Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Realisasi beragam program yang diusung oleh tiap bakal calon presiden dan wakil presiden bakal dibatasi oleh kemampuan anggaran negara. Janji-janji yang dibuat sebelum pemilihan berlangsung berpotensi tak dapat dilakukan karena sempitnya ruang fiskal.
Hal itu dipertanyakan oleh pendiri Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Fadhil Hasan dalam Sarasehan 100 Ekonom Indef di Jakarta, Rabu (8/11).
“Isu tentang pembiayaan berbagai inisiatif atau program yang akan dilaksanakan (menarik perhatian). Batas ambisi presiden dan wakil presiden adalah pada anggaran,” tuturnya.
“Bagaimana berbagai program dan inisiatif itu akan dilakukan di tengah-tengah sempitnya ruang fiskal kita? karena kalau mau ekspansi, itu harus menambah utang. Padahal ada aspirasi kuat agar kita bisa me-manage utang lebih baik lagi,” sambungnya.
Baca juga : Anies Baswedan Sebut Pertumbuhan Ekonomi Harus Berkeadilan dan Inklusif
Menanggapi hal tersebut, bakal calon presiden Anies Rasyid Baswedan mengatakan, ada sejumlah cara untuk mengatasi persoalan keterbatasan anggaran tersebut. Hal pertama yang paling penting ialah adanya kolaborasi antara pemerintah dan swasta.
Baca juga : Anies Baswedan: 14 Kota Bisa Naik Kelas dalam 5 Tahun ke Depan
Keduanya dapat memainkan peran untuk mendukung berbagai inisiatif maupun program yang digagas pemerintah tanpa membebankan keseluruhan kebutuhan pada uang negara. “Jadi ada harmonisasi antara swasta dan pemerintah,” kata Anies.
Selain itu, untuk mendukung terlaksananya program dan inisiatif yang dijanjikan, pemerintah mesti bisa meningkatkan penerimaan pajak. Hal tersebut dapat dilakukan melalui tax cadaster, yaitu pemanfaatan sistem administrasi informasi detail untuk mengoptimalisasi penerimaan pajak.
Hal tersebut juga dibarengi dengan perluasan basis pajak dan mendorong peningkatan kepatuhan wajib pajak. Anies mengatakan, yang tak kalah penting untuk mendongkrak penerimaan negara ialah melalui industrialisasi sebagai sumber penerimaan.
Sementara dari sisi pengeluaran, lanjut Anies, efisiensi belanja perlu untuk terus dilakukan dan diperkuat. Hal ini menurutnya dapat pula berimplikasi pada Incremental capital-output ratio (ICOR) Indonesia.
“Kemudian hindari duplikasi program. Hari ini duplikasi program ini multiple, selama ini ada, itu akan repot. Ketidaktepatan subsidi, apapun itu dari mulai listrik sampai dengan bantuan sosial,” terang Anies.
Dia menyadari ruang fiskal Indonesia memang terbatas. Namun masalah utama dari utang bukan pada nominalnya, melainkan persentase terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Utang publik yang saat ini berada di kisaran 39% terhadap PDB menurutnya dapat ditekan menjadi 30%.
“Kalau kita bicara tentang utang, maka rasio utang publik kepada PDB kita yang sekarang 39% itu didorong bisa menjadi maksimal 30% dengan cara PDB-nya yang diperbesar, kalau itu besar, otomatis persentasenya akan turun,” pungkas dia. (Z-8)
Hingga akhir tahun 2025, penerimaan pajak baru mencapai 87,6% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025.
Karena coretax berjalan belum sesuai perencanaan awal. Sehingga hal ini justru menyebabkan penerimaan pajak tersendat.
Kebijakan peningkatan belanja pada 2025 sudah berada di jalur yang tepat. Namun, tantangan besar ke depan adalah memastikan efektivitasnya.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bonus atlet SEA Games Thailand senilai Rp480 miliar bersumber dari APBN, bukan uang pribadi Presiden. Peraih emas terima Rp1 miliar.
DEFISIT fiskal Indonesia pada 2025 tercatat melebar melampaui target pemerintah, seiring percepatan belanja negara di penghujung tahun dan lemahnya kinerja penerimaan.
Suahasil menyebut bahwa realisasi PNBP 2025 yang mencapai Rp534,1 triliun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi PNBP 2024 tang mencapai Rp584,4 triliun.
Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist HSBC Pranjul Bhandari menyebut masih ada kemungkinan Bank Indonesia terus memangkas suku bunga.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran 5%.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa hingga kini pemerintah belum mengambil keputusan terkait penyesuaian tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada 2026.
Prospek pemulihan sektor properti diperkirakan semakin positif berkat sejumlah kebijakan fiskal yang digulirkan pemerintah.
Anggota Komisi II DPR RI Ahmad Doli menyoroti dana daerah mengendap sebesar Rp234 triliun di bank.
ANGGOTA DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti, menilai bahwa sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan pembangunan nasional.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved