atau money politics di Indonesia telah menjadi masalah sistemis yang merusak kualitas demokrasi dan mengancam integritas pemilu.
Penempatan Polri di bawah kementerian berpotensi menimbulkan masalah baru dalam sistem komando dan pengambilan keputusan.
Tahun ini partisipan program antara lain SMKN 18 Jakarta, SMKN 20 Jakarta, SMKN 43 Jakarta, SMKN 51 Jakarta, serta SMA HighScope Indonesia cabang Bali, Denpasar, dan TB Simatupang.
Pemkot Tangerang Selatan merampungkan pembangunan ulang SDN Babakan 01 Setu. Sekolah kini memiliki 24 ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, dan lapangan baru tanpa sistem masuk siang.
Nickel Industries Limited bersama Universitas Hasanuddin menyelenggarakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) bagi mahasiswa penerima beasiswa Nickel Industries asal Morowali.
PERUBAHAN sosial dan teknologi yang melaju cepat telah mengubah wajah pendidikan.
Penguatan proses pembelajaran menjadi inti dari rangkaian Program CSR Bigger Dream Fase 3 yang digagas MMSGI bersama Yayasan Life After Mine Foundation (LINE).
Penguatan proses pembelajaran teknik yang relevan dengan kebutuhan industri menjadi fokus utama ABB Motion melalui inisiatif ABB Motion Goes to Campus.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved